Moral Hukum Allah, bahan Kuliah Pst Tarpin OSC.

Moral Hukum Allah

By Laurentius Tarpin, OSC

PENDAHULUAN

Latar belakang penelitian

Untuk membangun tata hidup bersama dibutuhkan hukum dan aturan yang dapat menjamin kebebasan setiap manusia sehingga setiap orang diperlakukan sama karena martabatnya sebagai citra Allah. Bangsa Israel sebagai pilihan Allah  telah mengalami pembebasan dan keselamatan  yang merupakan bukti cinta Allah kepada mereka. “Akulah Tuhan Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat  perbudakan” (Kel. 20: 2). Pengalaman pembebasan dan penyelamatan yang dialami bangsa Israel menantang mereka untuk juga terlibat dalam praksis pembebasan dan penyelamatan.  Dialektika antara indikatif dan imperatif ini sangat jelas dalam dekalog.

Israel sebagai bangsa pilihan Allah dalam sejarah keberadaannya tidak luput dari pengkhianatan dan pemberontakan, maka sejarah Israel dapat dilihat sebagai  sejarah yang ditandai  oleh pengkhianatan  dari pihak Israel dan kesetiaan dari pihak Allah. Ini semua merupakan cerminan dan gambaran sejarah umat manusia pada umumnya. Situasi masyarakat yang ditandai oleh penyembahan berhala, penindasan, pembunuhan, ketidakadilan, perampasan dan penyerobotan merupakan konteks yang juga mempengaruhi kemunculan  Dasa Firman.

Rumusan masalah

Pengalaman  bangsa Israel merupakan pengalaman kita juga yang hidup dalam jaman  modern. Israel yang memberontak melawan Allah dengan berhala-berhalanya, juga merupakan pengalaman manusia modern. Pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia, terutama pelanggaran atas hak hidup yang termanifestasi dalam tindak kriminal, kekerasan dalam skala mikro maupun mankro merupakan persoalan mendasar yang harus diatasi. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam  dekalog dapat memberikan insight baru untuk membangun tata hidup bersama atas dasar kasih.

Akan tetapi, dalam kenyataan banyak sekali persoalan-persoalan etis dan moral yang pada saat penulisan Kitab Suci belum terpikirkan pada saat ini mencuat ke permukaan. Untuk itu, kita perlu menginterpretasikan isi Kitab Suci ini untuk dapat menjawab persoalan-persoalan krusial.  Perbedaan situasi sosio-kultral dan agama  dalam Kitab Suci memang berbedan dengan situasi kita saat ini. Untuk itu, kita membutuhkan eksegese.  Penelitian ini difokuskan pada teks Kel. 20: 1-17.

Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah menggali nilai-nilai moral yang terkandung dalam dasa firman yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk membentuk paguyuban dan kehidupan bersama. Di samping itu, tujuan kedua dari penelitian ini adalah melihat perkembangan makna dari setiap firman.

Metode penelitian

Dalam rangka menggali nilai-nilai moral yang terkandung dalam teks Kel. 20: 1-17, penulis menggunakan metode analisa teks dan studi literatur.

Manfaat penelitian

¨     Manfaat pertama dari penelitian ini adalah memperdalam pemahaman  penulis tentang  nilai-nilai moral yang terkandung dalam dekalog atau dasa firman.

¨     Manfaat kedua adalah menyediakan bahan pengajaranuntuk mata kuliah Moral Hukum Allah untuk maha siswa S1 Filsafat dan Teologi,Unpar.

PENGANTAR KE DALAM MORAL HUKUM ALLAH

By. Dr. Laurentius Tarpin, OSC, L.Th

 

Manusia itu bebas sejauh ia dapat memahami dan menerima perintah-perintah Allah dan ia memiliki kebebasan yang cukup luas jangkauannya, sebab ia boleh makan buah semua pohon yang ada di taman, akan tetapi, kebebasan tersebut tidak berarti tanpa batas, harus berhenti di hadapan pohon pengetahuan  tentang yang baik dan yang jahat, oleh karena itu menerima hukum moral yang diberikan oleh Allah. Allah sebagai satu-satunya yang baik, mengetahui dengan sempurna  apa yang baik bagi manusia dan oleh karena kasihnya ia menyampaikan kebaikan itu kepada manusia dalam perintah-perintah. Dan hukum Allah ini tidak mengurangi kebebasan manusia, tetapi melindungi dan memajukan kebebasan  tersebut. Dalam perjanjian lama, hukum Allah tersebut diringkaskan dalam dekalog, yang ditempatkan dalam konteks perjanjian Sinai. 

Istilah dekalog adalah istilah Yunani yang berarti sepuluh kata (asheret hadebarim), ungkapan yang dapat kita temukan dalam kitab Ulangan 4,13 untuk menunjukan apa yang kita sebut sepuluh perintah. Ada sepuluh kata yang ditulis di atas dua loh batu (‘al-halluhot, Ul. 10,4) sebagai sintesis dari kewajiban-kewajiban perjanjian. Dalam tradisi rabini disebut juga asheret ha-diberot ( istilah yang digunakan dalam Yer. 5,13 untuk mengungkapkan Firman Tuhan). Dua loh batu disebut dua loh batu  kesaksian, ditulis di dua belahan  (Yeh.32,15). Istilah dekalog untuk menyebut seri perintah-perintah untuk pertama kalinya ditemukan dalam  tulisan-tulisan santo Irenius martir di Lyon kira-kira th. 202.

          Dalam teks Perjanjian Lama dekalog dapat ditemukan dalam Kel. 20,2-17 dan dalam Ul. 5,6-21. Pada dasarnya kedua teks mengandung isi yang hampir sama hanya ada beberapa perbedaan, yakni dalam hal pengudusan hari Sabat dan dalam perintah kesepuluh. Dalam teks Keluaran alasan teologis untuk menguduskan hari Sabat adalah meniru pola kerja Allah yang telah menciptakan alam semesta selama 6 hari dan pada hari ketujuh Ia beristirahat. Dengan mengikuti pola kerja Allah manusia dipanggil  untuk hidup dan bekerja seperti Allah. Dalam konteks inilah kerja memiliki makna, ikut dalam karya penciptaan Allah. Tujuan akhir hari sabat adakah bahwa manusia dan binatang harus istirahat. Sabat mengungkapkan  prinsip penyempurnaan yang ditunjukkan Allah dalam karya penciptaan Allah. Sedangkan dalm teks Ulangan firman mengenai sabat memiliki alasan teologis dalam hubungannya dengan pembebasan bangsa Israel sebagai budak di tanah Mesir. Kalau Allah telah membuat mereka bebas, maka sudah selayaknya mereka pun membebaskan para hamba, laki-laki dan perempuan, ternak mereka dari keltihan bekerja. “Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah mesir dan engkau dibawa keluar  dari sana oleh Tuhan, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, itulah sebab Tuhan, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat” (Ul. 5,15)

Berkaitan dengan firman kesepuluh terjadi perubahan susunan antara teks Keluaran dan Ulangan. Dalam teks Ulangan susunan menempatkan istri terlebih dahulu, baru kemudian rumah, karena susunan dalam Keluaran dianggap  kurang sesuai jika istri dianggap sebagai barang milik/perabot sama seperti barang rumah tangga lainnya. Di samping itu dalam teks Ul. Ditambahkan kata kerja lain: “Janganlah mengingini istri sesamamu dan jangan menghasratkan rumahnya atau ladangnya, atau hambanya laki-laki atau perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu”.

1.1 Dekalog dan sejarah moral

Ditegaskan bahwa dekalog mendapat tempat dominan dalam moral hanya pada jaman santo Agustinus dan tetap dipertahankan sampai sekarang. Sebelum Agustinus bagian yang mempunyai peranan penting dalam pengajaran kristiani adalah kutipan-kutipan atau alukusio. Agustinus telah membuat satu perubahan mendalam dan membuat  satu pembagian perintah-perintah tersebut.  Ia mengatakan bahwa dekalog dapat diterima secara kristiani sebagai ungkapan kasih. Seringkali para kritikus  menggunakan tuntutan maksimal  yang mereka nilai mengenai jawaban atas setiap problem Jika dicari acuan semua pada dekalog, jelas kita tidak akan pernah menemukannya. Yeremia, Yeheskiel, para penginjil dan Paulus tidak mengutip dekalog secara lengkap, tetapi yang jelas mereka selalu mengutip tiga perintah yang bersifat apodiktif secara bersama-sama : jangan membunuh, jangan berjinah dan jangan mencuri.

Dalam didaché, satu dari traktat pertama  moral kristiani, skema dua jalan dapat berguna untuk menjelaskan kewajiban fondamental  manusia kepada Allah (kewajiban religius) dan kewajiban manusia kepada sesamanya (kewajiban moral).   

Pada saat jemaat kristiani menjalin hubungan baik dengan orang yahudi, menetapkan dalam bentuk yang dapat diterima hubugan antara dua perjanjian . Dekalog akhirnya diterima dalam arti universal dalam dimensi injil. Kotbah di bukit menunjukkan apa yang lebih dituntut dari seorang kristiani, yakni keadilan yang lebih besar dari pada keadilan kaum farisi dan ahli taurat, yakni keadilan yang dijiwai oleh kasih, oleh tuntutan kebaikan hati. 

1.2 Dekalog sebagai satu kesatuan organik

Dekalog merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Tiap firman menunjuk kepada yang lain dan kepada keseluruhan; mereka bergantung satu sama lain. Kedua loh batu saling menerangkan dan membentuk satu kesatuan. Siapa melanggar satu perintah, melanggar seluruh hukum (Yak. 2,10-11). Orang tak dapat menghormati sesama tanpa  memuji Allah, Penciptanya. Orang tak dapat menyembah Allah, tanpa mengasihi manusia, yang adalah makhluk ciptaan-Nya. Cinta kepada Allah direalisasikan dalam mencintai sesamanya: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak  mengasihi  saudaranya yang dilihatnya, tak mungkin mengasihi Allah,  yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia:Barang siapa mengasihi Allah, ia harus  juga  mengasihi saudaranya.” (1Yoh 4,20-21). Dekalog mempersatukan  kehidupan rohani dan kehidupan sosial.

1.3 Pengalaman Pembebasan

Dekalog harus dipahami dalam konteks perjanjian antara Yahwe dan umat Israel. Yahwe sebagai Allah pembebas dan penuh kasih telah membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir dari negeri perbudakan. Pengalaman pembebasan tersebut, menjadi dasar sikap Israel kepada Allah dan kepada  orang lain. Dengan demikian, tuntutan untuk mentaati perintah Allah bukanlah sebagai paksaan dan beban, melainkan sebagai tanggapan umat  atas kasih Allah yang membuat mereka menjadi bangsa yang bebas. Allah yang telah membebaskan Israel menuntut sikap taat dari umatnya.

Pengalaman dikasihi inilah yang hendaknya menjadi dasar dan sikap orang Israel terhadap sesamanya, bahkan sikap terhadap orang asing. “janganlah kau tindas atau kau tekan  seorang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah mesir” (Kel. 20,21); “Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim, juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai. Haruslah kau ingat bahwa engkau pun dahulu budak di mesir dan ditebus Tuhan, Allahmu di sana” (Ul. 24,17-18; bdk. 24,22) .

Pengenalan diri Allah dalam kel. 20,2 diikuti oleh pernyataan kedua mengenai dirinya (kel. 20, 5b,6 // Ul. 5,9b,10) yang menekankan klaim atas dirinya. “Karena Aku, Allah Tuhanmu, adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku”. Dari sini kita dapat melihat adanya ikatan antara Allah yang satu yang telah membebaskan umat Israel dari perbudakan mesir dengan sikap dan iman Israel. Dari pembukaan dekalog inilah kita dapat melihat karakeristik ilahi dari dekalog dan buku perjanjian sebagai  pemakluman kehendak Allah yang menuntut umat dalam sikap iman kepada-Nya.

Umat Israel dengan mengingat kebaikan dan kerahiman Allah, mereka dipanggil untuk selalu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yakni menjalankan segala sesuatu yang perlu untuk hidup bersama secara teratur dan untuk melindungi kehidupan umat terutama mereka yang lemah, tanpa pembela. Disamping itu, dekalog mengingatkan bahwa Allah adalah penolong mereka dan penolong semua orang, maka sikap yang dituntut adalah melekatkan diri kepada-Nya. Dalam rumusan yang lebih kuno, dekalog melindungi hak asasi bangsa Israel, sedangkan dalam Ulangan, dekalog menuntut sikap hati yang baik dan polos.

          Kriteria yang menentukan sikap bangsa Israel dalam berhadapan dengan kultur dan agama kanaan adalah iman mereka dalam perjanjian. Etos Israel oleh karenanya ditentukan dan dikarakterisasikan  oleh keputusan untuk mengabdi kepada Allah yang esa. Dengan demikian, Allah telah memisahkan mereka dari segala sesuatu yang dapat membahayakan hubungan perjanjian tersebut. Perintah-perintah  Allah ditujukan kepada orang Israel sebagai bangsa, seluruh komunitas hidup. Hanya iman kepada Allah yang esa yang  menjadi dasar penyatu yang membuat mungkin bangsa Israel sebagai bangsa terpilih, umat perjanjian. Keyakinan akan penyelamatan historis dan keyakinan akan keselamatan dalam sejarah  didasarkan pada  pemenuhan janji yang telah Allah buat kepada keturunannya. Tuntutan yang Allah buat terhadap bangsanya  dibenarkan dalam bab terakhir  kitab Ulangan. Ketika suku-suku Israel  diberi tanah Kanaan, Allah pada saat yang sama memberikan hukuman berat kepada   penduduk negeri itu dan kepada dewa-dewa mereka. Keadilan Allah (sedhaqah) dalam penghakimannya, hendaknya menjadi norma dan pedoman hidup bagi Israel.

1.4 Hukum apodiktik dan dekalog

Bentuk dekalog menggunakan kalimat-kalimat apodiktik, yakni kalimat yang singkat, langsung, tanpa syarat melarang atau memerintahkan  sesuatu, misalnya jangan membunuh, jangan berbuat jinah, jangan mencuri. Hukum apodiktik ini merupakan salah satu bentuk nasihat biasa bukan hanya di israel tetapi juga di negara lain, tetangga Israel. Nasihat-nasihat orang tua biasanya dirumuskan dalam bentuk apodiktik. Kalimat-kalimat dalam dekalog yang berbentuk apodiktik berasal dari lingkungan keluarga besar(klan) dan pertama-tama merupakan  nasihat leluhur  untuk anggota keluarga. Demikian, dekalog yang berbentuk apodiktik menyangkut pedoman hidup dalam hidup bersama dalam klan. Gerstenberg mengatakan bahwa kita harus mencari asal hukum larangan dalam keluarga besar sebelum adanya negara. Ia juga melihat bahwa ada hubungan tertutup antara kalimat-kalimat apodiktik dengan  tradisi kebijaksanaan, hubungan yang telah membuatnya mungkin  untuk menemukan asal muasal  hukum apodiktik dalam kebijaksanaan tradusional klan dan keluarga Israel. Sementara Nielson menyoroti bahwa apa yang disebut hukum larangan lebih berhubungan dengan masalah kultus dan religius. Dalam kalimat-kalimat apodiktik elemen moral dan religius ditekankan secara tegas. Kalimat-kalimat tersebut  diungkapkan dalam bentuk perintah, larangan atau teguran dan membuatnya sah secara permanen mengenai apa yang harus diperhatikan , sebagai sesuatu yang salah  untuk komunitas.

Yang menarik dalam kalimat-kalimat apodiktik ini adalah bahwa penulisannya di banyak teks selalu ditulis bersama-sama, terutama  perintah jangan membunuh, jangan berjinah dan jangan mencuri, jangan bersumpah palsu (Kel. 20,13-16; Ul. 5,17-20; Yer. 7,9; Hos. 4,2; Mat. 5,21-37; 19,18;  Mrk. 10, 19;  Luk. 12,57-59; 18,20). Perintah-perintah singkat ini sudah ada sebelum dekalog. Ketiga perintah ini dideretkan bersama karena perintah-perintah tersebut menyangkut perlindungan hidup, tatanan keluarga, milik dan nama baik seseorang. Disamping deretan perintah-perintah tersebut, perintah lain yang dirumuskan secara positif juga ditulis berurutan; kuduskanlah hari Sabat dan hormatilah ayah dan ibumu (Kel. 20,8.12; Ul. 5,12.15; Im. 19,3).

1.5 Dekalog dalam konteks Sinai

Eksegese modern telah menunjukkan bahwa dekalog pada mulanya bukanlah bagian dari perikop sinai dan pada mulanya bukanlah satu kesatuan, tetapi melalui proses editorial. Pada tahap berikutnya dalam proses editorial, dekalog secara sengaja ditempatkan pada cerita Sinai yang dimulai pada Kel. 19 sampai Ul. 10. Apabila dikurangi bagian-bagian yang umumnya diakui sebagai tradisi Priest (P), maka konteks dekalog hanyalah (kel. 19,2b-24, 15a dan 32-34) Ke dalam bagian inilah dimasukan dua kumpulan hukum, yakni Dekalog (Kel. 20, 2-20) dan Kitab Perjanjian (Kel. 20, 22-23, 33). Konteks Sinai menceritakan penampakan Yahwe (Kel. 19 dan 20) ditambah dengan dua cerita yang lebih kuno yakni cerita mengenai perjamuan kultis(24,1-2,9-10) dan ceritera mengenai Musa di puncak gunung (kel. 24,12-15a). Dalam konteks inilah, dikatakan bahwa dekalog merupakan sisipan dalam ceritera Sinai.

 Oleh karena manipulasi teks inilah, pembukaan dekalog(kel. 20,2) yang menyatakan Yahwe sebagai pembicara  memiliki kepentingan besar bukan  hanya untuk dekalog, tetapi juga untuk seluruh buku perjanjian dan peristiwa sinai secara keseluruhan. Hal ini memberikan pembenaran ilahi atas norma-norma. Dengan demikian, dekalog dan seluruh buku perjanjian mendapat otoritas ilahi, yakni di bawah Kekuasan Allah pembebas.

Keluaran 34,10-28 adalah rapresentasi dari perjanjian (berith) antara Allah dan umat terpilih. Hal ini mungkin untuk melihat ide dasar dari sumber Jahwista, piagam perjanjian untuk komunitas umat terpilih yang melihatnya sebagai berith,untuk melindungi mereka dan untuk melawan pengaruh dari lingkungan kanaan. Berbicara mengenai perjanjian antara Allah dengan Israel, hal penting untuk dimunculkan dalam pikiran adalah makna asli dari kata berith. Menurut M. Weinfeld, kata ini tidak menunjuk pada persetujuan antara dua pihak, tetapi kata ini mengandung ide pemberian kewajiban. Berith diperintahkan dan kata ini sinonim dengan hukum atau perintah. Jadi perjanjian Sinai adalah pemberian hukum dan kewajiban kepada umat Israel. (kel.24, 3-8). Dalam arti ini, dekalog dapat dipahami sebagai perintah Allah.

1.6 Yesus dan Dekalog

Berkaitan dengan dekalog Yesus melihat bahwa hukum perjanjian lama, Taurat Musa tetap berguna bahkan Ia sendiri mengatakan bahwa Aku datang bukan untuk menghapus Taurat tetapi untuk menggenapinya. Dalam pembicaraannya dengan pemuda kaya yang menanyakan syarat-syarat untuk memperoleh hidup yang kekal, Yesus pertama-tama  mengacu pada perintah dekalog, walaupun tidak menyebutkannya secara komplit. Akan tetapi, Yesus tidak  berhenti hanya pada pelaksanaan perintah dekalog, tetapi menuntut lebih yakni melepaskan keterikatan pada milik, menjual apa yang dimiliki, memberikannya kepada orang miskin lalu datang mengikuti-Nya. Pemuda kaya diundang untuk mengikuti Yesus yang merupakan pemenuhan hukum Allah itu sendiri. Oleh karenanya,  berkaitan dengan pelaksanaan hukum, Yesus menghindari sikap legalistis seperti kaum Farisi dan ahli taurat.

Bagi Yesus yang penting bukanlah penampilan lahiriah, namun sikap batin seseorang. Dalam konteks inilah, Yesus memberikan sikapnya terhadap dekalog dan hukum taurat pada umumya, Yesus dengan autoritas sendiri menuntut bukan hanya pelaksanaan hukum secara harafiah, dan perbuatan-perbuatan yang nampak, namun menuntut sikap batin seseorang yang merupakan dasar setiap perbuatan, sehingga berkaitan dengan soal bersih tidak bersih, halal-haram, Yesus mengatakan bahwa bukan apa yang masuk kedalam perut manusia yang menajiskan orang, tetapi justru apa yang keluar dari hati  manusia itulah yang jahat. 

Orang dituntut untuk mengontrol dan menjaga hati, pikiran serta keinginannya. Inilah yang tidak mudah. Kemurnian hati itulah yang dituntut.  Dalam perdebatannya dengan kaum farisi dan ahli Taurat mengenai Sabatpun, Yesus bersikap lain dari pada sikap orang Farisi. Yesus mengembalikan makna Sabat pada motivasi awalnya, yakni sebagai  saat pembebasan, sehingga pada saat berhadapan dengan orang yang dibelenggu oleh penyakit dan dosa, Yesus menyembuhkannya kendati pada hari sabat: “Sabat dibuat untuk manusia bukannya manusia untuk hari Sabat” (Mrk. 2,27). Dalam sikap hidup-Nya, Yesus juga menampilkan sikap bersahabat dengan para pendosa, dengan mereka yang tidak dianggap bersih berdasarkan hukum lama. Dari sini kita dapat melihat bahwa bagi Yesus yang lebih penting adalah nilai hidup manusia, bukannya ketaatan buta pada hukum. YESUS menjadi manusia bebas dan pembebas, karena untuk itulah Ia diutus, menghadirkan wajah Allah yang baik hati dan berbelas  kasih. Ia diutus untuk melaksanakan kehendak Allah, yakni mencintai Allah dan sesama.

Dalam kerangka inilah Yesus merangkum hukum Taurat dan Kitab para nabi dalam satu perintah kasih, yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Dengan demikian pada intinya, moralitas perjanjian lama dan moralitas perjanjian baru, ada persamaannya, yakni ketaatan mutlak pada kehendak Allah, hidup sebagaimana dikehendaki oleh Allah sendiri. Cinta kepada Allah dikonkritkan dalam mentaati perintah-perintah-Nya. “Tetapi barang siapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh  sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia” (1 Yoh. 2,5). Kalau engkau mengasihi Tuhan, Allah-Mu, dengan hidup menurut jalan yang ditujukkan-Nya dan berpegang pada firman, ketetapan dan  peraturan-Nya, engkau akan hidup dan bertambah banyak. (Ul. 30,16).

1.7 Karakteristik dasar Dekalog

v    Dekalog merupakan tanda kasih Allah kepada manusia. Allah yang pertama-tama mengasihi umatNya, menuntut tanggapan bebas dari manusia.

v    Hubungan dialektis antara indicative dan imperative nampak jelas dalam prolog Dekalog. “Akulah Tuhan Allahmu yang telah membawa kamu keluar dari Mesir, keluar dari rumah perbudakan. Pengalaman pembebasan ini menjadi dasar untuk umat Israel membebaskan orang-orang yang hidup dalam penindasan, lebih tepatnya Yahwe, sang Pembebas melarang umatNya untuk melakukan penindasan dalam bentuk apapun kepada orang lain, terutama orang asing.

v    Dekalog secara jelas mengatur hubungan antara Allah dan manusia, mencakup hak dan kewajiban manusia. Allah menuntut hak untuk disembah dengan segenap hati dan budi, menuntut cinta yang utuh, tidak terbagi. 

v    Hampir semua perintah dirumuskan secara negatif, kecuali perintah yang berhubungan dengan  Sabat dan hormat pada orang tua.

v    Kalau rumusan negatif diubah menjadi rumusan positif, memungkinkan perluasan makna. Contoh larangan membunuh dapat diubah dengan  menggunakan rumusan positif “Hormatilah kehidupan”.

v    Keberadaan dua versi dekalog yang berbeda, yakni Kel. 20: 1-17 dan Ul. 5: 6-21. menujukkan  bahwa dekalog merupakan outcome dari sejarah literer yang panjang.

v    Di dalam berbagai teks, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, 3 perintah yang singkat selalu ditemukan “ Jangan membunuh, jangan berzina dan jangan mencuri” ketiga perintah ini sama dengan hukum apodiktik yang umum dalam masyarakat Timur Tengah.

v    Perintah yang berkaitan dengan Institusi Sabat, ada perbedaan significant antara motivasi Sabat dalam Kel. 20 dan Ul. 5. dalam Kel. 20 motivasi Sabat dikaitkan dengan kisah penciptaan, meniru pola, ritme kerja Allah dalam proses penciptaan. Sementara dalam Ulangan 5, motivasi Sabat dikaitkan dengan  kisah pembebasan umat Israel dari perbudakan Mesir. Pengalaman pembebasan yang dialami menjadi alasan etis untuk membebaskan orang-orang yang bekerja dalam ketergantungan. Kebebasan versus perbudakan. Sabat adalah hari pembebasan bagi orang-orang yang bekerja dalam ketergantungan dan sekaligus juga menjadi perayaan pembebasan bagi orang-orang bebas-merdeka.  Dalam konteks ini, dekalog dapat dikategorikan sebagai hukum kebebasan.

Kalau kita menganalisis isi setiap perintah dalam dekalog, kita dapat menemukan nilai-nilai dasar yang mau diperjuangkan dan dilindungi, yakni:

v    Monotheisme  yang menuntut kesetiaan dan komitment untuk mencintai Allah dengan hati yang tidak terbagi.

v    Prinsip keadilan dalam arti memberikan kepada setiap individu atau pihak apa yang menjadi haknya, termasuk hak Allah untuk dipuji dan dihormati, disembah

v    Perlindungan terhadap orang-orang lemah dan tidak berdaya dalam keluarga dan masyarakat.

v    Perlindungan dan penghormatan terhadap sakralitas hidup, menerima dan melindungi kehidupan sejak awal keberadaannya.

v    Perlindungan terhadap kesetiaan dan keutuhan keluarga  dan kemurnian keturunan

v    Prinsip keadilan: melindungi hak milik orang lain

v    Prinsip kebenaran: melindungi orang terhadap kesaksian palsu (saksi dusta) tentang sesamanya, tuntutan untuk mengatakan kebenaran. Hal ini menyangkut kehidupan sesama, terutama dalam kasus pengadilan.

v    Menjaga kemurnian hati dan budi, menjaga orang agar tidak jatuh kedalam ketamakan dan keserakahan. (mengendalikan libido possendi)

BAB II Perintah  I:

JANGAN ADA PADAMU ALLAH LAIN DI HADAPANKU

 

2.1 Maksud awal

Larangan ini harus dipahami dalam konteks pernyataan Allah: “Akulah Tuhan, Allahmu  yang  telah membawa engkau keluar dari Mesir, dari tempat perbudakan”. Dari pernyataan tersebut menjadi jelas bahwa Allah yang benar dan otentik adalah Allah  Pembebas, yang menuntut  dari umatNya pengabdian khusus, ketaatan tanpa syarat. Allah Pembebas meminta satu relasi eksklusif dari umatNYa. Allah yang telah membawa mereka dari negeri perbudakan mengklaim  sebagai satu-satunya Allah, sehingga Israel tidak diperkenankan memberi tempat pada Allah lain. Dalam konteks inilah pemazmur melukiskan ketakberdayaan  berhala-berhala buatan tangan manusia. “Berhala mereka adalah perak  dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut tetapi tidak  dapat berkata-kata, mempunyai mata tetapi tidak  dapat melihat, mempunyai telinga tetapi tidak dapat mendengar ….” (Mzm 15,2-8).

Dari mazmur ini dapat dilihat bahwa tidak ada gunanya menaruh harapan kepada barang-barang duniawi, berhala. Ini hanyalah ilusi. Percayalah hanya kepada Allah yang memang sudah jelas kekuasaanNya, yang telah mereka alami dalam peristiwa pembebasan dari negeri Mesir. Perintah ini melarang bangsa Israel untuk menyembah dewa-dewa lain, illah-illah lain, karena di negara-negara sekitar Israel memang ada kultus penyembahan dewa-dewa.

Perintah jangan ada padamu allah-allah lain mendasarkan klaimnya karena Israel telah menjadi milik Yahwe , maka Ia meminta satu  sikap radikal, penyembahan tunggal dengan hati yang tidak terbagi.

2.2 Perkembangan lebih  lanjut

Firman I dapat dipahami juga sebagai larangan menyembah berhala, idol-idol. Berhala adalah  nilai manusiawi/duniawi  dan terbatas sifatnya  yang dimutlakan:  mengallahkan apa yang bukan Allah. Pada jaman modern berhala-berhala  itu dapat berupa  harta kekayaan, kekuasaan, Ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia sendiri. Sesungguhnya dengan menyembah berhala, manusia menundukkan dirinya di bawah kuasa apa yang diberhalakan, apa yang diTuhankan, ia ditindas, dijadikannya tidak bebas lagi. Tidak jarang orang menjadikan  barang-barang duniawi  sebagai andalan hidup, penentu segalanya, penentu kebahagiaan.

Dalam kaitannya dengan larangan menyembah dewa-dewa lain, ada larangan membuat patung. Apakah yang dilarang itu semua pembutan patung? Bagaimana dengan adanya  kerub-kerub, dan perintah Allah kepada musa untuk membuat patung ular tembaga?

Dasar biblis dari larangan ini adalah apa yang ditulis dalam kitab Ulangan:”Suara kata-kata  kamu dengar, tetapi suatu rupa  tidak kamu lihat, hanya ada suara, supaya jangan kamu   berbuat busuk  dengan membuat patung bangimu” (Ul. 4:12,16).

Yang dilarang dalam perintah ini adalah membuat patung Yahwe, sebab dengan  pembuatan patung Yahwe manusia mereduksi Allah, merendahkan ke taraf ciptaan, dengan  menghadirkan Allah dalam patung berarti manusia  menguasai ruang gerak Allah. Padahal Allah israel adalah Allah yang bebas. Hanya satu yang dapat menjadi simbol Allah yaitu Yesus Kristus, Sabda yang menjadi manusia. Dialah gambar Allah yang kelihatan, yang menjadi model dan contoh bagi manusia.

2.3 Dosa-dosa yang melanggar  firman I:

  1. Penyembahan berhala: mengallahkan apa yang sesungguhnya bukan Allah: uang, kekuasaan, ideologi, ras, kebebasan, seks.
  2. Ramalan dan magi: persoalan masa depan manusia tidak bisa ditentukan oleh manusia sendiri, namun tergantung dari penyelenggaraan Ilahi. Melalui kekuatan-kekuatan magis, manusia meminta  perlindungan atau malahan mencelakakan orang lain, yakni melalui teluh seperti banyak terjadi di jawa barat. Di samping itu, penggunaan jimat dan susuk merupakan pelanggaran terhadap firman I dekalog. Meminta kekayaan melalui penyembahan dewa, ngiprit merukan pelanggaran terhadap firman I juga.
  3. Mencobai Allah dengan perkataan dan perbuatan, memaksa Allah untuk membuat mujizat. Sacrilegi: menghina,menajiskan, tidak menghormati sakramen-sakramen, terutama ekaristi. Simoni: jual beli barang rohani, karunia Allah, merendahkan martabat berkat/anugerah Allah. “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, karena itu, berikanlah pula dengan cuma-cuma”.
  4. Atheisme:
  • Humanisme atheistik: manusia menjadikan dirinya sebagai tujuan, manusia mengandalkan  hidup dan usahanya mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup melulu pada kekuatan dan prestasinya sendiri.  Otonomi manusia yang diabsolutkan, akibatanya manusia menyangkal setiap ketergantungannya pada Allah, bahkan manusia memanggap Allah sebagai rival dalam mencapai kebebasannya.
  • Atheisme: menolak keberadaan Allah.
  1. Sekularisme: pandangan hidup yang bertumpu melulu pada hal-hal  duniawi dan menganggap tidak berguna segala sesuatu yang melampaui dunia yang kelihatan, mengesampingkan nilai-nilai spiritual/rohani, hanya menganggap penting apa yang material, sehingga manusia  menghapus Allah dari kehidupannya.
  2. Agnostisisme: seorang agnostik tidak mengambil sikap terhadap keberadaan Allah karena tidak mungkin membuktikannya.

 

Firman II:

“Jangan Menyebut Nama Tuhan dengan sembarangan”

 

Landasan Kitab Suci: Kel. 20:7 // Ul. 5:11

Apa yang  menjadi landasan larangan tersebut? Apa maksudnya menyebut nama Allah dengan sembarangan? Bagaimana dengan penyebutan nama Allah dalam sumpah yang dituntut dalam lingkungan profesi tertentu?

Yang menjadi landasan larangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan adalah karena nama Tuhan itu kudus. Nama menunjukkan identitas diri Allah sendiri. Yahwe yang berarti “Aku adalah Aku” (Kel. 3:14). Larangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan dikaitkan dengan identitas Allah yang adalah Kudus dan benar. „Kekudusan nama Allah menuntut bahwa orang tidak memakainya untuk hal-hal yang tidak penting“ (Kat. Art. 2155). Dia yang kudus harus dihormati dan diesembah dengan sikap iman. Larangan ini harus dipahami dalam konteks penyembahan Allah. Di samping itu, nama Allah itu penuh kuasa. Oleh karenanya, jangan menyalahgunakan nama Tuhan yang penuh kuasa untuk tujuan yang tidak seharusnya.

Apa maksudnya menyebut nama Tuhan dengan sembarangan? Dalam bahasa Inggris kata yang digunakan untuk kata ibrani lassaw adalah  mischief artinya ditujukan untuk merugikan dan mencelakakan orang lain. Jangan memakai nama Allah untuk mengutuk sesama. Dengan demikian, maksud dari larangan ini adalah supaya tidak menggunakan nama Allah untuk mencelakakan orang lain. Ini  berarti menyalahgunakan kekuasaan dan kekuatan inheren  nama Allah demi tujuan jahat, yakni membahayakan hidup orang lain.

Kata lain yang digunakan adalah  in vain dan vanity yang artinya kesia-siaan, dengan sikap menghina dan merendahkan, tanpa makna, dengan sembrono.  Nama Allah tidak boleh digunakan untuk sesuatu yang sia-sia, tidak sungguh-sungguh. Penggunaan kata vain ini dapat kita lihat juga dalam Yes.1:13 “Jangan lagi membawa persembahan yang tidak sungguh-sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagiKU”.

Penggunaan nama Allah dalam mengambil sumpah sejauh itu dilakukan dengan penuh kesungguhan, dapat dibenarkan. Artinya dalam mengangkat sumpah, orang menggunakan nama Allah untuk menjamin kesungguhan, keseriusan sumpah tersebut. Dalam hal ini, orang memanggil Allah sebagai saksi. Berkaitan dengan sumpah, Hukum Kanonik mengatakan: “Sumpah ialah menyerukan nama Allah selaku saksi kebenaran, hanya boleh diucapkan dalam kebenaran, kebijaksanaan dan keadilan” (HK. Kan. 1199).

 Sumpah dipengadilan menggunakan kata “demi Allah atau dalam nama Allah”, maksudnya adalah untuk menjamin kebenaran dari perkataan saksi.

Di samping itu, nama Allah boleh digunakan dalam konteks janji yang dibuat dengan penuh kesungguhan, misalnya janji perkawinan, kaul, baptis. Maksudnya adalah bahwa janji yang dibuat, diikrarkan  sungguh-sungguh mengikat, mau dilaksanakan dengan setia. Nama Allah dipakai sebagai jaminan kebenaran. Janji dibuat untuk dilaksanakan bukan untuk diingkari.

Apa yang dilarang dalam konteks firman II adalah bersumpah palsu. Dalam kebiasaan bangsa Israel kuno dan bangsa-bangsa sekitarnya, orang bersumpah atas nama langit, bumi, tetapi bukan atas nama Allah. Dalam katekismus dikatakan “Bersumpah atau mengangkat sumpah berarti memanggil nama Allah sebagai saksi untuk apa yang kita ucapkan. Itu berarti memanggil kebenaran ilahi supaya ia menjamin kejujuran orang yang bersumpah. Sumpah mewajibkan atas nama Allah. “Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya engkau haruslah engkau bersumpah”. (Ul. 6:13). (Kat. Art. 2150).

Dalam konteks inilah, perkataan Yesus dapat kita pahami “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Jangan sekali-kali bersumpah baik demi langit, karena langit adalah tahta Allah, maupun demi bumi karena bumi adalah tumpuan kakiNya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar,……Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Mat. 5: 33-37)..Pada intinya, orang yang bersumpah, entah nama Allah dikatakan atau tidak, Allah yang hadir di setiap tempat turut menyaksikan apa yang disumpahkan (bdk. Mzm 139)

Bersumpah palsu artinya orang mengangkat sumpah dengan tidak sungguh-sungguh, bersumpah untuk kemudian diingkari. Menggunakan nama Allah dalam sumpah palsu berarti mempertaruhkan kekudusan dan kebenaran nama Allah dengan sia-sia. Seorang yang bersumpah palsu berarti menjadikan Allah sebagai pembohong dan penipu.  Dalam hal ini Katekismus berkata „menolak sumpah palsu adalah satu kewajiban terhadap Allah. Sebagai Pencipta dan Tuhan, Allah adalah tolok ukur kebenaran. Perkataan manusia itu sesuai atau berlawanan dengan Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Sejauh sumpah selaras dengan kebenaran dan sah, ia menggarisbawahi bahwa perkataan manusia berhubungan dengan kebenaran Allah. Sebaliknya sumpah palsu menempatkan Allah sebagai saksi untuk suatu penipuan”. (Kat. Art. 2151).

Santo Ignatius dari Loyola berkata: “Jangan bersumpah, baik pada Pencipta maupun pada ciptaan, kecuali dengan kebenaran, karena keperluan dan dengan hormat” (Ignasius, Ex. Spir. 38. bdk. Kat. Art. 2164)

Nama Allah juga tidak dibenarkan untuk membenarkan tindakan kejahatan melawan kemanusiaan. Jangan mengatasnamakan Allah demi kepentingan pribadi. 

FIRMAN  III:

KUDUSKANLAH HARI SABAT

 

Maksud awal

Teks Kel.20, 8-11 Dalam teks ini motivasi dasar dari sabat adalah meniru pola kerja Allah, bekerja selama enam hari dan pada hari ketujuh ia beristirahat. Di samping itu, sabat merupakan antisipasi dari sabat abadi setelah manusia selesai dalam memenuhi tugas hidupnya, beristirahat di hadirat Allah. Dengan beristirahat pada hari ketujuh manusia diajak untuk merenungkan seluruh karya dan aktivitasnya dan menyadarkan manusia bahwa ia tidak cukup hanya mengandalkan usahanya sendiri. -à praxis –à Refleksi –à praxis baru. 

Sabat memiliki makna penting pada saat bangsa Israel hidup di tanah pembuangan, di mana bangsa Israel bertemu dengan bangsa-bangsa asing dan ada godaan meniru pola hidup bangsa lain yang tidak mempunyai tradisi sabat. Institusi sabat ini mau mengingatkan bangsa Israel agar mereka hidup sesuai dengan identitas mereka sebagai bangsa pilihan Allah yang telah dibebaskan dari perbudakan Mesir.

Dalam Teks ulangan 5,12-15 yang menjadi motivasi awal sabat adalah pengalaman pembebasan yang telah dialami bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Sebagai mana mereka telah dibebaskan Yahwe, demikian pula mereka harus membebaskan orang.-orang yang bekerja dalam ketergantungan pada orang  lain. Para hamba laki-laki dan perempuan, bahkan lembu harus menikmati istirahat dan saat pembebasan. Sabat memiliki dimensi sosial dan moral  yakni menjadi saat pembebasan bagi mereka yang selama enam hari bekerja dalam ketergantungan. (bdk. Katekismus no. 2170)

Perkembangan makna

Dalam perkembangan selanjutnya, sabat direduksi pada sikap legalistis seperti dihayati oleh kaum Farisi. Mereka membuat banyak aturan sampai ke hal-hal kecil, mengatur jalan sampai berapa langkah, tidak boleh memasak, tidak boleh meyembuhkan orang. Dengan banyaknya peraturan yang harus ditaati, sabat bukannya sebagai saat pembebasan dan istirahat, tetapi justru menjadi beban yang membelenggu dan menindas.  Berhadapan dengan sikap legalistis kaum farisi, Yesus mengembalikan sabat pada motivasi awalnya yakni sebagai hari Tuhan, saat pembebasan sehingga berhadapan dengan orang yang sakit Yesus lebih memperhatikan hidup dan keselamatan manusia, membebaskan manusia dari perbudakan penyakit yang selama ini membelenggu mereka. Sabat dibuat untuk manusia bukannya manusia untuk hari sabat. Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Hari sabat ditujukan untuk memanusiakan manusia bukan sebaliknya.

Dalam tradisi kristen, sabat digeser ke hari Minggu yang merupakan hari untuk merayakan hari  kebangkitan Yesus, kelahiran baru. Dalam merayakan hari Tuhan , orang tidak dilarang bekerja dan berbuat baik. Jerome dalam surat 108,20 menceritakan bahwa hari Tuhan ini dipraktekkan oleh kelompok religius – suster di Betlehem. Pada hari Tuhan mereka bersama pergi ke gereja  di sebelah rumah mereka, setiap kelompok mengikuti pemimpinnya. Pulang ke rumah lalu menyelesaikan tugas mereka  dan membuat pakaian  bagi mereka sendiri maupun bagi keperluan  orang lain. Dengan kata lain, setelah ibadah di hari Tuhan, pekerjaan dalam komunitas berjalan normal.  Dalam katekismus pun dijelaskan bahwa Sabat adalah saat merenung, berefleksi sehingga manusia dapat memperkembangkan hidupnya. Institusi sabat dibuat untuk membantu semua orang supaya mendapat istirahat dan mempunyai waktu luang secukupnya  untuk menghayati  nilai hidup keluarga, budaya, sosial dan keagamaan. (  Kat. no. 2117 bdk. GS no. 67).

Orang Kristen harus hati-hati  agar jangan tanpa alasan berat mewajibkan orang lain melakukan sesuatu  yang dapat menghalangi  mereka untuk merayakan hari Tuhan. Dalam istilah yang lebih konkret kita beristirahat pada hari minggu bukan sebagai tujuan tetapi sebagai sarana. Memang umat kristiani mempunyai kewajiban moral untuk merayakan hari Tuhan melalui perayaan ekaristi dan doa-doa lainnya, tetapi hal ini tidak berarti orang tidak boleh melakukan sesuatu. Bagi mereka yang bekerja untuk melayani kepentingan publik, perawat di rumah sakit, para dokter, para karyawan lainnya dapat terus melaksanakan tugas mereka dengan tenang, yang harus diperhatikan adalah bahwa para majikan harus memberi kesempatan kepada para karyawan untuk menunaikan tugas kewajiban keagamaannya.

Di samping itu, hari Minggu merupakan hari keluarga, saat yang tepat untuk mengunjungi sanak saudara, memberi perhatian kepada kaum lanjut usia, orang.-orang sakit. Walaupun tuntutan dan desakan ekonomi, para majikan hendaknya memberi kesempatan kepada para karyawan waktu khusus untuk menunaikan kewajiban agamanya. Ini adalah tuntutan dasar dan termasuk hak asasi yang harus diakui dan dilindungi.

Firman ketiga ini juga mau menyoroti  makna kerja bagi manusia. Dalam kitab kejadian kerja keras untuk mencari nafkah merupakan kutukan dari Allah karena manusia jatuh kedalam dosa: “Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan  dari buah pohon yang telah kuperintahkan kepadamu: jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau, dengan bersusah payah  engkau akan mencari rejekimu dari tanah seumur hidupnya” Kej. 3,17. Akan tetapi, dalam pemahaman teologis kerja memiliki makna sebagai partisipasi dalam karya penciptaan Allah, untuk  mengolah dan mengembangkan dunia. Kerja juga memiliki arti antropologis yakni mengembangkan dan menyempurnakan manusia, dengan dan melalui kerja manusia semakin memanusiakan dirinya. Di samping itu, kerja memiliki arti sosial yakni memberikan kesempatan kepada manusia untuk menjalin relasi dengan sesamanya. Kerja juga memiliki makna ekonomis yakni memberikan nafkah kepada manusia. 

  • Pada saat ini, orang menggeser makna hari sabat, hari minggu untuk rekreasi, lebih dari pada menguduskannya bagi Allah.
  • Bagi mereka yang sudah pensiun atau bagi mereka yang tidak bekerja, menganggur, apakah makna sabat bagi mereka?
  • Untuk konteks jaman sekarang, di mana orang  bekerja hanya 5 hari, apakah makna hari sabat?

 

Perintah  IV

HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU

 

1 Maksud awal

Yang menarik dari firman atau perintah ini adalah rumusannya positif. Motif untuk mentaatinya adalah adanya suatu janji bukannya perasaan takut dihukum. “Supaya lanjut umurmu di tanah  yang diberikan Yahwe, Allahmu kepadamu” Kel.20, Dalam teks keluaran motif dari firman IV adalah supaya hidup berlangsung lama  di tanah  yang dijanjikan.

Dalam konteks keluaran, tanah adalah  anugerah istimewa  dari Yahwe. Bangsa yang tinggal di tanah perbudakan  akan memiliki tanah terjanji,sebagai milik mereka sebagai bangsa yang bebas merdeka.  Dalam teks Ulangan kita melihat adanya suatu janji : “Supaya lanjut umurmu dan supaya baik keadaanmu di tanah yang  diberikan Yahwe, Allahmu kepadamu”. Teks ini harus dipahamai dalam kontek pembuangan. Bangsa Israel hidup di  pembuangan  sehingga tanah  mereka hilang, maka pada situasi pembuangan umur panjang dab keadaan hidup yang baik menjadi anugerah Allah bagi Israel.

Apakah yang dimaksud dengan menghormati ayah dan ibu?

  • Dalam Perjanjian lama firman ini menyangkut  sikap anak terhadap orang tua, dalam arti negatif  yakni tidak boleh memukul, tidak boleh mengutuk atau menghina orang tua (bdk. Kel. 21:15,17; Im. 20:9; Ul. 27:16; Ams. 19:26 ; 20:20).  Orang yang memukul dan mengina orang tua layak mendapat hukuman.
  • Dalam arti positif, firman IV ini mengajak sikap hormat kepada orang tua, generasi tua yang dipandang sebagai pewaris tradisi dan punya pengalaman banyak, terutama pengalaman religius: Mereka yang tua-tua ini menjadi figur dan model kebijaksanaan.
  • Persoalan yang muncul sekarang adalah  orang tua, lanjut usia merasa dirinya tidak dipakai lagi, bahkan dianggap sebagai beban keluarga dan masyarakat, terutama dalam kultur yang menekankan produktivitas.
  • Menghormati orang tua pertama-tama adalah tugas dan kewajiban anak dewasa untuk memperhatikan orang tua yang mulai melemah, tidak berpenghasilan, maka tanggung jawab dan kewajiban anak dewasa adalah merawat dan mengurus mereka sehingga tidak sampai terlantar. (Bdk. Sir. 3:12-13:16; Mat. 15:4-6).Anak-anak harus memperhatikan kebutuhan: material, spritual dan psikologis.
  • Problem orang tua yang dipantijompokan merasa diri dibuang, dijauhkan, merasa diri tidak berguna lagi, mengalami kesepian mendalam.
  • Hormat kepada orang tua juga mencakup sikap hormat dan mau kerja sama antara generasi tua dan muda; yang muda mau menerima warisan tradisi secara kritis.

 

2 Perkembangan makna

  • Hormat kepada orang tua juga menyangkut  ketaatan kepada orang tua dalam batas-batas tertentu, sesuai dengan perkembangan jaman. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dan konflik maka perlu diciptakan dialog yang baik antara anak-anak dengan orang tua.
  • Firman keempat  ini diperluas cakupannya pada hubungan antara orang muda dengan orang  tua, antara guru dengan murid, antara majikan dengan para pekerja, antara pemerintah dan warga negara.
  • Tugas dan tanggungjawab orang tua terhadap anak. Orang tua dalam tindakan menurunkan keturunan menjadi rekan kerja Allah dalam tata penciptaan. Tugas dan kewajiban orang tua bukan hanya melahirkan dan memberi makan, melainkan mendidik anak-anak dalam kehidupan Iman, sosialisasi dan moral. Keluarga menjadi basis untuk pembentukan kepribadian anak dan tempat penanaman nilai-nilai. Bagaimanakah orang tua  menciptakan suasana penuh cinta, saling menghormati, persaudaraan, rasa setia kawan, solidaritas, kesetiaan dalam keluarga sehingga anak dapat bertumbuh dengan baik.

 

Relasi antara warga negara dengan pemerintah:

  • Dalam dunia yang ditandai oleh mentalitas utilitarian, di mana orang menilai manusia berdasarkan pada produktivitas, maka firman ini memiliki relevansi dan sekaligus menjadi tantangan besar.

.

 

 

Firman VI (Perintah V)

Jangan Membunuh

by Laurentius Tarpin OSC

 

4.1 Maksud awal firman:

Maksud awal perintah ini  adalah mau melindungi hidup manusia yang tidak bersalah, orang israel merdeka. Kata yang gunakan untuk menunjuk pada pembunuhan adalah ratsah dan hemit. Kata ratsah menunjuk pada pembunuhan secara keji,sengaja, dengan maksud jahat  membuat mati seseorang. Kata ratsah ini ditemukan dalam KS sebanyak 46 kali, secara khusus dalam teks-teks  hukum yang mengatur  tempat-tempat pelarian, tempat perlindungan  di mana orang yang telah membunuh secara tidak sengaja dapat melarikan diri.

Kata ratsah ini tidak termasuk pada kasus pembunuhan waktu perang, dalam pembelaan diri, pelaksanaan hukuman mati. Jadi pembunuhan yang dilarang adalah pembunuhan illegal. Kata ratsah memberi kualifikasi khusus  pada pembunuhan  keji dengan kekerasan seorang manusia yang tidak dapat melawan serangan: “Siapa yang memukul  dengan  barang besi sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh…” (Bil. 35,16ss).   

Pembunuhan yang dikaitkan dengan dendam darah. Jadi yang pertama-tama mau dilindungi adalah orang Israel  merdeka. Dalam kisah pembunuhan yang pertama dimana kakak membunuh adiknya, Allah berkata: “Darah adikmu itu berteriak kepadaKu dari tanah. Maka sekarang terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk  menerima darah adikmu itu dari tanganmu” (Kej. 4,10).

Pada kira-kira abad V A.C tradidi Priest meperluas cakupan perlindungan  hidup bagi setiap manusia “Siapa menumpahkan darah manusia, adarahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri”( Kej. 9,6) “Siapa yang memukul  seseorang  sehingga mati,pastilah ia dihukum mati” (Kel. 21,12). PL membedakan antara hidup orang merdeka dengan hidup seorang budak (Bdk. Kel. 21, 12-13) antara hidup janin dan hidup orang dewasa (bdk Kel. 21,22). Firman jangan membunuh mau menjamin nilai kehidupan dan melindunginya dari nafsu dendam pribadi.

4.2 Pemahaman baru

Dalam perjanjian baru, terutama dalam kotbah di bukit, Yesus memperluas cakupan  firman jangan membunuh  sampai pada  larangan untuk membenci dan memarahi  orang. Yesus tidak hanya melarang  pembunuhan real, tetapi mengajak untuk   menghormati  hidup manusia dengan menciptakan   satu sikap batin yang tulus dan baik, memiliki kepekaan  dan keprihatian terhadap hidup orang lain, membangun  persaudaraan dimana  setiap orang dihagai  dan diperlakukan  sebagai pribadi yang bermartabat luhur.

Persaudaraan universal  dan kehidupan bersama dapat dibangun  bukan hanya  dengan menjauhkan nafsu balas dendam, tetapi terlebih  dalam kemauan kuat dan kehendak yang baik  untuk merangkul setiap  manusia yang jauh untuk menjadi saudara. Ini adalah kasih  yang otentik, mendobrak batas-batas SARA. Dengan demikian, firman kelima dalam rumusan positifnya mengajak orang untuk mencintai, memelihara, melindungi dan membela kehidupan mansia dari berbagai ancaman.

Berkaitan dengan firman jangan membunuh apakah dibenarkan membunuh seseorang dalam rangka membela diri? Apakah ini memang merupakan satu kekecualian dari larangan membunuh?Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kalau kita mengambil teks dari Evangelim Vitae: “Dengan otoritas yang diberikan Kristus kepada Petrus dan para penggantinya dalam kesatuan dengan  para Uskup Gereja katolik, saya (Yohanes Paulus II) menegaskan bahwa  pembunuhan langsung dan disengaja  manusia yang  tidak bersalah adalah selalu merupakan  perbuatan immoral”, (EV no. 57). Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa  perintah jangan membunuh  memiliki dua ketetapan, yakni: yang pertanma berhubungan dengan   tindakan moral yang jelas-jelas immoral dalam dirinya sendiri per se.

Tindakan immoral adalah  pembunuhan langsung dan disengaja. Ketetapan yang kedua  berkaitan dengan dengan  obyek perbuatan tersebut: siapa yang membunuh  seorang manusia tak berdosa/tak bersalah  adalah salah. Larangan membunuh yang ada dalam dekalog  mengacu pada tindakan kehendak bebas dan sasarn langsung  dari  perbuatan membunuh adalah manusia yang tidak bersalah. Dengan ketetapan ini, firman kelima memiliki nilai absolut tanpa kekecualian.

Pembelaan diri melawan agresor yang tidak adil bukanlah kekecualaian dari  firman jangan membunuh. Sebab, agresor yang  tidak adil dalam realita bukanlah manusia tak bersalah, sebab ia sendiri  malah menghina dan menginjak-nginjak  sakralitas dan intagibilitas hidup manusia. Juga hukuman mati mendapat pembenaran dari konsep dasar tersebut di atas, yakni membela martabat dan hak-hak dasar manusia yang telah diinjak-injak si penjahat. Membuat mati orang yang melakukan tindakan kriminal yang merugikan kesejahteraan umum, adalah tindakan keadilan, mengganjar penjahat sesuai kejahatan yang dilakukan.

          Tekanan dari firman kelima hendaknya dipahami dalam arti positif, suatu perintah untuk mencintai , mengahargai, memelihara dan melindungi  hidup manusia dan intergritas pribadinya. Bagaiamanakah  caranya untuk mengusahakan agar  hidup manusia berlangsung terus? Sikap hormat terhadap nilai hidup manusia, pertama-tama harus menjadikan hidup manusia  sebagai tujuan bukannya sebagai alat atau sarana untuk mencapai  tujuan lain.

          Firman jangan membunuh mendapat aktualitasnya pada jaman sekarang, di mana hidup manusia diancam dari berbagai sudut,dari saat permulaan sampai saat akhir hidupnya, lebih-lebih dalam dunia yang ditandai oleh kultur kematian.Kemajuan ilmu dan pengetahuan di satu pihak memberi keuntungan bagi hidup manusia, namun di lain pihak, mengancam martabat hidup manusia itu sendiri: teknologi genetika telah memungkinkan  pembuatan manusia menurut kriteria tertentu, dengan tingkat kecerdasan tertentu, dengan jenis kelamin tertentu melalui manipulasi genetika. Kemajuan ilmu dan pengetahuan telah memicu eksperimen terhadap manusia, bayi tabung, cloning, intervensi atas embrio dan pembuatan embrio semata-mata demi kepentingan riset dan farmakologi. Manusia sudah direduksi ketaraf objek, jaringan biologis yang siap digunakan di laboratorium. Dalam konteks inilah, katekismus gereja katolik memperluas cakupan firman jangan  membunuh sampai ke

4.3 Penerapan firman jangan membunuh

4.3.1. Penghormatan terhadap kehidupan manusia:

  • pada tahap awal perkembangannya,
  • larangan aborsi and intervensi atas embrio,
  • pembelaan diri yang sah,
  • bunuh diri dan eutanasia,

4.3.2. Hormat terhadap martabat pribadi Manusia

  • Hormat pada jiwa
  • Hormat pada kesehatan
  • Hormat pada pribadi dalam penelitian ilmiah.
  • Hormat pada integritas fisik, menyangkut tranplantasi organ.
  • Pembelaan damai: perdamaian dan menghindari perang

 

4.3.3 Persoalan Aborsi

Ada dua kelompok yang mencoba menilai moralitas aborsi. Kelompok pertama beranggapan bahwa dalam batas-batas tertentu aborsi itu boleh dilakukan. Argumen mereka adalah bahwa sampai pada waktu tertentu embrio itu bukanlah manusia individual, sehingga mengaborsi dibolehkan. Ada banyak orang yang mencoba menentukan kapan embrio disebut manusia individual dan sebagai pribadi.

Norman M. Ford menyatakan bahwa embrio mencapai individualitasnya sebagai manusia setelah hari ke-14, yaitu saat munculnya stria primitiva (bagian organ otak dan sistem saraf). Penulis lain mengatakan bahwa embrio itu bukanlah manusia sebagai pribadi karena manusia sebagai person harus memiliki kriteria-kriteria tertentu: berkesadaran diri, rasionalitas, memiliki pemahaman moral (menurut TH. Engelhartd), manusia sebagai person kalau ia punya kesadaran akan waktu, kesadaran diri, otonomi (menurut Josep Fischer), mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan orang lain( R. McCormik). Manusia itu dikatakan manusia kalau ia mempunyai kemampuan untuk merasakan sakit dan gembira( Peter Singer).

Judith Thomson seorang feminis dalam artikelnya yang berjudul “A Defense of Abortion”, ia mengakui bahwa embrio mempunyai hak untuk hidup, tetapi, hak dia untuk hidup tidak berarti harus melanggar hak wanita untuk menentukan apa yang akan terjadi atas tubuhnya, embrio tidak mempunyai hak untuk diam dalam rahim si wanita selama sembilan bulan, jika si wanita tidak mau memberikan ijin bagi embrio yang diam dalam rahimnya. Jadi dalam hal ini ada konflik antara hak embrio untuk hidup dan hak wanita untuk tidak memberikan tempat/rahim pada embrio. Anak yang dikandung di rahimnya dapat dilihat sebagai tamu yang tidak diundang, sehingga dalam kasus kehamilan yang tidak diinginkan, wanita punya hak untuk mengusir embrio dari rahimnya.

Kelompok yang kedua adalah mereka yang menolak aborsi karena aborsi bertentangan dengan firman jangan membunuh. Hidup manusia sudah dimulai saat konsepsi, yakni saat sel telur dibuahi oleh spermatozoa.

Pada saat konsepsi atau pembuahan itulah, sudah mulai manusia baru yang hidup menurut program dan kodegenetiknya sendiri, sehingga ia bukan lagi hidup bapa maupun  hidup ibunya, tetapi hidup manusia baru yang tumbuh menurut hukum perkembangannya. Kenyataah ini didukung oleh hasil riset ilmu pengetahuan ilmiah: embriologi dan biologi molekular. Di samping itu, mereka yang menolak aborsi mendasarkan argumennya pada karakter kudusnya hidup manusia, sebab manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang ditentukan untuk bersatu dalam kehidupanAllah sendiri.

Hidup manusia adalah anugerah Allah sendiri yang harus di rawat, dipelihara, dilindungi dan dicintai. Manusia tidak mempunyai hak untuk mengambil hidupnya sendiri dan hidup orang lain. Hanya Allah yang adalah Tuhan daan pemilik hidup, manusia hanyalah sebagai administrator.

Gereja katolik sejak awal menentang aborsi karena aborsi bertentangan dengan hukum Allah, hukum natural, melanggar prinsip keadilan dan cinta sesama dan dikategorikan sebagai dosa pembunuhan Posisi gereja berhadapan dengan kejahatan moral aborsi konstan dari dulu sampai sekarang. Hal ini dapat kita lihat dalam dokumen gereja awal, misalnya dalam Didachè 2,2 dikatakan:”Engkau tidak boleh mengaborsi dan juga  tidak boleh membunuh  anak yang baru dilahirkan”.

Dalam GS juga gereja menegaskan kembali moralitas aborsi: “Allah Tuhan kehidupan telah  mempercayakan  pelayanan mulia melestarikan hidup kepada manusia, untuk dijalankan dengan  cara yang layak baginya. Maka kehidupan sejak saat  pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat. Pengguran dan pembunuhan anak merupakan tindakan kejahatan yang durhaka” GS n. 51.

          Dalam Ensiklik Evangelium Vitae, Paus Yohanes Paulus II menegaskan kembali ajaran gereja mengenai aborsi: ”Saya menegaskan bahwa aborsi langsung dan diinginkan, artinya dilakukan dan diinginkan sebagai tujuan atau sebagai cara merupakan satu perbuatan immoral berat”. (EV no. 57). Dengan demikian  menjadi jelas, bahwa aborsi langsung apapun alasannya tidak dapat dibenarkan menurut moral. Disamping itu ada aborsi yang dinamakan aborsi eugenetika, yakni mengaborsi janin yang cacat karena beranggapan lebih baik mati sebelum lahir dari pada menderita seumur hidup. Aborsi eugenetika  tak dapat dibenarkan, sebab ini adalah aborsi langsung. Aborsi tidak langsung dapat dijinkan di bawah prinsip doubel effect, yakni prinsip moral yang berdasar pada 4 kriteria berikut:

  • Tindakan/perbuatan pada pada dirinya sendiri per se adalah baik atau indiferen.
  • Maksud agen hanyalah mencapai efek baik, sedangkan efek buruk hanyalah ditolerir.
  • Efek buruk bukanlah cara/sarana untuk  mencapai efek baik.
  • Ada proporsionalitas yang adekuat antara  efek baik dan efek buruk.  

Ada kasus-kasus yang bisa menggunakan prinsip double effect, misalnya kasus seorang wanita yang sedang mengandung, namun ditemukan kanker ganas di rahim. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan si ibu dari kematian akibat kanker ganas tersebut hanyalah dengan mengangkat rahimya, dengan konsekuensi kematian janin. Dalam kasus ini, kematian janin tidak dinginkan tetapi hanya sebagai efek samping. Dalam kasus konflik antara nilai hidup ibu dan janin, moral katolik mengajarkan harus diselamatakan kedua hidup tersebut sebisa mungkin, tetapi kalau tidak memungkinkan harus diselamatkan hidup yang paling bisa diselamatkan.

Dalam kasus kehamilan sebagai akibat kejahatan pemerkosaan, bebrapa teolog moral katolik  mengatakan bahwa tindakan membersihkan sperma agresif dalam vagina si korban, sah menurut moral, namun pada saat pembuahan sudah terjadi, tidak dibenarkan untuk menggugurkannya. Maka dalam kasus sulit demikian, yang harus dilakukan adalah pendekatan pastoral untuk menolong si korban sehingga ia tidak terlalu stress, down, kehilangan makna hidup, lalu diberi penadmpingan dan dukungan moral dan spiritual sehingga akhirnya ia dapat menerima dan merawat anak yang sedang dikandungnya dengan penuh cinta, seraya diberi bantuan finansial kalau ia memang berkekurangan.

Dalam kasus rape(pemerkosaan) baik si wanita korban kejahatan seksual, maupun  anak yang dikandung sama-sama tidak berdosa sehingga sudah sepatutnya dilindungi. Solidaritas dan empati dari teman-teman dan keluarga, serta jemaat sangat diperlukan, untuk melindungi hidup manusia sejak saat pembuahannya. 

4.3.4 Eutanasia

Eutanasia berasal dari kata eu artinya baik, enak dan thanatos artinya mati. Jadi secara etimologis eutanasia berarti kematian yang tidak disertai rasa sakit, kematian karena rasa  belas kasih. Moralitas eutanasia didasarkan pada prinsip bahwa hidup itu adalah anugerah Allah yang harus diterima dengan rasa syukur.

Eutanasia dikategorikan sebagai kejahatan pembunuhan, maka tidak seorang pun punya hak untuk melakukan eutasia baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk orang lain yang dipercayakan pada tanggung jawabnya. Eutanasia merupakan satu penolakan atas rencana cinta Allah atas hidup manusia. Di samping itu, eutanasia bertentangan dengan keutamaan cinta kepada diri sendiri dan kepada orang lain.

Ada dua macam eutanasia: eutanasia aktif, yakni tindakan aktif membuat mati seorang pasien yang berada dalam sakarat maut, atau sakit taktersembuhkan, dengan jalan memberikan obat atau suntikan letal sehingga mengakibatkan kematian secara prematur. Yang kedua adalah eutanasia pasif, artinya membiarkan si pasien yang berada dalam keadaan sakarat maut, atau koma dengan tidak memberikan perawatan yang seharusnya atau malahan menghentikan pengobatan yang memang perlu sehingga mengakibatkan si pasien mati secara cepat. 

Moral katolik mengajarkan bahwa setiap jemaat kristiani hendaknya memberi perawatan yang perlu kepada pasien sebagai wujud cinta kepada sesama. Akan tetapi dalam kasus, segenap usaha pengobatan sudah dilakukan tetapi keadaan pasien tetap tidak berubah, malah semakin memburuk, maka dalam situasi di mana kematian sudah mendekat dan tidak dapat dielakkan, maka menghentikan pengobatan dapat dijikan secara moral. Hal ini tidak dapat disamakan dengan tindakan eutanasia tetapi terlebih sebagai ungkapan   penerimaan kondisi manusiawi di mana realita kematian memang tidak bisa dihindari. Sikap yang tepat dalam kondisi demikian adalah, mendampingi si pasien sehingga ia sungguh dikuatkan dan didukung, seraya menyiapkan ia agar benar-benar siap dan iklas untuk beralih ke hidup abadi.

Di samping itu, si pasien diajak untuk menyatuakan penderitaan dia dengan penderitaan Kristus yang tersalib. Dengan demikian kita  dapat membantu dia dalam menghidupi saaat-saat akhir  perjalanan hidupnya dengan penuh iman dan menghantar dia untuk menyongsong kematiannya yang sudah mendekat.

4.3.5 Pembelaan diri yang sah

Dalam moral katolik pembelaan diri yang sah sehingga menimbulkan kematian si aggresor yang tidak adil, dibenarkan secara moral. Hal ini sesuai dengan kecenderungan kodrati untuk membela hidupnya sendiri. Individu yang diserang dan hidupnya  diancam  mempunyai hak  dan kewajiban  untuk membela  diri, untuk tidak tunduk pada penyerang.

Katekismus denngan mengambil otoritas St. Thomas Aquinas mengatakan: “Dari tindakan  orang yang membela diri sendiri, dapat menyusul tindakan ganda, yang satu ia menyelamatkan  hidupnya sendiri, yang lain adalah pembunuhan si penyerang” ( Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, q. 64, ad. 7; Katekismus. No. 2263. ). Dari tindakan pembelaan diri tersebut dapat dilihat, bahwa dampak yang pertama  diinginkan sedangakan yang kedua  tidak disengaja, namun sebagai efek samping. Pembunuhan si penyerang yang tidak adil, tidak dapat dikategorikan sebagai pembunuhan sengaja. Pembunuhan ini hanyalah sebagai konseskuensi dari tindakan membela diri. Penilaian moral pembelaan diri yang sah dapat dilihat dalam kat. No. 2264: “Siapa yang membela hidupnya sendiri tidaklah bersalah  karena pembunuhan, juga apa bila ia terpaksa menangkis penyerangnya  dengan satu pukulan yang mematikan”.

Dalam kasus pembelaan diri yang dapat diterapkan prinsip double effect. Salah satu syarat dari prinsip ini adalah adanya proporsionalitas antara effek baik dan effek buruk.. “Jika seorang waktu membela dirinya sendiri, mempergunakan  kekuatan yang lebih besar dari pada sewajarnya, maka ia tidak dibenarkan”. (St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, q. 67, a.4).

Dari semuanya ini dapat disimpulkan bahwa pembunuhan manusia yang tidak berdosa dengan sengaja secara berat bertentangan dan melawan martabat manusia dan sakralitas hidup manusia, bertentangan dengan kaidah emas, dengan kekudusan Pencipta. Hukum yang melarang pembunuhan ini, mempunyai keabasahannya universal, mewajibkan dan mengikat semua dan masing-masing, selalu dan di mana-mana. (Bdk. Kat. No. 2259 dan 2261).

BAB V   FIRMAN VII(Firman VI):

JANGAN BERZINA

 

Sebelum masuk pada maksud awal firman ini, ada baiknya kalau kita mencoba memahami apa yang dimaksud dengan zina itu sendiri. Dalam PL zinah adalah hubungan seks yang dilakukan oleh seorang wanita yang sudah  bersuami dengan seorang pria lain yang bukan suaminya, entah dengan pria yang  kawin ataupun belum. Oleh karena itu, perzinahan hanyalah melanggar hak suami, tak pernah melawan hak wanita. Karena dalam tradisi Yahudi yang mempunyai hak hanyalah pria.   

5.1 Maksud awal

Maksud awal firman ini adalah melindungi stabilitas keluarga untuk mempertahankan  keturunan yang sah. Melalui perzinahan, seorang pria mengganggu dan merongrong  kesatuan keluarga lain dan sekaligus merebut hak suami atas istri. Sedangkan seorang wanita yang berzina itu sendiri merugikan dan menghancurkan rumah tangganya dengan hidup tidak setia. Hubungan seksua antara seorang pria yang sudah beristri dengan seorang pelacur atau wanita yang masih gadis, tidak dikategorikan sebagai perzinahan.

Dalam pemahaman selanjutnya, firman jangan berzinah mau melindungi nilai kesetiaan dalam perkawinan. Tata kesatuan dalam perkawinan bisa hancur karena ketidaksetiaan salah satu partner. Kesetiaan dalam perkawinan menuntut satu relasi cinta yang eksklusif antara suami istri.

Dalam perjanjian lama fenomen perkawinan dipakai oleh para nabi sebagai lambang hubungan antara Yahwe dengan Israel, di mana Allah/Yahwe sebagai mempelai pria setia kepada Israel yang adalah mempelai wanita. Walaupun Israel sering kali tidak setia dengan menyeleweng, berzinah dengan menyembah dewa-dewa asing, Allah tetap menunjukkan cinta dan kesetiaanNya.Gambaran yang sangat indah dilukiskan dalam pernikahan Hosea dengan seorang pelacur (Hos. 1-3).

5.2 Pemahaman lebih lanjut

Dalam perjanjian baru, Yesus membertikan visi baru berkaitan dengan perzinahan. Kalau dalam PL, hanya  suami yang mempunyai hak dalam perkawianan, dalam PB istri pun mempunyai hak yang sama seperti suami. Hal ini dapat dilihat dalam perdebatan Yesus dengan orang farisi berkaitan dengan soal perceraian. “Barang siapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri  menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain , ia berbuat zinah”. (Mrk 10,11-12). Berkaitan dengan zina, Yesus memperluas cakupan zinah bukan hanya perbuatan lahiriah, tetapi juga menyangkut perbuatan kehendak,keinginan dalam hati untuk mengingini seorang perempuan: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia dalam hatinya”( Mat. 5,28).

Perbuatan zinah merupakan pelanggaran terhadap nilai kesetiaan dalam perkawinan. Dan kesetiaan yang dilanggar oleh salah satu partner dalam pandangan Yesus, tidak dapat dijadikan alasan untuk meminta perceraian. Dalam konteks inilah, Yesus mengembalikan makna perkawinan sesuai sesuai dengan tujuannya yang semula, yakni apa yang telah disatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Kesetiaan suami istri dalam untung dan malang akan menjadi gambaran kesetiaan Allah pada umatNYa, dan gambaran kesetiaan Kristus kepada gerejaNya.

Katekismus memperluas cakupan firman jangan berzina yakni menjauhkan diri dari segala tindakan yang mencemarkan kemurnian hati dan hidup, di mana setiap orang dipanggil pada kemurnian. Kemurnian merupakan tugas dan panggilan setiap orang secara  pribadi, namun juga membutuhkan lingkungan dan kultur  yang mendukung dimensi  dimensi susila dan rohani.  Kemurnian adalah intergrasi  seksualitas yang membahagiakan  di dalam pribadi  dan selanjutnya kesatuan batin manusia dalam keberadaannya secara jasmani dan rohani. sampai pada nilai kemurnian. Keutamaan kemurnian menjamin keutuhan  pribadi dan kesempurnaan  penyerahan  diri. Dalam keutamaan ini ada keutamaan lain yakni pengendalian diri. Dengan akal budinya manusia dapat  mengatur  dan mengendalikan nafsu dan dorongan seksualnya. Keutamaan ini penting untuk menjaga kemurnian hati.

Seksualitas yang merupakan bagian dari manusia merupakan anugerah Allah yang patut disyukuri. Seksualitas merupakan bagian integral kepribadian manusia, artinya bahwa seksualitas ini mempengaruhi hidup seseorang, cara dia berprilaku dan cara ia berada. Seksualitas sebagai suatu energi memang harus diatur dan diarahkan supaya tidak liar. Dalam tata perkawinan seksualitas menjadi sarana untuk memperdalam kesatuan antara suami dan istri demi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Pada hakikatnya seksualitas dalam konteks perkawian terarah pada prokreasi. Dengan demikian, aktivitas seksualitas yang mengecualikan aspek prokreatif, bertentangan dengan makna seksualitas yang sesungguhnya.

5.3 Pelanggaran-pelanggaran yang melawan  kemurnian:

Pelanggaran-pelanggaran melawan kemurnian:

  • Ketidakmunian yakni keinginan untuk selalu mengejar keinginan dan kenikmatan seksual.
  • Masturbasi: rangsangan alat-alat  kelamin  yang disengaja  dengan tujuan untuk mencapai kenikmatan seksual. Tindakan ini bertentangan dengan ajaran moral gereja karena memisahkan seksualiatas dari hakikat dan tujuan dasarnya. Seksualitas mengandung dimensi interrelasional, hubungan intersubjekstif. Masturbasi merupakan pembiasan daya kekuatan seksualitas, yakni menikmati seks secara egoistik serta memisahkannya dari dimensi prokreatif.
  • Percabulan: yakni hubungan seksual diantara seorang pria dan seorang wanita yang tidak terikat ikatan perkawinan. Pada hakikatya seksualiatas manusia ditujukan untuk kebahagiaan suami istri yang terbuka pada kelahiran anak.
  • Prostitusi: merupakan tindakan yang merendahkan martabat wanita dengan mereduksinya hanya sebagai alat pemuas nafsu seks, merupakan satu pelecehan terhadap nilai kemurnian dan kekudusan.
  • Homosekualiatas: ada dua macam homoseksualitas, yakni homoseksualitas karena kelainan kromosom secara kodrat dan homoseksualitas sebagai kecenderungan. Homoseksualitas adalah daya tarik seksual terhadap orang sejenis kelamin. Homoseksualitas ini bertentangan dengan  hukum kodrat. Dalam hubungan seksual di antara orang homoseks tidak terbuka pada keturunan/prokreasi, kekurangan unsur saling melengkapi. Berhadapan dengan orang-orang homoseksual, mereka harus dipahami dan dihormati sehingga akhirnya mereka  dapat memahami dirinya dan secara perlahan-lahan diajak untuk menghayati  kemurnian  dengan pengendalian diri.
  • Berhubungan dengan firman keenam ini juga masalah pengaturan kelahiran, yakni menyangkut moralitas penggunaan alat kontrasepsi. Berkaitan dengan soal pengaturan kelahiran, gereja mengajarkan supaya umat mengikuti keluarga berencana alamiah, yakni dengan melakukan pantang berkala selama masa-masa subur. Dalam KBA ini ada kerja sama antara suami dan istri, saling pengertian dan mendukung, meningkatkan komunikasi diantara mereka.

 

Di samping itu, firman ini juga menyangkut moralitas inseminasi artifisial bagi pasangan-pasangan yang tidak subur. Apakah Inseminasi artifisial dibenarkan secara moral? Kita harus membedakan antara FIVET homolog dan FIVET heterolog.

Dalam FIVET homolog baik sel telur maupun spermatozoa berasal dari pasangan yang sama. Oleh karena ada kelainan hormonal maka diantara mereka tidak bisa melangsunkan pembuahan di dalam rahim si istri. Melalui FIVET ini, Zigot lalu ditransfer ke rahim si istri.

Dalam FIVET heterolog dilibatkan pihak ketiga, sel telur atau spermatozoa berasal satu dari pasangan dan satu dari donor, atau malahan kedua-duanya dari donor, dan lebih parah lagi, anak hasil pembuahan ditransfer bukannya ke istri sendiri, tetapi ditransfer ke rahim orang lain. Hal ini jelas tidak dapat dibenarkan secara moral.

Keberatan moral dari FIVET ini adalah bahwa anak harus lahir  kedunia di dalam dan melalui perkawianan yang sah sebagai buah cinta  suami-istri. Anak merupakan anugerah Tuhan bukannya sebagai hasil produk laboratorium.      

FIRMAN VIII (perintah VII):

JANGAN MENCURI

 

6.1 Maksud awal

Maksud awal  firman jangan mencuri dikaitkan dengan pencurian manusia, penculikan manusia bebas. Jadi firman ini mau melindungi kemerdekaan orang Israel yang bebas. Kata yang digunakan untuk menunjuk firman ini adalah kata ganav. Kata ganav ini menunjuk pada tindakan pencurian manusia atau penculikan dalam bahasa sekarang. Dalam kitab keluaran 21,16 diakatakan: “Siapa yang menculik seorang manusia, baik ia telah menjualnya, baik orang itu masih terdapat padanya, ia pasti dihukum mati”.

Dalam kitab Ulangan dikatakan: “Apabila sekarang kedapatan sedang menculik orang, salah seorang saudaranya dari antara orang Israel, lalu memperlakukan dia sebagai budak  dan menjual dia, maka haruslah penculik itu mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat  itu dari tengah-tengahmu!” Ul. 24,7. Dari kedua ayat ini menjadi jelas, bahwa firman jangan mencuri pertama-tama mau melindungi kebebasan orang merdeka dan melarang penjualan manusia untuk dijadikan budak. Landasan dasarnya jelas bahwa orang Israel pun dulu sebagai budak, namun kasih dan kebaikan Allah telah membebaskan mereka dari status budak menjadi seorang merdeka. Pengalaman pembebasan ini hendaknya menjadi titik acuan bagi orang Israel untuk menghormati manusia lain sebagai manusia bebas merdeka.

Di Israel  oleh karena keadaan ekonomi yang buruk dan kemiskinan membuat orang dengan terpaksa menjual tanahnya sebagai gadaian dan bahkan menjual anak atau dirinya sebagai budak untuk menghapus utang. Akan tetapi, ada aturan bahwa seorang budak harus dibebaskan pada tahun ketujuh (Tahun sabat) dan pada tahun ke lima puluh (Tahun Yobel). “Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun ke tujuh ia dijinkan keluar  sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa” (Kel. 21,2).

Pada tahun kelima puluh tanah-tanah yang terpaksa dijual karena kemiskinan harus dikembalikan pada miliknya karena tanah ini merupakan anugerah Allah bagi bangsa Israel, tanah janganlah dijual mutlak  karena Tuhanlah pemilik tanah, sedangkan orang-orang israela adalah  orang asing dan pendatang bagi Allah, (Imamat 23,23) juga harus dibebaskan kaum budak :”Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan diri kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu. Kemudian ia harus diijinkan keluar dari padamu,ia bersama anak-anaknya , lalu pulang kembali kepada kaumnya da ia boleh pulang  ke tanah milik nenek moyangnya”(Im. 25,39-41). Motif dasar dari pembebasan ini adalah tindakan pembebasan Allah yang dilakukan atas Israel. Hal ini menjadi tuntutan etis dan moral bagi Israel.

6.2 Perkembangan pemahaman

Perkembangan lebih lanjut dari firman jangan mencuri diacu pada pencurian barang. Pencurian barang milik orang lain jelas bertentangan dengan prinsip keadilan yang memerintahkan memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Dalam perjanjian lama milik bukanlah hak mutlak sebab yang menjadi pemilik mutlak adalah Allah sendiri. Yang dilarang dalam firman ini adalah pencurian dari atas, tanpa mengabaikan pencurian dari bawah. Dalam kitab ulangan dikatakan “Jika ia seorang miskin, janganlah engkau tidur dengan barang gadaiannya. Kembalikanlah barang gadaian itu kepadanya sebelum matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan memakai kainnya sendiri dan memberkati engkau. Maka engkau akan menjadi benar di hadapan Tuhan Allahmu”(Ul. 24, 12-13).

Para nabi terutama Amos mengkritik para penguasa dan kaya  serta para penikmat karena mereka telah bersikap masa bodoh terhadap nasib orang miskin, bahkan mereka berbuat curang terhadap orang miskin. Nabi Mika mengkritik para spekulan dan pencatut tanah: “Yang menginginkan ladang-ladang, mereka merampasanya, dan rumah-rumah, mereka menyerobotnya; yang menindas orang dengan rumahnya, manusia dengan milik pusakanya”.(Mika 2,2). Pencurian dari atas ini dapat dilihat dalam peristiwa penyerobotan Raja Ahab yang menginginkan tanah milik Nabot seorang miskin. Ahab bersama permaisurinya Izabel berdaya upaya  untuk merebut  tanah milik Nabot dengan fitnah sehingga Nabot dihukum mati. Lalu Elia menubuatkan hukuman berat atas raja Ahas dan keturunannya karena kejahatannya itu.

Firman jangan mencuri diperluas maknanya sampai pada makna sosial dari milik. Kekayaan adalah anugerah Allah yang diberikan kepada semua manusia dan ditujukan kepada seluruh manusia. Maka bertentangan dengan firman jangan mencuri tindakan penumpukan kekayaan oleh segelintir orang sehingga menimbulkan penderitaan dan kemiskinan bagai sebagian besar orang. Adalah satu tindakan jahat membiarkan orang lain mati karena keserakahan dan kerakusan seseorang.

Dalam konteks sekarang,  firman ketujuh memperoleh aktualisasinya dalam memperlakukan manusia. Manusia janganlah dijadiakn objek atau direduksi hanya sebagai alat produksi. Bagaimanapun juga, manusia harus tetap menjadi subjek, dan tujuan dari segala aktivitasnya. Adalah bertentangan dengan dengan firman ketujuh yang membuat manusia sebagai objek untuk memperkaya diri, misalnya seorang dokter atau psikolog yang menggunakan kesempatan dalam proses pengobatan, kaum majikan yang menggaji karyawan dengan  gaji di bawah standar minimum. Tindakan eksploitasi terhadap para papa miskin dan kaum buruh jelas bertentangan dengan prinsip keadilan yang sangat erat berhubungan dengan firman ketujuh.

Jurang yang semakin lebar antara kaum kaya dan kaum miskin menuntut adanya keadilan dalam pemerataan pembagian hasil dan pemberian kesempatan yang sama. Untuk itu, dibutuhkan juga solidaritas antar manusia, antar golongan, antar negara. Solidaritas menuntut kesediaan mereka yang punya untuk dengan rela hati mau membagi kepada mereka yang miskin dan berkekurangan.

Firman ketujuh melindungi  pribadi manusia  melalui perlindungan pada hak milik yang merupakan dasar untuk menjamin kebebasan sebagai manusia. Firman ketujuh juga mengajak kita untuk memperhatikan kaum miskin sehingga merekapun dapat memenuhi tuntutan minimal untuk hidup sebagai manusia. Prinsip keadilan dan cinta kasih mendapat wujud konkrit dalam pelayanan kepada kaum miskin, di mana Kristus sendiri mengidentifikasikan dirinya dalam dan melalui mereka. Hal-hal yang perlu dipahami dalam terang firman jangan mencuri: tindakan memperlakukan manusia sebagai budak dalam kasus para pembantu yang dibayar dengan gaji rendah dan jam kerja non-stop (bentuk-bentuk baru perbudakan); para karyawan pabrik yang dibayar rendah dalam sistem ekonomi kapitalis (the primacy of capital over labour). “Manusia yang dibebaskan Allah tidak boleh dijadikan korban kepentingan ekonomi”.

Kasus penjarahan masal, apakah dibenarkan secara moral, melakukan pencurian karena situasi mendesak demi mempertahankan hidup? Kasus korupsi yang dilakukan oleh para bos, atau juga pencurian waktu yang dilakukan oleh para karyawan, bagaimana secara moral?

Tuntutan untuk membangun persaudaraan sejati dalam terang iman kepada Yesus, dengan memperlakukan setiap manusia sebagai saudara, tidak pernah dibenarkan menjadikan orang lain sebagai obyek,  dan kepadanya setiap orang memiliki tanggung jawab.

BAB VII  FIRMAN IX (PERINTAH VIII):

JANGAN MENGUCAPKAN SAKSI DUSTA TENTANG SESAMAMU

 

1. Maksud awal:

Larangan untuk bersaksi dusta erat kaitannya dengan perkara di pengadilan. Teks kel. 20,16 saksi dusta yang berasal dari kata hibrani syaker yang artinya dusta –àada unsur kesengajaan, tahu bahwa itu salah. Sedangkan dalam teks Ulangan 5,20 mengacu pada larangan untuk bersaksi palsu yang berasal dari kata Ibrani syave. Dalam hal ini orang memberi kesaksian tapi tidak diverifikasi terlebih dahulu, belum dibuktikan kebenarannya. Tujuan semula dari firman ini adalah melindungi orang dari tuduhan palsu yang berdampak negatif, merusak nama baik atau bahkan menentukan hidup matinya seseorang. Hal ini dapat dipahami dalam konteks tradisi Israel kuno di mana  proses pengadilan dilakukan di pintu gerbang kota.

Dalam proses pengadilan tersebut  kedudukan 2 orang saksi  sangat menentukan nama baik dan hidup seseorang yang dituduh bersalah. “… maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan  perbuatan jahat itu ke luar pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus dilempari  dengan batu sampai mati. Atas kesaksian dua atau tiga orang saksi haruslah mati dibunuh orang yang dihukum mati”.

Dalam masyarakat Israel kita bisa melihat  bahwa seorang benar dapat terpaksa harus mati karena  kesaksian palsu dari kedua orang saksi palsu.  Karena keserakahan, iri hati dan ambisi pribadi, raja Ahaz membunuh nabot  melalui kesaksian palsu. Juga Susana  karena ia tidak memenuhi keinginan nafsu seksual kedua hakim yang bejat, akhirnya Susana dihukum rajam karena kesaksian palsu kedua hakim jahanan (Daniel 13,1-49).

Secara positif firman jangan bersaksi dusta tentang sesamamu mengajak  orang untuk membela kebenaran demi menyelamatkan  orang benar dari tuduhan yang tidak benar. Memberi kesaksian berarti  memberi keterangan  dan penegasan atas apa yang  telah terjadi. Seorang saksia adalah orang yang sungguh  turut menyaksikan  suatu tindak kejahatan. Maka seorang saksi yang benar dan jujur  akan mendukung  proses pengadilan yang  adil.

Dengan demikian firman ini mau menjamin keadilan di hadapan pengadilan, menjamin proses pengadilan yang bersih, jujur dan benar, menegakkan kepastian hukum sehingga orang tidak main-main dengan kebenaran. Yesus sendiri  mengatakan kalau ya katakan ya, kalau tidak  katakan tidak, selebihnya berasal dari si jahat. Kebenaran dan keadilan dalam pengadilan sering kali dirongrong oleh  kebiasaan suap.

Keadilan dan kebenaran bisa dikorbankan karena uang, sehingga orang miskin yang tidak punya uang sering kali menjadi korban. Hal ini sering dilakukan bahkan sudah menjadi kebiasaan. Kitab suci melaporkan hal demikian: “Celakalah mereka yang membenarkan orang fasik karena suap, yang memungkiri  hak orang benar” (Yes. 5,22-23).

 Nabi Amos sendiri terkenal sebagai nabi yang berani mengkritik ketidakailan yang dilakukan oleh para penguasa dan orang kaya: “Dosamu berjumlah besar hai kamu yang menjadikan  orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan mengesampingkan  orang muskin di pintu gerbang” (Amos 5,12). Dalam kitab Ulangan ditegaskan hal keadialan di pengadilan: “Dalam mengadili janganlah  pandang bulu, sebab pengadilan adalah hak Allah” (Ul. 1,17).

2 Perkembangan makna

Firman ini dalam pemahaman selanjutnya tidak hanya terbatas pada perkara pengadilan yang harus dilakukan secara benar dan adil, tetapi juga menunjuk pada ajakan untuk hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran adalah konsekuensi dari iman kepada Allah, yang adalah sumber segala kebenaran, bahkan kebenaran tertinggi. Sabda dan hukumNya adalah kebenaran. Kristus sendiri menampilkan  diriNya sebagai kebenaran, menampilkan anugerah RohNYa sebagai Roh kebenaran (Yoh 14,17) yang membimbing pada  para murid pada kebenaran. Kristus sendiri di hadapan Pilatus, Ia sendiri  menyatakan bahwa kedatangannya ke dunia untuk  memberi kesaksian tentang kebenaran (Yoh. 18,37). Hal ini mengajak umat Kristiani untuk berani  memberi kesaksian tentang kebenaran. Kristus juga telah menjadi saksi kebenaran sampai Ia sendiri mati karena kebenaran. Ini adalah tindak kemartiran. Kemartiran adalah kesaksian tertinggi  dalam memberi kesaksian tentang kebenaran iman. Hal ini diungkapkan dalam pilihan kita untuk memilih nilai yang lebih tinggi, nilai moral dan kebaikan interior atau kekudusannya sendiri. Kehidupan fisik adalah relatif dalam hubungannya dengan  kehidupan spiritual  sehingga dalam situasi konflik, secara moral  orang harus memilih kehidupan spiritual. Kebenaran dan kesetiaan Allah  menjadi dasar  atau motivasi  bagi manusia  untuk bertindak benar dan adil.

Perintah kedelapan ini juga mau mengajak orang untuk tidak menipu dan berbohong pada diri sendiri, sesama dan Allah. Kejujuran terhadap diri sendiri merupakan dasar moralitas. Dalam realitas sehari-hari, ketidakberanian orang untuk mengatakan kebenaran sering kali dikondisikan oleh faktor-faktor keamanan. Orang yang vokal dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan biasanya tidak lama dalam jabatan atau tugas yang dipercayakan kepadanya, ia menderita dikucilkan dan difitnah, dipecat dll.

Katekismus memperluas cakupan firman kedelapan ini pada hal kebebasan dalam mengungkapkan dan menyuarakan kebenaran. Sejauh manakah kita harus mengatakan kebenaran dalam hidup sehari-hari. Apakah benar dan bijaksana mengatakan semua apa adanya dan di mana saja? Apakah etis menelanjangi kesalahan orang di depan banyak orang? Tentu saja dalam mengungkapkan kebenaran kita harus memperhatikan integritas pribadi orang lain dan memperhatikan kepentingan umum. Untuk itu, dalam mengungkapkan kebenaran orang harus bijaksana.

Berkaitan dengan hak atas informasi, maka hak tersebut harus diarahkan oleh kebenaran, kebebasan, cinta kasih dan solidaritas. Dalam kaitan dengan persoalan ini, KV II melalui Inter Mirica (IM) mengatakan:

„Di dalam masyarakat manusia terdapat hak atas informasi mengenai hal-hal yang sesuai dengan manusia baik perorangan maupun tergabung dalam masyarakat, menurut situasi masing-masing. Akan tetapi, pelaksanaan hak ini secara tepat menuntut agar mengenai isi, komunikasi selalu benar dan utuh, sambil memperhatikan keadilan dan cinta kasih. Selain itu, mengenai caranya, hendaklah berlangsung dengan jujur dan memenuhi syarat; maksudnya, hendaknya komunikasi itu mengindahkan sepenuhnya hukum-hukum moral, hak-hak manusia yang semestinya serta martabat pribadinya, baik dalam mencari maupun dalam menyebarkan berita; karena bukan semua pengetahuan menguntungkan, hanya cinta membangun’ (1 Kor 8:1)“ (IM 5)

Penilaian moral atas informasi yang benar hanya  keluar dari maksud  demi kebaikan umum, disesuaikan  dengan  prinsip keadilan, kebenaran, kebebasan dan solidariatas. Masyarakat mempunyai hak untuk memperoleh informasi yang benar dan utuh, tidak dimanipulasi.

Mereka yang bertanggung jawab dalam bidang percetakan dan media massa/informasi mempunyai kewajiban moril untuk memperhatikan kebenaran dan kasih dalam memberikan informasi yang proporsional, akurat, tepat dan tidak menyesatkan serta tidak meresahkan dan mengganggu kesejahteraan umum.  Tugas luhur mereka yang terlibat dalam pelayanan  penyebarluasan informasi adalah membentuk opini publik yang sehat, membentuk suara hati yang benar. „setiap pelanggaran melawan keadilan dan kebenaran membawa serta kewajiban untuk pemulihan, juga apabila pengampunan sudah diberikan kepada pencetusnya“ (Kat. 2487).

Yang harus diperhatikan adalah bahwa dalam menyampaikan kebenaran, orang harus memperhatikan  keadaan dan kesiapan orang yang akan menerimanya. Harus dilakukan berdasarkan kasih dan bijaksana, misalnya kebenaran yang menyangkut keadaan pasien.

Berkaitan dengan rahasia jabatan: dokter,militer, hakim: informasi pribadi yang merugikan orang lain, tidak boleh disebarluaskan  tanpa dasar yang memadai. Berkaitan dengan kode etik dalam pengakuan dosa, pelayan pengakuan dosa tidak boleh dengan keras membocorkan rahasia pengakuan dosa (Kan. 983).

Firman ini juga melarang orang untuk berdusta, artinya orang mengatakan yang tidak benar dengan maksud  untuk menyesatkan. Dusta berasal dari iblis: “Iblislah bapamu, …. Ia tidak pernah memihak kebenaran, sebab tidak ada kebenaran padanya. Kalau ia berdusta, itu sudah wajar karena sudah begitu sifatnya. Ia pendusta dan asal segala dusta” (Yoh. 8,44). (Bdk. Kat. 2482). “dusta adalah pelanggaran paling langsung terhadap kebenaran. Berdusta berarti berbicara atau berbuat melawan kebenaran untuk menyesatkan seseorang yang mempunyai hak untuk mengetahui kebenaran” (Kat. 2483).

Firman ini juga melarang orang untuk memfitnah, yaitu menyampaikan kesalahan dan pelanggaran seseorang  kepada orang lain yang tidak tahu menahu mengenai hal itu tanpa dasar yang obyektif dan sah;  membuat penilaian yang lancang, tanpa bukti yang memadai.(Bdk. Kat. 2477)

Firman jangan bersaksi dusta tentang sesamamu juga mau membangun tata hidup bersama atas dasar kebenaran dan saling percaya. “Manusia tidak dapat hidup bersama dalam suatu masyarakat  kalau tidak saling mempercayai, sebagai orang yang menyatakan kebenaran satu sama lain” (Summa Theologiae II-II, q. 103, a.3). 

Di samping itu, firman kedelapan ini juga mengajak orang untuk  tidak berbohong kepada diri sendiri, tidak mentolerir kesalahan diri sendiri. Kita harus menghindari sikap munafik. Sikap kita yang mendiamkan kejahatan dan ketidakadilan berarti kita telah melanggar firman ke delapan. Hal ini didukung oleh budaya sungkan yang dipupuk dalam kultur feodalisme.

Kesimpulan

Firman jangan bersaksi dusta dimaksudkan untuk menjamin kebenaran dan keadilan dalam proses pengadilan, sehingga hak orang kecil dan lemah  tidak dikorbankan. Di samping itu, firman ini mau menegaskan bahwa tata hidup bersama dapat diupayakan hanya jika kepercayaan yang menjadi dasar hidup bersama tidak dirusak. Firman ini juga menegaskan panggilan  kita dan setiap orang yang berkehendak baik untuk   hidup dalam kebenaran, menjadi saksi kebenaran,  karena kebenaranlah yang akan memerdekakan kita.(Bdk. Yoh. 8: 32)

 

BAB VIII FIRMAN IX:

JANGAN INGIN BERBUAT CABUL

 

8.1 Makna awal

Rumusan asli dari perintah ini berbunyi: “Jangan mengingini istri sesamamu” (Ulangan 5,21a). Kata Ibrani yang merujuk pada perintah ini adalah kata hamad yang artinya mengingini. Dalam konteks ini mengingini  bukan sekedar mengingini dalam hati, tetapi sudah mengacu pada tindakan mengambil apa yang diinginkan. Dengan demikian, mengingini istri sesamamu berarti  lebih dari sekedar rangsangan hati. Dalam perintah kesembilan ini, larangan untuk mengingini istri sesama disertai oleh usaha untuk mengambilnya untuk dijadikan miliknya.

Yang dipertaruhkan dalam firman ini adalah kelangsungan dan stabilitas keluarga orang  lain yang dilakukan oleh pihak ketiga yang berusama memisahkan istri dan ibu, menghancurkan keharmonisan keluarga orang lain. Dengan demikian, firman ini bermaksud menjaga keutuhan keluarga dan melindunginya dari nafsu tak terkendali pihak ketiga.

8.2 Perkembangan makna

Perintah jangan mengingini istri sesamamu diperluas cakupannya bukan hanya keingingan hati yang mengarah pada tindakan mengambil istri orang lain, tetapi mengajak orang untuk menjaga kemurnian hatinya. Kalau perintah ke-6 lebih mnegacu pada tindakan lahiriah, sedangkan perintah ke-9 lebih ke sikap hati yang tidak murni, yang mencanangkan kejahatan mengambil istri orang. Mengapa kemurnian ini mendapat penekanan? Sebab pada hakikatnya segala dosa dan kejahatan berawal dari sikap hati yang tidak murni,bersih. Yesus sendiri dalam kotbah di bukit menekankan sikap hati/disposisi batin yang baik. ”Barang siapa memandang seorang wanita dengan nafsu birahi birahi, dia  sudah berjinah dengan wanita itu dalam hatinya” (Mat. 5,28). Dalam teks ini kita bisa melihat bahwa moral Yesus yang radikal adalah moral hati, sehingga zinah bukan hanya persoalan tindakan lahiriah, tetapi sikap hati yang melanggar kemurniannya. Hati adalah  tempat munculnya  kebaikan dan kejahatan: “Dari hati timbul segala pikiran jahat, perjinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, hujat” (Mat. 15,19). Berkaitan dengan soal keinginan, St. Yohanes membedakan tiga macam hawa nafsu atau keinginan: keinginan daging, keinginan mata dan kesombongan dunia. Perintah kesembilan ini mengacu pada keinginan daging. Rasul Paulus menggunakan kata keinginan pada pemberontakan daging melawan Roh (Gal. 5,16-17,24). Setiap orang diajak untuk menjaga kemurnian hati, mengendalikan keinginan dagingnya dan membiarkan diri diarahkan oleh Roh Allah. “Roh Allah sudah memberikan  kepada kita hidup yang baru, oleh sebab itu, Dia jugalah harus menguasai hidup kita.”(Gal. 5,25). Untuk mencapai kemurnian hati, orang dituntut ungtuk mengendalikan dirinya, tidak hidup dikuasai dan diperbudak oleh nafsu, tetapi diarahkan oleh akal budi dan disinari oleh Roh Allah sendiri. Orang yang telah dibebaskan dari perhambaan dosa harus selalu berjuang  demi kemurnian. Dengan bantuan rahmat Allah orang mampu hidup baik ( Bdk. Katekismus 2520).

 

FIRMAN X (perintah X):

JANGAN MENGINGINI MILIK SESAMAMU

 

1 Maksud awal

Dalam rumusan keluaran dikatakan: “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki atau perempuan, atau lembunya atau keledainya  atau apa pun yang dimiliki sesamamu” (Kel. 20,17). Sedangkan dalam versi Ulangan dikatakan: “Janganlah mengingini istri sesamamu, dan jangan menghasratkan  rumahnya atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu” (Ul. 5,21). Dari kedua versi teks ini dapat kita lihat suatu perbedaan susunan.

Dalam teks keluaran istri diletakan setelah rumah sedangkan dalam teks Ulangan, sebaliknya istri ditempatkan pertama. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran  pemahaman bahwa dalam teks keluaran istri disejajarkan dengan barang milik, sedangkan dalam teks ulangan istri ditempatkan diatas barang milik, sebagai pribadi. Dalam perintah kesepuluh ini yang mau ditekankan adalah perlindungan harta milik dalam hal ini rumah dan tanah pusaka dari tindakan penyerobotan pihak lain. Dengan kata mengingini tidak semata-mata keinginan biasa tetapi keinginan yang sudah mengarah pada tindakan mengambil punya orang lain secara tidak adil (bdk. Ul. 7,25). Yang dilarang adalah mengingini sesuatu yang bukan hak dan miliknya.

Dalam tradisi PL rumah itu merupakan tempat tinggal tetap yang berbeda nilainya dengan kemah atau gubuk untuk  berteduh. Rumah beserta tanahnya merupakan milik pusaka yang harus dilindungi dari tindakan keserakahan dan kesewenang-wenangan penguasa. Tanah adalah basis untuk hidup, bahkan yang dijanjikan Allah. Yang menjadi pemilik mutlak tanaha adalah Yahwe sendiri sebab umat Israel sendiri memperolehnya dari Allah. Dengan demikian, tanah tidak boleh dijual mutlak maka ada aturan pada tahun kelima puluh  tanah yang digadekan karena situasi kemiskinan harus dikembalikan.   

2 Perkembangan makna

Selanjutnya firman jangan mengingini milik sesama diperluas jangkauannya pada perlindungan hidup orang miskin dari tindakan sewenang-wenang: penyerobotan. Juga firman ini menyangkut larangan  untuk meminjamkan uang dengan riba, dan hal-hal yang perlu untuk hidup tidak boleh diambil sebagai gadaian (Ul. 24,6, 12-13, 17-18). Hal ini banyak disuarakan oleh para nabi yang melihat ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh orang berkuasa (bdk. Amos 4,1-3).

Dalam kitab Yesaya dikatakan: “Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan mencekau ladang demi ladang sehingga tak ada lagi tempat bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di dalam negeri”.( Yes. 5,8). Berkaitan dengan penyerobotan tanah oleh penguasa dapat dilihat dalam contoh pengambilan tanah milik Nabot secara paksa oleh raja Ahaz.

Firman “jangan mengingini milik sesamamu” memiliki relevansi sangat kuat kalau kita  kaitkan dengan tindakan penyerobotan dan penggusuran yang dilakuan oleh para penguasa dan orang kaya. Berapa ribu hektar tanah yang digusur secara paksa oleh penguasa untuk kepentingan proyek-proyek mereka: lapangan golf, pabrik-pabrik, real estate dll. Berapa juta petani harus meninggalkan secara paksa tanah milik dan warisannya hanya karena keserakahan dan kerakusan segelintir orang. (Lihat    X pos edisi no. 44/I, 31 Oktober-6 November 1998).

Dalam Katekismus gereja katolik memberikan penjelasan dari perintah X ini dengan mengacu pada tindakan untuk mengendalikan keinginan yang berawal dalam hati manusia. Perintah ini melarang keinginan barang orang lain karena dari keinginan itu lahir pencurian, perampokkan dan penipuan. Keinginan yang tak terkontrol dapat mengarah pada tindak kekerasan bahkan pembunuhan.

Perintah X ini melarang keserakahan dan keinginan tanpa batas akan barang-barang duniawi,  sikap rakus dan nafsu uang. Pada prinsipnya menginginkan itu sendiri tidaklah jahat, sejauh orang hendak mendapatkannya dengan  cara-cara yang benar dan adil, tetapi menjadi buruk kalau keinginanan akan barang-barang tersebut dipenuhi dengan melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum moral dan  prinsip keadilan.

Pada hakikatnya keinginan yang mengarah pada keserakahan berawal dari asumsi bahwa dengan memiliki barang ini aku akan bahagia, akan tetapi yang namanya manusia keinginannya itu selalu muncul, yang satu terpenuhi sudah menanti keinginan lain yang harus dipuaskan. Hal ini dapat dilihat dari contoh orang yang sudah kecanduan narkotik, ia akan selalu ingin mengecap keadaan flay ini dan begitu kecanduannya, maka akhirnya ia akhirnya menjadi budak narkotik. Kebahagiaan yang selama ini ia dambakan teryata malah menyiksa dirinya, membuat dirinya semakin tidak bebas. Epikuros mengatakan: jika kamu menginginkan orang lain bahagia janganlah menambah apa yang telah ia miliki, tetapi ambillah dari keinginan-keinginannya. Dengan kata lain, ketamakan tak dapat dipuaskan  dengan memenuhi sesuatu yang diinginkan tetapi dapat disembuhkan dengan menghilangkan keinginan tersebut. 

 Bentuk sederhana dari ketamakan  adalah ketamakan atas hal-hal material, uang dan atas hal-hal yang dapat dibeli dengan uang. Kitab suci mengatakan bahwa nafsu uang adalah akar dari segala  kejahatan: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai duka”. (1 Tim. 6,10).

Perintah ini juga mengajak  orang untuk  menjauhkan rasa iri dari hati manusia. Rasa iri muncul pada saat melihat orang lain memiliki sesuatu lalu dalam hatinya ingin memiliki barang tersebut, dan untuk memperoleh barang tersebut ia menempuh cara apapun termasuk yang dilarang hukum. Rasa iri menghantar orang pada tindakan-tindakan terjahat yang akhirnya membawa pada kematian (lihat Yakobus 4,1-2).

Untuk menjauhkan sikap tamak dan rakus maka kita harus mengembangkan sikap murah hati sesuai dengan apa yang dikatakan Santo Fransiskus dari Asisi: “Dengan memberi aku menerima!”. Di samping iti kita harus mengembangkan sikap hati yang miskin, melepaskan diri dari kelekatan pada materi: “Dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6,21). “Umat kristiani diminta untuk mengarahkan keinginan hati yang tepat supaya mereka  dalam mengejar cinta kasih  yang sempurna jangan dirintangi  karena menggunakan hal-hal duniawi dan melekat pada kekayaan melawan semangat kemiskinan menurut Injil” LG no. 42. Setiap orang yang telah menerima Kristus dalam dirinya, maka ia harus menyalibkan  daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5,24); dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus(Rom. 8,27). Hal ini sangat relevan dalam situasi dunia sekarang ini dimana kita dihadapkan pada tawaran-tawaran yang menawarkan nikmat dan firdaus dunia, terutama didukung oleh teknologi periklanan yang canggih.

Kesimpulan

Dalam firman ini yang dilarang bukan hanya mengingini rumah sesama, tetapi juga semua yang ada didalamnya: anak-anak dan hamba laki-laki dan perempuan, serta barang lainnya. Dengan adanya firman ini yang mau dikatakan adalah bahwa tata hidup bersama dirongrong dan diancam bukan hanya oleh tindakan lahiriah, tetapi juga oleh niat jahat di hati: mengingini dan menghasratkan milik sesama secara tidak benar.

 

 FIRMAN  III:

KUDUSKANLAH HARI SABAT

 

Maksud awal

Teks Kel.20, 8-11 Dalam teks ini motivasi dasar dari sabat adalah meniru pola kerja Allah, bekerja selama enam hari dan pada hari ketujuh ia beristirahat. Di samping itu, sabat merupakan antisipasi dari sabat abadi setelah manusia selesai dalam memenuhi tugas hidupnya, beristirahat di hadirat Allah.Dengan beristirahat pada hari ketujuh manusia diajak untuk merenungkan seluruh karya dan aktivitasnya dan menyadarkan manusia bahwa ia tidak cukup hanya mengandalkan usahanya sendiri. -à praxis –à Refleksi –à praxis baru. 

Sabat memiliki makna penting pada saat bangsa Israel hidup di tanah pembuangan, di mana bangsa Israel bertemu dengan bangsa-bangsa asing dan ada godaan meniru pola hidup bangsa lain yang tidak mempunyai tradisi sabat. Institusi sabat ini mau mengingatkan bangsa Israel agar mereka hidup sesuai dengan identitas mereka sebagai bangsa pilihan Allah yang telah dibebaskan dari perbudakan Mesir.

Dalam Teks ulangan 5,12-15 yang menjadi motivasi awal sabat adalah pengalaman pembebasan yang telah dialami bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Sebagai mana mereka telah dibebaskan Yahwa, demikian pula mereka harus membebaskan orang.-orang yang bekerja dalam ketergantungan pada orang  lain. Para hamba laki-laki dan perempuan, bahkan lembu harus menikmati istirahat dan saat pembebasan. Sabat memiliki dimensi sosial dan moral  yakni menjadi saat pembebasan bagi mereka yang selama enam hari bekerja dalam ketergantungan. (bdk. Katekismus no. 2170)

Perkembangan makna

Dalam perkembangan selanjutnya, sabat direduksi pada sikap legalistis seperti dihayati oleh kaum Farisi. Mereka membuat banyak aturan sampai ke hal-hal kecil, mengatur jalan sampai berapa langkah, tidak boleh memasak, tidak boleh meyembuhkan orang. Dengan banyaknya peraturan yang harus ditaati, sabat bukannya sebagai saat pembebasan dan istirahat, tetapi justru menjadi beban yang membelenggu dan menindas.  Berhadapan dengan sikap legalistis kaum farisi, Yesus mengembalikan sabat pada motivasi awalnya yakni sebagai hari Tuhan, saat pembebasan sehingga berhadapan dengan orang yang sakit Yesus lebih memperhatikan hidup dan keselamatan manusia, membebaskan manusia dari perbudakan penyakit yang selama ini membelenggu mereka. Sabat dibuat untuk manusia bukannya manusia untuk hari sabat. Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Hari sabat ditujukan untuk memanusiakan manusia bukan sebaliknya.

Dalam tradisi kristen, sabat digeser ke hari Minggu yang merupakan hari untuk merayakan hari  kebangkitan Yesus, kelahiran baru. Dalam merayakan hari Tuhan , orang tidak dilarang bekerja dan berbuat baik. Jerome dalam surat 108,20 menceritakan bahwa hari Tuhan ini dipraktekkan oleh kelompok religius – suster di Betlehem. Pada hari Tuhan mereka bersama pergi ke gereja  di sebelah rumah mereka, setiap kelompok mengikuti pemimpinnya. Pulang ke rumah lalu menyelesaikan tugas mereka  dan membuat pakaian  bagi mereka sendiri maupun bagi keperluan  orang lain. Dengan kata lain, setelah ibadah di hari Tuhan, pekerjaan dalam komunitas berjalan normal.  Dalam katekismus pun dijelaskan bahwa Sabat adalah saat merenung, berefleksi sehingga manusia dapat memperkembangkan hidupnya. Institusi sabat dibuat untuk membantu semua orang supaya mendapat istirahat dan mempunyai waktu luang secukupnya  untuk menghayati  nilai hidup keluarga, budaya, sosial dan keagamaan. (  Kat. no. 2117 bdk. GS no. 67).

Orang Kristen harus hati-hati  agar jangan tanpa alasan berat mewajibkan orang lain melakukan sesuatu  yang dapat menghalangi  mereka untuk merayakan hari Tuhan. Dalam istilah yang lebih konkret kita beristirahat pada hari minggu bukan sebagai tujuan tetapi sebagai sarana. Memang umat kristiani mempunyai kewajiban moral untuk merayakan hari Tuhan melalui perayaan ekaristi dan doa-doa lainnya, tetapi hal ini tidak berarti orang tidak boleh melakukan sesuatu. Bagi mereka yang bekerja untuk melayani kepentingan publik, perawat di rumah sakit, para dokter, para karyawan lainnya dapat terus melaksanakan tugas mereka dengan tenang, yang harus diperhatikan adalah bahwa para majikan harus memberi kesempatan kepada para karyawan untuk menunaikan tugas kewajiban keagamaannya.

Di samping itu, hari Minggu merupakan hari keluarga, saat yang tepat untuk mengunjungi sanak saudara, memberi perhatian kepada kaum lanjut usia, orang.-orang sakit. Walaupun tuntutan dan desakan ekonomi, para majikan hendaknya memberi kesempatan kepada para karyawan waktu khusus untuk menunaikan kewajiban agamanya. Ini adalah tuntutan dasar dan termasuk hak asasi yang harus diakui dan dilindungi.

Firman ketiga ini juga mau menyoroti  makna kerja bagi manusia. Dalam kitab kejadian kerja keras untuk mencari nafkah merupakan kutukan dari Allah karena manusia jatuh kedalam dosa: “Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan  dari buah pohon yang telah kuperintahkan kepadamu: jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau, dengan bersusah payah  engkau akan mencari rejekimu dari tanah seumur hidupnya” Kej. 3,17. Akan tetapi, dalam pemahaman teologis kerja memiliki makna sebagai partisipasi dalam karya penciptaan Allah, untuk  mengolah dan mengembangkan dunia. Kerja juga memiliki arti antropologis yakni mengembangkan dan menyempurnakan manusia, dengan dan melalui kerja manusia semakin memanusiakan dirinya. Di samping itu, kerja memiliki arti sosial yakni memberikan kesempatan kepada manusia untuk menjalin relasi dengan sesamanya. Kerja juga memiliki makna ekonomis yakni memberikan nafkah kepada manusia. 

  • Pada saat ini, orang menggeser makna hari sabat, hari minggu untuk rekreasi, lebih dari pada menguduskannya bagi Allah.
  • Bagi mereka yang sudah pensiun atau bagi mereka yang tidak bekerja, menganggur, apakah makna sabat bagi mereka?
  • Untuk konteks jaman sekarang, di mana orang  bekerja hanya 5 hari, apakah makna hari sabat?

 

BAB XI

HUKUM BARU

 

Dalam bagian ini kita akan membahas tema hukum baru: kodrat hukum baru, hubungannya dengan hukum lama, isi hukum baru. Kitab suci dan tradisi gereja telah menggunakan istilah hukum baru untuk menunjukkan norma-norma dasar kehidupan kristiani. Santo Paulus mengatakan:”Karena itu tak ada lagi hukuman apapun bagi mereka yang berada dalam Kristus Yesus. Oleh karena hukum Roh yang memberi hidup  dalam Kristus Yesus telah membebaskan kamu dari hukum dosa dan dari kematian.” Dari uraian tersebut Paulus memberikan secara sistematis kekayaan hukum baru.Dalam kitab perjanjian lama juga telah memuat secara implisit  wahyu tentang hukum baru yang kemudian diambil kembali dan diperdalam dalam teks-teks Perjanjian Baru. Santo Tomas Aquinas mendasarkan diri pada teks-teks kitab Suci pada saat ia berbicara mengenai hukum baru. Untuk itu, kita akan mengacu  pada apa yang dibahas oleh Tomas Aquinas dalam Summa Theologiae I-II, q. 106- 108. Tomas Aquino membicarakan hukum baru dalam konteks hukum secara umum dan mengaitkannya dengan hubungan antara hukum dan rahmat. Menurut Thomas ada dua prinsip yang mempengaruhi hidup manusia. Prinsip yang mengarah pada kejahatan adalah Setan, sedangkan prinsip yang mengarah pada kebaikan adalah Allah.

11. 1 Definisi Hukum Baru

Thomas dengan  mendefinisikan hukum baru ia tidak meletakkan kebaruan etika dan yuridis, tetapi terlebih kebaruan ontologis. Partisipasi manusia dalam kehidupan  ilahi melalui rahmat yang dihembuskan oleh Roh Kudus . Dengan demikian Thomas menyatakan bahwa Hukum baru adalah hukum perjanjian baru yang dicurahkan ke dalam hati manusia. Perjanjian baru bukannya perjanjian yang ditulis dengan huruf-huruf tetapi perjanjian Roh kudus yang ditulis dalam hati oleh Roh Kudus yang menghidupkan. Roma 8,2 menegaskan bahwa hukum Roh itu menghidupkan. Apa yang esensial dalam hukum Roh adalah Rahmat Roh Kudus. Hukum baru merupakan anugerah Roh Kudus, diberikan kepada mereka yang percaya kepada Kristus. Hal ini dikatakan secara jelas oleh Paulus.

Teks Roma 8,2 menyatakan nilai hukum baru sebagai anugerah Roh kudus: adalah Roh pentekosta yang menyatakan,meletakkan dalamm hati manusia satu hukum. Sejak permulaan traktat tentang tentang hukum baru, Tomas mengacu pada nubuat Yeremia berkaitan dengan hukum yang ditulis dalam hati: “Apakah hukum-hukum Allah yang ditulis dalam hati  jika bukan kehadiran Roh kudus” (ST, I-II, q. 106, a. 1). Gerakan dan penerangan ada juga dalam Summa Theologica yang ditunjukkan sebagai dua tugas dasar yang Roh Kudus curahkan dalam hati umat yang percaya. Orang yang benar dicurahkan oleh Roh kudus secara radikal sehingga karya-karyanya dapat dikatakan karya Roh Kudus itu sendiri.

Pemikiran Tomas menyoroti aspek-aspek penting dengan tujuan memberikan usulan metodologi dalam teologi moral. Aspek yang pertama  diberikan oleh dimensi interioritas sebagai mana diungkapkan dalam kotbah di bukit. Aspek kedua terletak dalam penekanan kebutuhan iman kepada Kristus  untuk mendefinisikan hukum baru dan hal ini menunjukkan bahwa kehidupan kristiani  mengarahkan dirinya pada Kristus. Hukum baru menampilkan karakter kristologis. Kristus adalah Dia yang memenuhi hukum lama dan pencipta hukum baru.

Lalu muncul pertanyaan: apakah yang dimaksud dengan rahmat menurut Tomas ketika ia berbicara dalam konteks hukum baru? Tak dapat diragukan bahwa yang dimaksud dengan rahmat adalah Roh Kudus yang tinggal dalam diri umat yang percaya kepada Kristus yang menerangi akal budi dan menggerakan kehendak. Rahmat adalah habitus yakni cara berada secara baru, tetapi siapa yang mengatakan habitus mengatakan  kecenderungan untuk bersikap, karena rahmat melampaui kodrat, mengkomunikasikan kecenderungan tersebut. Hukum jemaat Kristiani karenanya adalah rahmat Roh Kudus. Karena itu, rahmat adalah hukum dan secara prinsipiil hukum baru adalah rahmat.Tomas mengulangi kebenaran ini dalam komentar atas surat kepada umat di Roma pada saat ia mengidentifikasikan hukum roh kehidupan dengan hukum baru: Dalam satu cara berbeda hukum  Roh dapat dikatakan efek dari Roh kudus itu sendiri, yakni iman yang bekerja melalui kasih. Dan karena hukum ini mengajar secara interior atas hal-hal yang harus dilakukan dan mengarahkan kehendak  untuk bereaksi menurut apa yang dikatakan dalam 1 Yoh. 2,27: pengurapan yang telah kalian terima dari Dia tinggal dalam diri kalian, dan kalian tidak perlu sesorang lain mengajar kalian; dan mengarahkan kehendak untuk bertindak menurut aoa yang dikatakan dalam 2 Kor. 5,14 : ”Cinta Kristus mendorong kita”. Dan hukum Roh inilah merupakan hukum baru, hukum yang  Roh Kudus sendiri ciptakan dalam hati kita. Yeremia 31,33 mengatakan: Aku akan menempatkan hukumKu di dalam hati mereka, Aku akan menuliskannya dalam hati mereka”.

Ada pernyataan lain yang membuktikan validitas interpretasi ini, yakni pernyataan yang diacu pada  hukum baru sebagai lex indita, quasi naturae supperaddita per gratae donum, ditulis dalam hati yang bukan hanya menunjukkan  apa yang harus dilakukan  tetapi juga membantu untuk merealisasikannya.(ST, I-II, q. 106, a.1, ad 2). 

Hukum baru juga mengandung perintah-perintah yang melengkapi Rahmat dan pelaksanaan Rahmat tersebut. Perintah-perintah ini merupakan elemen sekunder dari hukum baru. Yang prinsipial dalam hukum baru adalah rahmat Roh Kudus, sedangkan yang sekunder adalah perintah-perintah yang tertulis dalam Injil dan juga perintah-perintah moral. (Summa Theologicae I-II, q. 106. Art. 1). Dari sini dapat dilihat karakteristik dari hukum baru yakni karakter interior dari hukum baru yang  berbeda dari hukum lama. Hukum baru tidak ditulis dalam loh batu, tetapi dalam  kodrat manusia yakni dalam hatinya. “Hukum lama ditulis dalam loh batu sedangkan hukum baru ditulis dalam loh yang ada dalam hati manusia  seperti diungkapkan oleh Santo Paulus Rom. 8,2” (Summa Theologiae I-II, q. 106. Art. 2).

Pengarang dan pemaklum hukum baru adalah Kristus sendiri, tetapi hukum baru sebagai  ad extra adalah karya Bapa dan Roh kudus . “Hukum lama bukan hanya karya Bapa, tetapi juga  Putera sebab hukum lama adalah prafigurasi dari Kristus. Sebagaimana Yesus sendiri mengatakan dalam Injil “Jika kalian percaya kepada Musa, kalian percaya juga kepadaKu, sebab Musa telah menulis tentang Aku” Yoh. 1,46. Demikian juga, hukum baru bukan hanya karya Yesus, tetapi juga karya Roh Kudus seperti yang diungkapkan Paulus: “Hukum Roh kehidupan  dalam Yesus Kristus sehingga kalian tidak perlu masih harus menantikan hukum Roh kudus yang lain. (S.T I-II, q. 106. Art. 4). Kalau dikatakan bahwa hukum baru merupakan hukum yang dicurahkan oleh Roh Kudus kedalam hati manusia yang percaya kepada Kristus, apakah bedanya dengan hukum kondrat? Apa yang ditulis dalam Injil mengacu pada rahmat-hukum atau pada kehadiran Roh Kudus di dalam kita.

Dalam tulisan Injil hanya terkandung  apa yang berkaitan dengan  Rahmat Roh Kudus atau sebagai predisposisi atau sebagai  alat yang mengatur penggunaan rahmat yang sama. Yang ditulis dalam hati adalah hukum rahmat tetapi tidak dimaksudkan sama dengan hukum kodrat. Satu prinsip dapat dicurahkan kepada manusia dalam dua cara. Pertama sebagai elemen yang berhubungan dengan kodrat manusia, dan dalam arti ini dicurahkan hukum kodrat. Yang kedua adalah sebagai elemen  yang melampaui kodrat  melalui anugerah rahmat. Dalam arti ini, dicurahkan kedalam manusia hukum baru, bukan hanya sebagai norma penunjuk hal-hal yang harus dilakukan, tetapi juga sebagai bantuan untuk melakukannya. Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan: Tekanan pada kenyataan bahwa hukum baru adalah rahmat kehadiran  Roh kudus. Karakternya interior, tetapi tidak sama dengan   hukum natural. Hubungan prinsipiil/sekunder; dispositivum-ordinativum.

Semua apa yang ditetapkan  dalam artikel kedua Tomas mempertanyakan kemampuan membenarkan dari hukum baru. Sebagaimana telah dikatakan tentang hukum injili berhubungan dengan dua hal. Yang pertama sebagai elemen utama dan konstitutif yakni rahmat itu sendiri yang secara internal diberikan oleh Roh Kudus, Di bawah aspek inilah hukum baru membenarkan. Yang kedua berhubungan dengan hukum injil secara sekunder yakni mengatur perasaan-perasaan dan tindakan manusia. Di bawah aspek ini, hukum baru tidak membenarkan. Seperti dikatakan  oleh Paulus: “Hukum membunuh, sementara Roh menghidupkan (2 Kor. 3,6) dan Santo Agustinus mengatakan dalam bukunya De Spiritu et lettera menjelaskan  bahwa yang dimaksud dengan hukum adalah  setiap tulisan yang ada di luar manusia, juga jika dibicarakan perintah-perintah moral, perintah-perintah yang ada dalam Injil.

Meskipun membantu manusia untuk tidak berdosa, hukum baru  tidak membuat manusia tidak dapat berdosa, oleh karena, hal ini berhubungan dengan status kemuliaan. Akan tetapi, tak dapat dikatakan bahwa karena ini, hukum baru menghasilkan kemarahan karena apa yang ada dalam dirinya sendiri membantu  untuk tidak berdosa. Tetapi harus dicatat bahwa kemampuan  untuk membenarkan  yang ada dalam hukum baru tergantung dari kenyataan bahwa dengan perbedaan-perbedaan dari hukum lama, ditulis oleh Allah diatas loh yang ada dalam hati.

Fakta bahwa hukum baru tidak diberikan sejak permulaan dunia dijelaskan oleh Tomas dalam artikel ketiga dengan memberikan tiga motivasi:

  • Karena hukum barus secara prinsipial ada dalam rahmat Roh Kudus yang tidak harus diberikan  secara berlimpah  sebelum mengambil halangan dosa dari kodrat manusia, yang disempurnakan dalam penebusan Kristus.
  • Karena kesempurnaannya tidak dapat dicapai pada permulaan tetapi dikemudian  seperti juga dalam pertumbuhan manusia, mulai dari anak kemudian menjadi dewasa.
  • Karena hukum baru adalah hukum rahmat, karenanya perlu bahwa manusia dibiarkan pada dirinya sendiri dalam status hukum lama, sebab dengan jatuh ke dalam dosa, menetapkan kelemahannya dan mengakui kebutuhannya akan rahmat.
  • Tapi hukum baru akan berlangsung sampai akhir dunia. Tomas membuktikannya dalam artikel 4 melalui satu perbedaan.Jika dilihat perbedaan hukum, perlu menyatakan bahwa pada status sekarang hukum baru tidak akan mengikuti status lain. Status ini mengikuti status hukum lama yang tidak sempurna. Sekarang tidak ada status kehidupan saat ini yang dapat lebih sempurna  dari status hukum baru, oleh karena tak ada sesuatu apapun yang dapat mendekati tujuan ultim dari pada apa yang memperkenalkan secara langsung tujuan itu.

 

11.2 Hubungan antara hukum baru dan hukum lama.

                 Setelah menjelaskan hukum baru, Tomas melangkah pada penjelasan  mengenai hubungan antara hukum baru dengan hukum lama. Jika hukum baru adalah hukum yang berbeda dari hukum lama. 2) jika hukum baru melengkapi hukum lama. 3) jika hukum baru dikandung dalam hukum lama. 4)manakah yang lebih berat hukum baru atau hukum lama? Berkaitan dengan pertanyaan pertama, dalam artikel 1 Thomas menentukan bahwa diberikan aksen ganda dengan mana hukum dapat dikatakan berbeda satu dari yang lainnya: karena diarahkan pada tujuan yang berbeda atau karena ditujukan pada tujuan yang lebih secara langsung dari pada yang lainnya. Menurut penekanan pertama, hukum baru tidak berbeda dari hukum lama karena kedua-duanya memiliki tujuan yang sama yakni tundak kepada Allah, sebaliknya dalam penekanan lain, hukum lama berbeda dari hukum lama. Oleh karena hukum lama berfungsi sebagai pendidik anak-anak, seperti menurut kata-kata Santo Paulus (Gal. 3,24), sementara hukum baru adalah  hukum kesempurnaan oleh karena merupakan hukum kasih, di mana Paulus menyatakan bahwa kasih adalah ikatan kesempurnaan (kol 3,14). Katekismus Gereja Katolik (1992) menyatakan: “Hukum Injil memenuhi, menghaluskan, melebihi, dan menyempurnakan  hukum lama. Dalam sabda bahagia ia memenuhi janji-janji ilahi, dengan meninggikannya dan mengarahkannya  kepada Kerajaan Surga.Ia menyapa mereka yang rela menerima harapan baru ini dengan percaya: orang miskin,orang yang rendah hati, yang berduka cita, manusia yang suci hatinya dan mereka yang dianiaya demi Kristus. Dengan demikian, ia merintis  jalan-jalan kerajaan Allah yang tidak diduga sama sekali” (Kat. Art. 1967).

  • Reduksi hukum baru pada kasih digarisbawahi oleh Thomas: “ada beberapa status dalam status perjanjian lama, yang memenuhi kasih dan rahmat Roh Kudus, mereka melihat secara prinsipial pada janji-janji abadi dan spiritual. Dan dibawah aspek ini mereka berhubungan dengan hukum baru. Kasih Allah dicurahkan ke dalam hati.
  • Perbedaan antara hukum baru dan hukum lama terletak dalam kenyataan bahwa hukum lama menekan dan memiliki karakter ekterior, sedangkan hukum baru memiliki karakter interior dan membebaskan. Hukum lama adalah hukum perbudakan dan ketakutan sedangkan hukum baru adalah hukum kasih dan membebaskan. Hukum lama merenggangkan dan diberikan secara heteronom, sedangkan hukum baru menjernihkan dan mengangkat kotrat manusia yang menerimanya. Oleh karena itu, hukum lama yang diberikan kepada manusia tidak sempurna yakni kekurangan rahmat spiritual. Hukum lama disebut hukum katakutan sebab mengarah pada pelaksanaan perintah-perintah dengan ancaman dan siksaan tertentu dan menyandarkan diri pada kebaikan temporal. Sebaliknya hukum baru yang mana dalam prinsipnya berada dalam tatanan rahmat ilahi yang dicurahkan ke dalam hati manusia  disebut hukum cinta dan dikatakan mempunyai janji-janji abadi dan spiritual (S.T, q. 107, a. 1 ad. 2). Kemudian Tomas menambahkan observasinya:

 

 “Dalam perjanjian lama ada pemenuhan kasih dan  rahmat Roh kudus yang mana melihat secara prinsipiil janji spiritual dan abadi. Di bawah aspek-aspek tersebut, mereka berhubungan dengan hukum baru. Demikian juga dalam PB ada banyak manusia jasmani  yang belum sampai pada kesempurnaan hukum baru. Mereka itu juga dalam PB harus dihantar melalui  perasaan takut  terhadap siksaan  dan melalui janji-janji jasamani tertentu menuju  karya kebajikan. Meskipun hukum lama memberikan perintah kasih, namun Roh Kudus tidak diberikan, yangolehnya kasih dicurahkan ke dalam hati kita (Rom. 5,5) ” (Summa Theologiae I-II, q. 107, 1 ad. 2).

11.3 Konvergensi antara hukum lama dan baru

                 Konvergensi antara hukum lama dan hukum baru terletak dalam kenyataan bahwa hukum lama berfungsi sebagai pendidik sampai datangnya hukum baru dan dalam aspek tertentu, hukum lama ini merupakan prafigur dan persiapan hukum baru

Berkaitan dengan hal ini, katekismus mengatakan: “Hukum lama  adalah satu persiapan  untuk Injil (Hukum baru), ‘Hukum  adalah pedagogi  seperti   seorang  guru, hukum lama menunjukkan kepada kita apa yang harus dibuat,  tetapi tidak dari dirinya sendiri  memberi kekuatan, rahmat Roh kudus untuk melaksanakannya. Karena ia tidak dapat menghapus dosa, ia tinggal hukum perhambaan. Menurut Santo Paulus, ia terutama   mempunyai tugas menggugat dan menyingkapkan  dosa, yang membentuk di dalam hati  manusia satu hukum nafsu. Paling tidak hukum itu adalah tahap pertama pada jalan  menuju kerajaan Allah yang meyelamatkan. Ia memberi ajaran yang seperti sabda Allah, berlaku untuk selama-lamanya” (Kat. Art. 1963).

                 Manakah yang lebih berat hukum lama atau hukum baru? Hukum lama lebih berat dari pada hukum baru ex parte esteriorum operatum, karena mewajibkan  sejumlah besar tindakan eksternal dengan komplesksitas upacara-upacara, perbedaan dengan hukum baru yang melampaui hukum  natural yang menambahkan  pada hukum Kristus dan tradisi para rasul. Dan ditambahkan dengan beberapa hal dari Bapa-bapa gereja dan Magisterium. Hukum baru menambahkan kriteria untuk pertobatan umat.

                 Berkaitan dengan tindakan internal,perintah-perintah hukum baru jauh lebih berat dari pada hukum lama, karena dalam hukum baru dilarang gerak batin, keinginan-keinginan dalam hati yang tidak dilarang dalam  secara tegas oleh hukum lama secara umum, walaupun ada yang dilarang dalam hal-hal khusus. Ini adalah hal paling sulit bagi mereka yang tidak memiliki keutamaan, seperti yang dikatakan Santo Yohanes:”perintah-perintahnya tidaklah berat” I Yoh. 5,3) dan Agustinus menjelaskan: perintah-perintah tersebut tidaklah berat bagi mereka yang mencintai, tetapi menjadi berat bagi mereka yang tidak mencintai. 

Hukum baru ini disebut hukum kasih sebab hukum ini membuat kita bertindak bukan karena takut tetapi karena  kasih yang Roh Kudus  curahkan ke dalam hati kita. Ia juga disebut hukum rahmat karena  ia memberi rahmat supaya dapat bertindak  berkat kekuatan iman dan sakramen-sakramen. Ia juga disebut hukum kebebasan karena ia membebaskan kita dari peraturan-peraturan ritual dan legal dari hukum lama, membuat kita rela  bertindak dengan dorongan-dorongan kasih secara spontan dan mengangkat kita  dari status hamba yang tidak tahu  apa yang diperbuat tuannya, ke dalam  status sebagai sahabat Kristus. (Bdk. Katekismus no. 1972).

11.4 Isi hukum baru:

                 Analisis Tomas Aquinas berkaitan dengan isi hukum baru, dikembangkan dalam pertanyaan 108 yang menjawab keempat persoalan berikut:

  1. Jika hukum baru harus memerintahkan atau melarang tindakan-tindakan  ekstern.
  2. Jika hukum baru memusatkan perhatiannya pada hal memerintahkan atau melarang  tindakan ekstern.
  3. Jika hukum baru membimbing manusia hormat pada tindakan-tindakan internal.
  4. Jika ditambahkan nasihat-nasihat pada perintah-perintah.

 

Berkaitan dengan persoalan pertama jawabannya positif dan kristologis. Sesungguhnya harus dingat bahwa prinsip utama hukum baru adalah rahmat Roh kudus, yang dicurahkan melalui iman kepada Kristus. Hukum baru ini sampai kepada kita melalui Yesus kristus, dengan mana  kemanusiaanya  dipenuhi rahmat dan saat ini sampai kepada kita. Oleh karenanya merupakan suatu kebenaran bahwa rahmat yang keluar dari Sabda yang menjelma sampai kepada kita melalui hal-hal ekternal dan indrawi dan dari rahmat internal ini daging tunduk terhadap roh., dihasilkan tidakan-tinadkan eksternal dan indrawi. Tapi tetap harus diingat bahwa hukum injil adalah hukum kebebesan. Sementara hukum lama yang menentukan banyak hal dan tidak memberkan kebebasan  pada kebebasan manusia.

Jawaban atas pertanyaan apakah hukum baru mengatur tindakan-tindakan eksternal ditekankan dalam artikel 2: Hukum baru di dalam perintah-perintahnya dan di dalam larangan-larangannya tidak harus menentukan tindakan-tindakan eksterrnal lainnya di luar sakramen-sakrakmen dan perintah-perintah moral yang per se berhubungan dengan alasan keutamaan, seperti jangan membunuh, jangan mencuri, dan perintah-perintah lainnya secara umum. Alasannya terletak dalam kenyataan bahwa hukum baru  harus memerintahkan atau melarang  di antara hal-hal ekternal hanya sejauh diperlukan.

Dalam pertanyaan no. 108 Tomas tidak bermaksud membuat penjelasan secara detail tentang perintah-perintah hukum baru, tetapi hanya sekedar memberi pembenaran secara mendalam. Ia melihat bahwa dalam hukum baru tidak harus mengurangi perintah-perintah relatif pada tindakan-tindakan ekstern: Sakramen-sakramen yang diterima, keutamaan-keutamaan yang dipraktekan untuk bekerja sama dengan rahmat Yesus Kristus yang berkaya dalam diri kita. 

Berkaitan dengan tindakan-tindakan internal, Tomas dengan mengacu pada Agustinus mengatakan bahwa  kotbah di bukit  mengandung semua norma dan program hidup kristiani. Yang kedua menunjukkan bahwa disposisi-disposisi yang diberikan oleh Yesus dalam kotbah di bukit dan nasihat-nasihat injil yang lainnya cukup untuk menjadi pegangan dan undang-undang dalam kehidupan kristiani, yang mengatur perasaan-perasaan internal dan impuls-impuls ekternal. Perintah-perintah ini bukan hanya membawa manusia untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang per se jahat, tetapi juga membantu untuk tidak melakukan  tindakan internal untuk melakukan yang jahat.(mengatur keinginan hati, hasrat yang tidak baik).

 Dalam kotbah di bukit diatur semua gerakan-gerakan internal/sikap batin manusia  yang dimulai dari diri sendiri. Menurut Tomas, Yesus adalah sahabat yang bijaksana sehingga nasihat-nasihatnya lebih efektif dan berdaya guna serta meyakinkan. Perintah-perintah yang mengatur gerak batin dan motivasi-motivasi  mengajarkan kepada kita, agar kita tidak mencari kemuliaan manusiawi maupun kekayaan duniawi. Lalu mengajarkan kepada manusia bagaimana mempraktekkan  doktrin Injil dengan meminta bantuan Allah.

Di samping itu,  perlu diingat bahwa  demi keutamaan  perlu melaksanakan perintah-perintah dan tidak cukup hanya pengakuan iman tetapi mempraktekannya. (S.T,  I-II, q. 108 a. 3).

Apakah perbedaan antara nasihat dan perintah? Perintah mengimplikasikan suatu kebutuhan mendesak sedangkan nasihat bersifat lebih lunak dan keputusan untuk menerima atau tidak diserahkan kepada pribadi yang bersangkutan. 

Bibliografi

¨     Bauman Clarence, The Sermon on the Mount: the Modern Quest for Its Meaning, Mercer University Press,  Macon 1985

¨     Walderman Janszen, Old Testament Ethics: a paradicmatic approuch, Westminster/John Knox Press, Louisvile, Kentucky, 1994, hlm. 87-105.

¨     Karl H. Peschke, Chistian Ethics: Moral Theology in the Light of Vatican II, Vol. 1, Logos Publication, Manila 1985, p. 13-28.

¨     Franz Bockle, Fundamental Moral Theology, Gill and McMillan, Dublin 1980, p. 127-179.

¨     Marcello Morgante, I dieci Comandamenti, Editrice Rogate, Roma1996.

¨     William Barclay, The Plain Man’s Guide to Ethics, Collins Fount Paperback, 1973.

¨     Katekismus Gereja Katolik, Percetakan Arnoldus, Ende 1995, art. 2052-2557. (Lihat Edisi 1997, editio typica)

¨     Bernard Kieser SJ, Paguyuban Manusia dengan Dasar Firman, Kanisius, Yogyakarta 1991.

¨     ID, Moral Dasar: Kaitan Iman dan Perbuatan, Kanisius, Yogyakarta 1987, p. 165-190.

¨     J. Kiswara SJ, Dasa Firman Allah: Makna dan Penerapannya, Kanisius, Yogyakarta 1988.

KATA PENGANTAR

 

Buku teks ini lahir dari penelitian pribadi penulis dengan beberapa masukan dari mahasiwa selama dalam perkulihan dan diskusi-diskusi dengan mereka. Penulis memberi judul buku teks ini Nilai-nilai  Moral dalam Dasa Firman, karena  berdasarkan  analisa atas teks Keluaran 20: 1-17, penulis melihat bahwa setiap firman  mengandung bobot moral yang sangat tinggi, yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk membentuk kehidupan bersama.

Dasa firman kalau kita coba sarikan dapat dirumuskan dalam hukum cinta yang berdimensi ganda, yakni cinta kepada Allah dan sesama. Dalam dasa firman ini terkandung prinsip-prinsip dasar yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk membentuk tata hidup beresama, yakni prinsip hormat pada pribadi manusia, prisip kesetiaan, prinsip keadilan, prinsip kebenaran dan kemurnian hati.

Penulis menyadari bahwa buku teks ini dapat selesai karena bantuan berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Pastor FX Rudiyanto Subagio OSC sebagai Dekan di Fakultas Filsafat Unpar, Pastor Anton Subianto B. OSC sebagai teman seperjanan dan sepanggilan yang telah memberi dukungannya. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Pater Bernad Kieser SJ yang telah memberi banyak inspirasi melalui buku-bukunya dan juga penulis mengucapkan terima kasih kepada para mahasiswa  yang telah memperkaya penulis melalui pertanyaan-pertanyaan yang merangsang penulis untuk lebih memperdalam materi. Akhrinya penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Ordo Salib Suci, propinsi Sang KristusIndonesiayang telah memberi kesempatan dan kepercayaan untuk studi lanjut. Semoga buku teks ini, bermanfaat bagi pembaca dan khususnya  bagi maha siswa yang berminat mendalami dasa Firman.

Penulis menyadari bahwa penulisan buku ini jauh dari sempurna, baik dari segi isi mapun penyajian. Untuk itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan lebih lanjut. 

                                      Bandung, akhir juli 2000

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: