LITURGI SEBAGAI TINDAKAN TEOLOGI

 

LITURGI SEBAGAI TINDAKAN TEOLOGI

 A. Pengertian Liturgi

                        Liturgi adalah sebuah karya Jemaat Allah untuk berpartisipasi dalam memuji dan memuliakan Allah. Ada banyak cara untuk mengekspresikan liturgi, bisa dengan kata-kata, bisa dengan gerak, bisa dengan menjadi pelayan di dalam berliturgi itu sendiri. Menjadi sebuah diskusi yang hangat bila dipertanyakan, mengapa liturgi itu, akhirnya menjadi tindakan teologi? Apakah Allah bertindak dan menyiapkan liturgi? Atau apakah Allah sendiri benar-benar bergerak dan dan berliturgi? Pertanyakan semacam itu, hanya dipahami dan dijawab bila setiap manusia menyadari bahwa Allah selalu menyertai kita manusia dan sadar bahwa Allah menghendaki semua orang diselamatkan (1 Tim 2: 4), serta juga menyadari bahwa secara dasariah Allah menyentuh umat manusia dalam diri Kristu  melalui perayaan ekaristi yang kita yakini bahwa Allah sungguh hadir dalam liturgi ekaristi yang kita rayakan. Dan juga secara tegas dalam konstitusi Konsili Vatican II mengenai liturgi dengan jelas dikatakan bahwa “Kristus selalu mendampingi GerejaNya, terutama dalam kegiatan liturgi”secara khusus dikatakan bahwa Kristus “hadir bila Gereja memohon dan bermazmur” (lih Mat. 18:20). Pengertian  menurut Konsisli Vatikan II merupakan pemahaman liturgi secara dinamis, personal Dan relasional. Dikatakan demikian karena liturgi menunjuk kepada perayaan misteri karya keselamatan Allah sendiri yang dilaksanakan oleh kristus bersama Roh Kudus, liturgi dilihat sebagai perjumpaan Allah Dan manusia serta liturgi menjadi wahana pertemuan bukan hanya antara umat beriman tetapi umat beriman dengan Allah sendiri yang berlangsung di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Secara istimewa Ia hadir “dalam rupa Ekaristi”, yakni dalam rupa roti dan anggur (SC 7).                                        

Begitupun dalam hal lain mengatakan bahwa SC 7 memandang liturgi sebagai pelaksanan tugas Imamat Yesus Kristus yakni karya keselamatan Allah yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus. Karya keselamatan Allah yang dilaksanakan oleh Yesus kristus senantiasa dikenang dan dihadirkan Gereja dalam Liturgi. Konstiutusi Liturgi juga menyebut subyek atau pelaku liturgi adalah Yesus kristus dan Gereja. Liturgi selalu merupakan tindakan Kristus dan sekaligus tindakan Gereja. Melalui pemahaman ini maka, Liturgi dirumuskan sebagai perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus sang Imam Agung dan bersama Gereja di dalam ikatan Roh Kudus.

            Kiranya menjadi jelaslah bahwa dengan babtisan yang telah kita terima, saat itu kita menjadi resmi sebagai anggota Gereja. Sebab babtisan, pertama-tama berarti bahwa orang luar oleh kelompok-kelompok Kristen itu diterima dan dimasukkan ke dalam dirinya. Memang Jemaah-jemaah itulah yang memasukkn orang. Tidak seorang pun (dapat) membabtis dirinya, tetapi selalu dibabtis oleh orang lain, entah siapa.

            Saat kita menjadi anggota Gereja, saat itulah dengan sah juga kita menjadi bagian dalam kegiatan Gereja. Dan juga mulai berpartisipasi dalam liturgi Gereja. Liturgi Gereja yang dimaksudkan di sini, tidak semata-mata hanya ekaristi saja. Tetapi banyak jenis liturgi sebagai sarana untuk tetap dan selalu mendekatkan riri kepada Allah.

            Dalam refleksi penulis, ketika manusia masuk dalam Gereja melalui sakramen inisiasi yakni melalui pembabtisan, saat itulah Allah masuk ke dalam diri kita, dibebaskan dari dosa asal, diselamatkan oleh Allah. Dan pada saat itu kita akhirnya menyadari bahwa kita selalu bersatu dengan Allah. Sehingga liurgi yang dirayakan manusia, itu tidak semata-mata karya manusia tetapi itu adalah karya Allah juga karena kita manusia adalah bagian dari Allah. Dan kalau begitu, liturgi itu adalah menjadi tindakan teologi karena di dalamnya Allah berkenan hadir.

B. Liturgi sebagai Liturgi Trinitas.

             Teologi selalu melihat seluruh tindakan Allah dalam sejarah dan Gereja secarta Trinitatis. Misteri karya keselamatan Allah yang dirayakan dalam liturgi merupakan misteri tindakan Trinitas (dilakukan oleh Bapa, Putera dan Roh Kudus) sekaligus. Liturgi Trinitas terlaksana ketika Yesus Kristus (Putera) menyerahkan diri kepada Allah (Bapa) dalam Roh Kudus dan Allah menerima persembahan Kristus dalam Roh Kudus.

 

C. Liturgi sebagai Perayaan misteri Paska.

             Dalam konsili Vatikan ke II menekankan peranan sentral misteri Paska dalam karya keselamatan Allah dan juga seluruh liturgi yang dirumuskan dala SC 5:14

“Adapun karya penebusan umat manusia dan pemuliaan Allah yang sempurna itu tewlah diawali dengan karya agung Allah di tengah uamat. Karya itu diselesaikan oleh Yesus kristus  Tuhan. Terutama dengan misteri paskah: sengsara-Nya yang suci, kebangkitan maut, dan kenaika-Nya, dalam kemuliaan. Dengan misteri itu Kristus menghancurkan maut melalui Kematia-Nya, dan membangun kembali hidup dengan kebangkita-Nya. Sebab dari lambung Kristus yang beradu di salib muncullah sakramen seluruh gereja yang mengagumkan. Denagan pernyatan seperti ini, konsili tidak hanya mengatakan bahwa puncak karya keselamatan Allah terjadi dalam misteri Paskah Kristus, melainkan misteri Paskah menjadi pusat seluruh liturgi Gereja. Pengenangan misteri paskah dlam Liturgi berlangsung dalam bentuksimbol melaui sakramen kudus.

D. liturgi sebagai tindakan dan Gereja

            Subyek atau pelaku Liturgi adlah Yesus Kristus dan Gereja sekaligus. Pernyataan ini dijelaskan dalam SC 7  yang mengatakan bahwa liturgi dilaksanakan oleh tubuh mistik Kristus, yakni Sang kepala dan Gereja sebagai tubuh-Nya. Itu berarti bahwa liturgi adalah tindakan Kristus sekaligus tindakan Gereja, Dalam Liturgi Kristus bertindak melalui dan bersama Gereja, sekaligus dalam liturgi gereja bertindak melaui dan bersama Kristus.

 

E. Liturgi sebagai Fungsi dasar Gereja

             Pernyatan Liturgi sebagai fungsi dasar Gereja menunjuk pemahan bahwa liturgi merupakan sarana bagi Gereja untuk menpakkan dirinya dan melaksankan dirinya sebagai Gereja. Hakikat asli Gereja diungkapkan dalam liturgi yang dirumuskan dalam SC 2:15.

Liturgi merupakan upaya uanmg sangat membantu umat beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan misteri Kristus serta hakikat asli Gereja yang sejati, serta memperlihatkan itu kepada orang-orang lain, yakni bahwa gereja bersifat sekaligus manusiawi dan Ilahi, kelihatan namun penuh kenyataan yang tak kelihatan, penuh semangat dalam kegiatan namun meluangkan waktu juga untuk kontemplasi, hadir di dunia namun sebagai musafir…liturgi setiap hari membangun mereka yang berada di dalam Gereja menjadi kenisah suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mereka mencapai kedewasaan sesuai dengan kepenuhan kristus.

             Liturgi sebagai fungsi dasar gereja dapat juga didekati dari asal-usul istilah gereja sendiri, yang berasal dari kata ekklesia. Umat yamg dipanggil, dipilih dan dikumpulkan oleh Allah sendiri bukan hanya menjadi umat Allah tetapi juga menyembah Allah. Panggilan umat allah untuk menyembah Allah terutama terlaksana dalam liturgi.

            Paul W. Hoon yang dikutip oleh F.White 16 menegaskan bahwa liturgi terikat secara langsung pada peristiwa-peristiwa sejarah penyelamatan. Dengan demikian inti liturgi adalah Allah sedang bnertindak untuk memberikan hidup-Nya bagi manusia dan membawa manusia mengambil bagian dalam hidup itu. Liturgi dipahami sebagai pernyataan diri Allah sendiri dalam yesus Kristus dan tanggapan manusia terhadap-Nya. Sejajar dengan itu Peter Brunner mengatakan bahwa liturgi adalah pelayanan Allah kepada manusia maupun pelayanan manusia kepada Allahy. Dia mengutip rumusan Luter yang mengatakan bahwa:

            “tindak ada satu pun yang terjadi di dalamnya kecuali bahwa Tuhan kita yang pengasih itu sendiri berbicara kepada kita melalui firman-Nya yang kudus dan bahwa kita pada gilirannya berbicara kepada Allah melalui doa dan nyanyian pujian

KESIMPULAN

            Dari penjelasan di atas tenmtang Teologi selalu berpusat kepada karya keselamatan Allah melalui yesus Kristus. Liturgi diryakan oleh gereja tidak pernah terpisah dari kehidupan sehari-hari menyangkut karakter atau perilaku, perbuatan dan totalitas kehidupan.

SUMBER BACAAN

 

  1. Jakobs, Tom. 2000. Imanuel perubahan dalam iman akan Yesus Krsitus. Yogyakarta:Kanisius
  2. Jakobs,Tom. 1996. Misteri perayaan Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius
  3. Banawiratma, J.B. (Editor). 1989. Babtis Krisma Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius
  4. Banawiratma, J.B. (Editor). 1986. Kristologi dan Allah Tritunggal.  Yogyakarta: Kanisius
  5. Groenan, C. 1990.  Sakramentologi. Yogyakarta: Kanisius

 


[1] Tom Jakobs, SJ, Imanuel perubahan dalam iman akan Yesus Krsitus, Yogyakarta:Kanisius, 2000, hal.256

[2] Tom Jakobs, Misteri perayaan Ekaristi,, Yogyakarta: Kanisius, 1996, hal. 79

[3] J.B. Banawiratma, SJ (Editor), Babtis Krisma Ekaristi, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hal. 83

[4]  J.B. Banawiratma, SJ (Editor), Kristologi dan Allah Tritunggal, Yogyakarta: Kanisius, 1986, hal. 57

[5]  Dr.C Groenan .OM, Sakramentologi,Yogyakarta: Kanisius, 1990, hlm.92.

[6]  Ibid, hlm 119.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: