Ikonografi Bahan Kuliah

Ikonografi Kristiani
Imaji Allah dalam Perspektif Estetiko-Religius

 

If you understood

that the incorporeal One became man for you,

then it would be evident that you can make his human image.

…..Therefore, paint on wood and present for contemplation Him who desired to become visible.(St. Yohanes Damaskus: On the Divine Image, P. G. 94, kol. 1239)

 

Terminologi

       Ikon berasal dari bahasa Yunani ikwn yang berarti gambar. Kata ikon dalam wawasan umum biasa digunakan untuk menerangkan gambar yang dibuat di atas kayu. Gambar tersebut hendak merepresentasikan gambar Tuhan, Bunda Maria, dan para Kudus/santo-santa. Gambar yang disajikan bukanlah pertama-tama gambar nyata yang mendetail dan indah dalam kriteria seni murni namun lebih mengungkapkan makna simbolik. Oleh karena itu, ikon dalam kerangka ini memiliki fungsi sebagai sarana mengamini ajaran iman verbal dalam terang imaji. Dalam Gereja Timur, ikon dipakai sebagai sarana peribadatan baik pribali maupun publik. Ada tiga dimensi yang perlu diperhatikan manakala memperhatikan ikon sebagai imaji ilahi. Tiga dimensi dari satu realitas ikon. Dimensi pertama, pengetahuan ilmiah. Untuk mengerti ikon, kita perlu mengetahui sejarah yang menyelubungi perkembangannya. Mengapa? Di satu sisi, budaya kita berbeda. Pandangan ikon akan lebih mengena dan memberi guna lebih bagi kita yang berada di luar selubung budaya itu dengan cara mengetahui sedikit mengenai sejarah perkembangannya. Dimensi kedua,  nilai artistik. Bagaimana kita memandang suatu gambar dari sudut pandangan seni. Setiap manusia memiliki pertimbangan-pertimbangan dalam menilai suatu karya seni. Dan ada juga patokan-patokan yang ada untuk menilai suatu karya seni. Juga diyakini bahwa dunia seni erat kaitannya dengan hubungan manusia dengan kedalaman diri dan penemuan akan realitas yang ilahi atau transenden. Dimensi ketiga, visi teologis. Ikon tidak pernah lepas dari nuansa ajaran iman. Dalam perkembangan seni sendiri ikon menempati tempat tersendiri berbeda dengan aliran-aliran seni lukis lainnya. Pertimbangan yang muncul karena ikon sarat dengan nuansa religi. Nuansa religi ini tidak pernah lepas dan karena itulah menjadikan ikon berbeda dari gambar atau lukisan yang bernuansa religi lainnya. Karya-karya Dali sendiri banyak yang bernuansa religi namun tidak dimasukkan dalam karya suatu ikon. Dali masuk dalam aliran Surealis. Ikon memiliki ciri keabadian yang membedakan dari seni yang lainnya. Ikon bersandar pada pertanyaan inti dalam Kristianitas; Siapa Yesus Kristus? Yesus Kristus yang adalah Allah manusia. Allah dalam wujud kemanusiaan.[1]

       Tiga dimensi itu tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Ketiganya erat terkait bila kita berbicara mengenai ikon.  Oleh karena itu, Ikon seringkali disebut sebagai Seni Teologis. Seni yang menampakkan dimensi kemanusiaan dan keilahian, menjadi corong dalam pengungkapan iman akan Yang Ilahi. Ikon berkaitan erat dengan Kitab Suci dan Liturgi.

       Ikonoklasme adalah penghancuran gambar-gambar/ikon atau hal-hal yang berbau idolatri. Gerakan ini terjadi pada kisaran abad ke-8 dan ke-9. Gerakan ini menentang penggunaan gambar dalam ibadat di Eropa Timur.[2] Ikonoklasme merupakan suatu gerakan yang menentang ikon dipakai sebagai sarana peribadatan. Gerakan ini melihat ikon lebih cocok sebagai sarana pengajaran iman dan bukannya sarana peribadatan. Pembelaan terhadap penggunaan ikon dalam peribadatan publik dan pribadi dibela oleh Yohanes Damascenus dengan menyatakan bahwa penggunaan gambar-gambar itu dimungkinakan untuk menghadirkan Kristus dan orang-orang kudus sebagai konsekuensi logis dari inkarnasi.

Ikon dan Latar Belakang kesusasteraan

       Manakala berbicara mengenai ikon, kita tidak lagi berbicara hanya ‘melukiskan’ ikon tetapi lebih menekankan ‘menuliskan’ ikon. Alasan yang dimunculkan bahwa ikon sebagai suatu karya seni pengajaran teologis mengenai kebenaran iman yang diyakini dalam Kristianitas. Kebenaran iman akan Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Yesus Kristus yang masuk dalam kemanusiaan lewat kelahiran. Ikon adalah teolog dalam imaji.

       Karakter didaktis tidak pernah terlewatkan selama perkembangan ikon. Oleh karena itu, ikon disebut seni keabadian. Sumber literer ikonogafer adalah Kitab Suci, tulisan-tulisan apokrif[3], teks-teks Liturgis, hagiografi[4], dan tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja.

       Namun ada beberapa karakter tulisan yang dominan mempengaruhi pembuatan ikon. Konrad Onasch[5] menuliskan bentuk-bentuk literer kesusasteraan yang mempengaruhi perkembangan dan pembuatan ikon dari masa ke masa. Ia mencatat ada empat model yang dipakai sebagai dasar literer ikon, yakni

  1. 1.      Model Panagirik

Model ini berisi pujian kepada orang besar. Model pujian ini biasa dipakai Gereja di depan kuburan para martir dengan tujuan mengenangkan kebesaran mereka sebagai orang yang mengorbankan jiwa untuk membela iman. Contoh ikon yang memakai literer itu adalah ikon St. Basilius.

Model ini memberi nuansa perjuangan yang heroik  dari para martir. Perjuangan yang heroik ini merupakan gambaran dari perjuangan Kristus sendiri, juga sebagai junjunan para martir.

  1. 2.      Model Epik

Model ini berisi mengenai cerita kepahlawanan. Ikon yang memakai model ini biasanya mau mengungkapkan sejarah atau riwayat hidup santo-santa. Paling jelas ciri yang dipakai biasanya ada satu gambar inti yang dikelilingi oleh gambar-gambar kecil. Kita bisa mengamati dalam ikon St. Elia, ikon Nativity/kelahiran Kristus.

  1. 3.      Model Dramatik

Model dramatik merupakan elemen yang sangat melekat dalam kehidupan manusia karena riil mengungkapkan suasana kehidupan nyata.

  1. 4.      Model Risalah atau Tulisan-tulisan Teologis

Tujuan pelukisan ikon tidak hanya dibatasi adegan/peristiwa maupun tokoh secara khusus. Setiap ikon memiliki muatan teologis sebagai latar belakangnya. Penjabarannya melalui bentuk dan warna, ikon sebagai pengungkapan pengajaran Kitab Suci.

Unsur-Unsur Teologis Ikon

  1. a.      Doktrin Tradisional

Ikon adalah imaji yang merepresentasikan kehadiran Yang Ilahi. Ikon adalah Teologi Imaji. Doktrin tradisional menyatakan bahwa ikon merupakan sarana manusia untuk mengenal dan merepresntasikan kehadiran Yang Ilahi ke dalam lingkungan manusiawi yang inderawi.

       Pada tingkatan pertama ini, ikon lebih dilihat sebagai sarana untuk mengenal dan menghayati kehadiran Ultimate Reality.[6] Mengapa sarana ini yang dipakai. Pada tataran masyarakat sederhana, dalam pola pikir karena unsur pendidikan formal yang kenyam, ikon sebagai sarana mudah dan mengena dalam menghayati kehadiran The Ultimate Reality tersebut. Perlu simbol untuk memudahkan manusia untuk menghayatinya.

       Pandangan ini ditentang oleh ikonoklasme. Ikonoklasme beranggapan bahwa tidak mungkin merepresentasikan Kristus sebagai Allah dalam sosok manusia, Allah lebih besar dari gambaran yang bisa diberikan manusia. Tidaklah mungkin mereduksi Allah yang Maha segala. Pernyataan mereka mengacu dalam Kitab Suci: “Tidak pernah ada orang yang melihat Allah” (1 Yoh. 4:12) Argumentasi mereka diperkuat dengan banyaknya pelarangan yang dipakai dalam masa PL karena ikon akan mengarahkan manusia pada idolatri[7]

  1. b.      Prototipe dan Hipostasis

Protipe yang dimaksudkan di sini adalah bentuk dasar dari sesuatu yang mau diungkapkan ikon. Konsep ikonografi menekankan bahwa bentuk Yesus Kristus mampu dipahami manusia kala Dia berinkarnasi menjadi manusia. Pandangan ini ditentang oleh paham ikonoklastik. Ikonoklastik berpendapat bahwa tidak mungkin mengubah atau mengganti bentuk dasar dari Yesus Kristus sendiri. Pun manusia tidak mungkin mampu merepresentasikan Allah yang menjadi manusia. Pembuatan ikon itu sendiri dianggap mau memberi wujud kemanusiaan bagi Allah.

Paham ikon sendiri mendapat dukungan kuat dari para teolog misalnya St. Theodorus.[8] Ia mengungkapkan bahwa Sabda Allah yang tidak tampak berasal dari Bapa yang juga tidak tampak. Sabda itu muncul dan menjadi jelas kala Yesus hadir dalam dunia ini. Allah yang mewujud dalam rupa kemanusiaan.[9] 

  1. c.       Ikon dalam Liturgi

Liturgi adalah sarana manusia untuk hadir di hadapan Allahnya. Dalam liturgi orang melakukan penyembahan. Penyembahan itu sendiri mendapat tekanan dalam Konsili Nicea tahun 787. Penyembahan itu hanya ditujukan pada Allah semata. Penyembahan kepada ikon hanya menjadi sarana manusia untuk masuk dalam suasana religius. Penyembahan ikon bukan sekedar pada ikon semata namun kepada sosok yang direpresentasikan dalam imaji itu.

Ikon dalam liturgi digunakan sebagai sarana manusia mengasah kepekaan akan kehadiran Allah. Memakai sarana inderawi untuk menggapai yang tak tersentuh, tak terdengar, tak tercium yakni Allah.

Warna-warna Simbolik dan Tehnik

            Ikonografi sebagai suatu seni visual memiliki pemaknaan warna tersendiri. Konteks warna diambil dengan arti khusus sesuai dengan pemahaman orang secara umum. Pewarnaan itu memiliki makna teologis. Warna yang dipakai selalu dikaitkan dengan dunia keilahian.

  1. Putih

Warna ini hendak menunjukkan dimensi yang kuat akan keilahian. Latar belakang warna ini diadaptasi dari kultur ‘kafir’. Kultur ‘kafir’ memakai warna itu sebagai warna yang diperuntukkan bagi dewa-dewi mereka.

Warna putih adalah warna terang. Warna ini dipakai dalam kristianitas untuk melambangkan Yesus Kristus sebagai terang (Mat 17:2).

  1. Biru

Dionisius mennyebut warna ini sebagai warna yang mempunyai karakteristik misteri dan transendental. Warna yang sarat akan ketenangan dan kedalaman. Warna ini dipakai di dunia Mesir sebagai warna imortalitas dan warna jubah yang dipakai oleh imam yang tertinggi selama menjalankan pelayanan keagamaan. Perjanjian Baru hanya mengenal satu warna yakni warna biru bakung atau biru muda (dalam bahasa Ibrani tekelet dan dalam bahasa Yunani hyakinthos atau holoporphyros).

  1. Merah

Warna ini mengacu pada warna darah (bahasa Ibrani dam). Simbol vitalitas dan keindahan yang menyentak. Warna yang dinamis dan membara memberikan  keberanian dan kekuatan. Warna ini kadang menjadi latar belakang dan warna inti dari ikon.

Dalam dunia Yunani, warna merah memiliki arti religius juga arti kemiliteran. Warna ini dalam kemiliteran dipakai sebagai tanda kesiapan seseorang untuk maju ke pertempuran.

  1. Ungu

Warna ungu memiliki dua makna yakni keimaman dan kerajaan. Simbol Penyucian dan kekuasaan. Magis dan religius (Bil. 4:6-12, Yeh 23:6 dan 27 : 7). Warna ini hanya dipakai oleh kalangan tertentu karena sangat mahal dan memiliki makna institusional. Keimaman dan Kerajaan (dipakai di Bizantium).

  1. Hijau

Warna yang dalam Kitab Suci disebut sebagai warna alami. Ekspresi kehidupan hayati. Simbol kesuburan dan pertumbuhan Pseudo Dyonisius).Adaharmoni dan keyakinan. Simbol penciptaan laksana rumput yang tumbuh dan berkembang dalam kehijauan.

  1. Coklat

Warna yang merupakan percampuran dari merah, biru, dan hijau. Simbol bumi. Ketakberdayaan dan Kemiskinan yang tidak menenggelamkan manusia karena ada terang dan kegembiraan.

  1. Hitam

Kepekatan tanpa cahaya. Kesunyian yang mencekam. Sarana masuk dalam keabadian. Dalam dunia Yunani dan Mesir warna ini dipakai oleh dewa-dewa yang berkuasa dalam tanah. Simbol asketisme yang tinggi. Penyangkalan diri.

  1. Kuning

Warna ini memiliki arti yang dipersamakan dengan warna emas. Simbol terang dan keilahian. Namun juga menampilkan sisi yang jelek yakni kutuk, penyakit lepra, dan keburukan (Ul 28:22).

       Perkembangan pemaknaan warna seturut kemajuan pemikiran dan situasi sosio-kultural serta sosio-politis yang terjadi dalam kurun masa. Namun setidaknya, pemaknaan warna di atas membantu kita untuk mengerti warna-warna yang dominan dipakai dan diberi makna khusus dalam konteks kultur tertentu.

       Pengkombinasiaan warna itu, memang, susah untuk ditelaah secara matematis karena melibatkan unsur perasaan atau emosi yang melingkupi pelukis dan masa pembuatan. Pada saat memandang suatu lukisan atau karya visual, pengamat dituntut untuk merasa dan masuk dalam suasana yang terbentang di hadapannya. Multiintepretasi dan multipengertian. Keberanian untuk masuk dalam suasana yang disodorkanlah yang dibutuhkan dan bukannya otak-atik otak.

       Kombinasi warna yang dikenal dalam pembuatan ikon ada dua macam yakni polikromi dan Colorism.  Polikromi digunakan untuk penyusunan warna dimana setiap warna memiliki nilai masing-masing. Tanpa gradasi dan percampuran. Merah ya merah. Polikromi digunakan untuk menegaskan ekspresi tegas. Sedangkan colorism digunakan untuk menerangkan pencampuran warna. Tekanan pada gradasi. Percampuran warna ataupun gradasi menekankan emosi yang gambar. Memberi nuansa tersendiri. Hidup dan dinamis.

       Percampuran warna itu mau menekankan sisi keindahan dan simbolisme yang bercampur dan kaya. Perlu rasa dan karsa untuk membuatnya. Warna memberi efek keindahan Keilahian, sosok transendental. Allah sosok keindahan yang bisu dan mencekam (Jaques Maritain).

Pembuatan Ikon

       Ikon selalu dibuat di atas media kayu. Kekhasan inilah yang membedakannya dengan seni lukis yang lain.Adaaturan-aturan yang dipakai untuk melukisnya. Aturan pembuatan ikon;

  1. Sebelum memulai kerja, ia membuat tanda Salib; berdoa dalam keheningan, dan mengampuni musuh-musuh.
  2. Bekerja dengan memberi perhatian pada detail dari ikon yang akan dibuat sama seperti seseorang yang bekerja di hadapan dan untuk Allah.
  3. Selama bekerja, berdoa sesuai dengan kekuatan fisik dan spiritual.
  4. Berdoa untuk orang-orang kudus yang sedang dilukis. Jauhkanlah segala pikiran dari gangguan maka para kudus akan mendekat dan memberi perlindungan.
  5. Manakala memilih warna, keluarkanlah lewat tangan apa yang dirasakan.
  6. Janganlah iri hati terhadap karya orang lain; keberhasilannya adalah keberhasilan saya juga.
  7. Setelah selesai, berterimakasihlah pada Allah atas rahmat yang telah dianugerahkan.
  8. Letakkanlah ikon yang telah selesai di atas altar untuk diberkati. Berdoalah di hadapannya sebelum kauberikan pada orang lain.
  9. Jangan pernah lupa: menyebarkan kegembiraan ikon pada dunia. Mungkin lewat ikon, kegembiraan akan terpancar pada semua orang.

 

Redefinisi Ikon

       Dewasa ini imaji menjadi sesuatu yang penting. Abad yang ditenggelamkan oleh imaji lewat media dan cyberspace. Kecenderungan sekarang ini rupanya menjadi titik balik manusia yang sudah jenuh dengan verbalisme yang kaku dan non-diskursif. Kebenaran ditentukan validitas dari setiap kalimat yang dibuat. Manusia dicengkeram ketidak berdayaan dalam mengungkapkan pengalaman intuisinya. Pembalikan ini membawa kesegaran menuju kebangkitan imaji dalam hidup sehari-hari maupun dalam kehidupan rohani manusia dewasa ini.

       Liturgi pun akan cenderung terasa kering tanpa imaji yang merangsang berimajinasi lewat simbol visual, tatagerak, tatasuara, dan tatavisual. Manusia modern sekarang perlu menggunakan dan mengasah sisi intuisi diri untuk menimba simbol yang ditampakkan. Sehingga, liturgi tidak hanya dipandang sebagai sarana yang harus ditunggui dan diikuti tanpa kejelasan makna dan arti dan hanya merupakan makanan rasio saja. Hati/intuisi mendapat tempat yang penting. Salah satu cara orang masuk dalam dunia intuisi adalah lewat seni dan mendalami makna simbolis yang digunakan pada ‘acara’ ritual itu. Ikon mau memberi tempat untuk itu.


[1] “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung lebih utama dari segala sesuatu yang diciptakan…” Kol 1:15.

[2] Lih. The New Oxford Encyclopedic Dictionary. OxfordUniversity Press 1976.

[3] Apokrif adalahKitab-kitab PL yang ditulis dalam bahasa Yunani yang diterima Gereja sebagai Kitab Suci. Kitab-kitab ini tidak diterima oleh gereja-gereja Reformasi. Kitab-kitab itu adalah Tobit, Yudit, Sirakh, Kebijaksanaan Salomo, 1-2 Makabe.

[4] Hagiografi adalah karya tulis yang tentang kehidupan orang-orang suci. Tulisan-tulisan ini sudah lazim dipakai sejak kehidupan gereja awal.

[5] Sendler, Egon, S.J., Image of The invisible Element of Theology Aesthetic and Technique.  Wakwood Publication :California. 1988, hlm. 68-70.

[6] Gaudium et Spes art. 57 “Dengan sendirinya jiwa manusia, yang lebih bebas dari perbudakan benda-benda, dapat diangkat dengan lebih baik kepada ibadat terhadap pencipta dan kepada kontemplasi . Malah dorongan rahmat, manusia disiapkan untuk mengakui Sabda Allah, yang sebelumnya menjadi manusia untuk menyelamatkan dan merangkum semua di dalam diri-Nya…”

[7] Idolatry dalam kamus bahasa Inggris diartikan sebagai pemujaan terhadap berhala, kemusrykan , pemberhalaan. Atau pemujaan terhadap illah-illah palsu yang berbentuk patung-patung atau apapun juga buatan manusia.

[8] Orang yang pertama kali menegaskan paradoks inkarnasi. But if assumed humanity in truth, as we confess, then the hypostasisof Christ is circumscribebable: not according to its divinity, which no one has ever beheld, but according to humanity which is contemplated manner in it.

[9] Sendler, Egon. Hlm. 43.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: