Inkulturasi

 

DIKTAT INKULTURASI LITURGI (Bahan Kuliah Untuk Mahasiswa faklutas Filsafat UNPAR)

Pst. Fabianus Heatubun, Pr.

                                                                            THOAMS RENWARIN

KEBUDAYAAN DAN PERADABAN (CULTURE DAN CIVILIZATION)

Bahasa Latin cultus = pemujaan (suatu penghormatan).

Colere = mengolah. Term yang menggambarkan suatu tindakan, perbuatan pengolahan tanah, kemudian diberi makna yang menunjuk pada pengolahan, penghalusan budi dan sikap.Secara etimologis: Kata kebudayaan atau culture dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin colere, menggatikan suatu tindakan yang meng-cultivate = mengolah. Pada abad ke-19 kata “culture” telah menjadi nama peradaban intelektual dan estetika. Wordsworth mengatakan bahwa sukma kebudayaan sudah tidak diketahui lagi. Matthew Arnold menjelaskan bahwa kebudayaan itu memperkenalkan diri kita dengan hal-hal yang terbaik yang diketahui di dunia; Daniel J. Boorstin: culture à “a history of man’s search to know his world and himself” Bukunya: Daniel J. Boorstin, The Creators: A History of Heroes of the Imagination, Random House, New York, 1992. Secara semantik (the study of meaning), menurut Eugen Numenmacher, SVD. : Peradaban (civilization), beradab (civilized): mengacu pada gaya hidup yang luhur, seni yang luhur, akademis dan pencapaian spiritual. Kebudayaan: lebih dihadapkan pada hal yang bersifat material, kosmologis, organisasi sosial. Jaques Maritain menyamakan arti culture dengan civilization. Mengartikan suatu eksplorasi, prolongasi dan “enlargement”(pengluasan) manusia. Panca indera yang diamplikasi. Beberapa pemikir Jerman dan Rusia membedakan istilah culture dan civilization; kultur lebih pejoratif à menunjuk pada perkembangan sosial manusia; yang bersifat material, mekanis dan ekstrinsik. peradaban (civilization) menunjuk pada hal yang lebih manusiawi. Kebudayaan diartikan sebagai “a living process of human creativity developing through time and providing a basic for interaction with other peoples”. Spengler membedakan kultur dengan peradaban: Kultur à posibilitas paling vital dari suatu masyarakat; Peradaban itu hanya bentuk eksternal dari hasil pencapaian manusia. (bdk.konsep potentia et actus). Para sosiolog mengidentikkan antara kultur dan peradaban. Bahwa pengetahuan, seni, moral, hukum dan kebiasaan-kebiasaan: termasuk kultur + peradaban. Alfred Weber (1868-1958) mengartikan kultur untuk filsafat, agama dan seni. peradaban diaplikasikan pada sain dan teknologi. membedakan proses peradaban dengan proses kebudayaan. Proses peradaban itu bersifat kumulatif dan kontinyu. Sedangkan proses kebudayaan: sporadis, diskontinyu dan tak dapat diduga (unpredictable). Hukum sebab akibat (causal law) tidak dapat diterapkan. Kultur itu berasal dari “transendensi imanen” manusia (man’s imanent transcendence). Term peradaban (pada abad ke-19) dipahami sebagai proses perkembangan manusia dari yang tak beradab atau biadab (savagery) menuju budaya luhur (refined culture). Thomson (1990) menterjemahkan kultur dalam tradisi Jerman sebagai “intelectual artistic and spiritual products in which the individuality and creativity of a people were expressed. Orang bisa berbudaya tapi belum tentu beradab. (Lihat Culture as Method Homogenicing or Hetrogenicing, Amel Marie van Dongen, p. 51.ff.) Plekhanovà dengan  “diamat” nya (dialektika materialistik) memandang kultur sebagai hasil suatu bangsa amat tergantung pada sub-struktur  ekonomi. primus vivere deinde philosophari. Kemajuan/kemunduran kultur-peradaban tergantung ekonomi suatu masyarakat. àCfr. William L. Reese, Dict. of Philosophy and Religion, New Jersey Humanities Press, Sussex, 1980, p.155. Dalam kamus J.M. Echols, culture diterjemahkan dengan kata kesopanan, kebudayaan, pemeliharaan. e.g. He is a man of culture à Ia sopan dan terpelajar; Culture à cultura = to cultivate; mengolah tanah/tanaman; berihtiar mengembangkan atau membangun, memelihara ternak à berdasarkan kaca mata agraris. Cultivate mengartikan suatu ekspresi kreatif manusia dalam segala bidang upaya dan ihtiarnya, bukan hanya dalam bidang seni saja sebagaimana selama ini sering diterapkan. Tampak sebagai suatu kultivasi personal ataupun komunal. Kultur à proses humanisasi dan homonisasi Kultur itu dapat disebut sebagai  wahana, medium, alat,  untuk mengekpresikan diri untuk menemukan diri untuk menciptakan “home” di dunia ini. The highest human dignity comes from a transformation of nature  for the sake of human progress. (cfr. Charles Tylor + F.Bacon); Bacon: “Now the true and lawful goal of sciences is non other than this: that human life be endowed with new discoveries and powers.

MAKNA KULTUR

—         Kultur dirumuskan berdasarkan esensi terdasar manusia.

—         “Konsep manusia” mengandaikan definisi ‘kultur’

—         Misalnya:

—         Homo economicus (Plekanov)

—         Homo ludens Huizinga

—         Homo faber (Max Frisch)

—         Homo orans/ viator (pengembara, traveler)

—         Homo religious, homo orans

—         Homo necans  (Burghart)

—         Bandingkan insting dasar manusia: libido Freudian

—         Maritain: prolongasi, enlargement; mangelwesen

—         Genealogi Kultur Huizinga

—         Bila ada sejarah kultural sebagai sosiologi kebudayaan dari Alfred Weber, maka ada sejarah kultural Huizinga sebagai suatu bentuk ilmu kebudayaan  (science of culture).

—         Batas antara playfulness dan seriousness dalam kebudayaan.

—         Play dipandang sebagai fenomena budaya, bukan pertama-tama sebagai fungsi biologis dan dikaji sebagai the way of thinking yang tepat bagi science of culture.

—         Ada tiga titik krusial yaitu play, seriousness dan culture

—         Untuk memahami kultur secara ‘universal’ (?) dengan menggunakan play sebagai kaca pembesarnya.

—         Secara etis kultur disebut sebagai hasil perkembangan dari/ atau sebagai kontras dari yang barbar, yang biadab:

—         A refinement of life-style and development in aesthetic and intellectual sense.

—         Culture as the mastering of nature: suatu karakteristik paling tua dari seluruh budaya.

—         Kebudayaan pada tahap awalnya dimainkan.

—         Kebudayaan tidak timbul dari permainan (seperti janin yang lepas dari rahim ibu). Kebudayaan berkembang dalam permainan dan sebagai permainan.

—         Entitas objektif vs abstrak subjektif

—         Dalam hal ini sebenarnya rumusan Huizinga tentang kultur lebih tampak sebagai suatu entitasobjektif daripada abstrak subjektif.

—         Secara historis, kebudayaan primitif bagi Huizinga menjadi suatu substratumyang membentuk kultur yang mendalam. Substansinya tetap sama, tetapi formanya yang berubah. Selalu ada kaitannya dengan yang primitif.

—         Primitif berarti dekat dengan alam, lebih playful.

—         Seperti anak-anak lebih ludic.

—         Secara Freudian sifat ludik kanak-kanak itu dibawa sampai dewasa/ tua?

—         Huizinga tidak berpendapat kalau kultur itu sebagai buah dari play dan proses evolusi. (cf. p. 241. Homo Ludens). Tapi bahwa kultur itu muncul dalam bentuk play dan berperan atau berfungsi pada mulanya sebagai play.

—         Segala macam pemenuhan kebutuhan seperti beban tapi secara arkaik sebagai play.

—         Hidup kolektif yang disebut sebagai supra-biologis, yang melahirkannya dalam bentuk play.

—         Semakin ludic semakin luhur.

—         Bukannya play yang mentransformasi kultur, tetapi sejak awalnya kultur itu tampil secara playful/ ludic.

—         Rumusan tentang kebudayaan itu tidak pernah jelas?

—         Bagi Huizinga kultur itu bukan suatu entitas tetapi lebih merupakan suatu abstraksi.

—         Aspek ludic: play itu bukan suatu elemen yang ada dalam (in) kultur tetapi lebih sebagai elemen dan karakteristik dari (of) kultur.

—         Kultur itu selalu tampil playful  (ekspresinya). Secara historis, asal muasal kultur serta penampilan dirinya secara playful yang di dalamnya ada unsur keseriusan.   

—         TYLOR mengatakan bahwa setiap suku bangsa, sebagaimanapun primitifnya, toh memiliki kepercayaan akan adanya sesuatu yang super natural (spiritual Beings), percaya akan adanya dunia lain (life absurditas). Bahkan monotheisme berproses dari kepercayaan yang paling primitif.

—         Sikap terhadap alam itu bisa secara imanen atau transenden atau realitas alam sendiri yang:

—         imanen (tertutup) ® dalam pertautan antara manusia dengan kekuasaan? disekitarnya baik struktur sosial ataupun yang alamiah.

—         transenden = sikap terbuka, mengatasi à (Van Peursen)

—         JAMES G. FRAZER (1854-1941)

—         (alam vs manusia = kultur) membagi proses perkembangan budaya dari magis primitif melalui agama menuju sain modern à antropologi sosial dan mental.

—         Seperti juga A. Comte yang membagi 3 tahap àteologis, metafisis,  positif.

—         Magis dan sain sebagai upaya dalam mengatasi alam. Agama adalah penyerahan diri ke dalam tangan Allah/dewa-dewi.

—         Di sini masih dalam konteks bagaimana manusia bersikap menghadapi alam.

—         Kultur lahir berdasar pada sikap magis atau saintifik atas alam.

—         Van Peursen: mitis àontologis à fungsional à proses kebudayaan.

—         C. GEERTZ (1983)

—         (konsep semiotik) “how meaning in one system of expossion is expressed in another”;

—         organize their significative world;

—         more ideational;

—         hermeneutical;

—         understanding of understanding.

—         ZYGMUNT BAUMAN dalam  “Intimations of Postmodernity”-nya :

—         mengatakan bahwa manusia itu mahluk yang tidak komplit dan tidak pernah merasa cukup.

—         Humanisasi + homonisasi berarti proses untuk memenuhi kekurangan tersebut.

—         Dan dilakukan bersama dengan orang-orang dalam lingkungannya dimana ia berada.

—         Distingsi antara ketidakcukupan secara turun-temurun dan upaya untuk memenuhinya disebut dengan oposisi antara

—         “reason” dan “passion

—         atau antara “nature” dan “nurture

—         “social norms” dan “instincs”/”drives

—          Reality Principle vs Pleasure Principle (freudian).

—         àtampak bahwa manusia sebagai “Homo duplex”.

  • Genealogi bisa dilihat dari kondisi psikis (bukan biologis) seperti yang diamati oleh Freudianisme. à ontogenetik. Ontogenetik menentukan phylogenetik.
  • Freud pernah menjawab bahwa sejarah manusia adalah sejarah represi.
  • Mengapa? Sejak manusia bertemu dengan manusia lain terciptalah sikap yang memaksa orang tersebut untuk bersikap tidak hanya melulu sekehendak hatinya.
  • Dia harus mempertimbangkan orang lain. Dia tidak bisa semena-mena.
  • Dia ada pada kontrol. The other is hell, kata Sartre
  • Bila hal itu masal/komunal maka menjadi suatu perilaku, kebiasaan dan kemudian menjadi kebudayaan (setelah mendapat sensor/seleksi) dsb.
  • Culture  constrains:
  • Kultur pada gilirannya menekan, memaksa, membuat kita tidak bebas untuk berbuat seenak perut kita sendiri.
  • Bahkan kultur tidak membuat kita bebas untuk bertindak secara sosietal tetapi juga secara biologis.
  • Tidak hanya sebagian dari kemanusiaan kita, bahkan hingga sampai tingkat struktur instinktual manusia.
  • Insting (biologis) kitapun direpresi! 
  • Maka karena ada konstrain inilah à ada kultur sebagaimana kita alami dan rasakan!
  • Jadi kultur hanyalah representasi dari ketertindasan/represi manusia atas realitas hidup

 

  • Bila kultur = ekspresi + eksperiensi,
  • maka (secara freudian) kultur lebih merupakan ekspresi yang tak bebas, yang terpaksa harus mengekspresikan dirinya berdasarkan reality principle.  Sekaligus saat mengalami realitas yang sebenarnya represif.

 

  • Represi menjadi prekondisi kerugian/kemunduran/ hidup manusia itu sendiri.
  • Bila insting pun terepresi maka diri manusia itu sendiri mahluk yang tak bebas.
  • Kalau begitu apa itu peradaban?
  • Pertama representasi dari represi manusia.
  • Represi dari basic need, basic instinc. Lebih persisnya dari “pleasure principle”.
  • Atau bisa juga dilihat dari sisi lain.
  • Karena tertindas, sementara ia ingin mengekspresikan dirinya, ketertekanannya itu akhirnya disublimasikan.
  • Kedua peradaban adalah representasi dari sublimasi manusia karena tertindas basic instinctnya.
  • Kultur/peradaban merupakan
  • Transformation of the pleasure principle into reality principle.
  • Ego/self menjadi sentral bagi terciptanya cultures?

 

  • representasi (manifestasi) will to power à Nietzsche
  • representasi homo economicus,  materialisme à Marxisme
  • representasi, manisfestasi (sublimasi), emansipasi dsb. sex alive, libido à Freud
  • manifestasi to be/to have atas alam à E. Fromm.
  • Konsep-konsep kultur tergantung pada starting pointnya.
  • Dari manusia secara micro, atau dari alam secara makro.
  • Masih dalam “status questionis” (psichological determinants).
  • Apakah atribut-atribut psikologis manusia yang menentukan kultur, atau kultur yang menentukan psikologi manusia?
  • Psikis manusia merupakan hasil internalisasi?!
  • Bolehkah dikatakan bahwa kultur adalah amplifikasi/ekspresifikasi individu manusia?
  • Sebagaimana begitu individu, begitu kultur, stalis persona, stalis cultura?
  • Keinginan pribadi sama dengan keinginan kultur?
  • Pribadi menjadi mikro kultur bagi kultur besar.
  • PSIKO – KULTURAL
  • Perkawinan  à pelembagaan sex
  • pakaian
  • kesenian
  • sopan santun
  • Freudian: Kepribadian sebagai suatu sistem yang terdiri atas tiga struktur yang berbeda tetapi saling berhubungan (differintiated but interrelated)
  • ID = sistem impulse (pleasure principle): Menyangkut harapan, keinginan dan kecenderungan, bawah sadar, primitif. ® selalu konflik dengan kebudayaan
  • EGO = sistem cognitive – perceptual; Ego konflik dengan impulse yang menginginkan (gratifikasi) = pemenuhan dengan nilai-nilai kultural yang telah diinternalisasi yang diharamkan (dilarang) untuk dipenuhi. àkonflik ini disadari atau tidak.
  • SUPER EGO = sistem normative – prescriptive. àsuatu postulate; ad 3. Nilai-nilai kultural yang telah diinternalisasi oleh sekelompok orang. Yang sering juga konflik dengan diri sendiri secara internal.
  • Model personalitas struktural Freudian?
  • Model personalitas internalisasi à membuat prediksi-prediksi perilaku/perangai
  • bahwa keduanya akan memprediksi perilaku
  • akan menyesuaikan diri/mencocokkan diri (confirm) dengan norma-norma kultural.

 

  • Hakekat kultur kita (scr geneologis?)
  • Secara ontogonik: kita adalah mahluk-mahluk individu yang terepresi sejak masa kanak-kanak/bayi hingga sampai pada kesadaran sosietal kita.
  • Secara phylogenetik: perkembangan peradaban kitapun berjalan berdasarkan peradaban yang terepresi.
  • Wujud peradaban kita pada dasarnya adalah wujud represi.

 

  • Hubungan/interaksi antara ontogenetik dan phylogenetik ini terus berlangsung tanpa kita mampu membendungnya.
  • Kita dari hari-kehari hanya mere-ekspresi dan me-reeksperiensi kenyataan represif itu baik dari diri kita (secara biologis) ataupun secara peradaban.
  • Semakin orang disebut beradab pada hakikatnya adalah orang yang mampu menekan pleasure principle.
  • Itu parameternya. Aneh tapi nyata.
  • Kebebasan/kebahagiaan manusia ditentukan oleh pertentangan insting (drive) manusia
  • antara eros vs (antagonist) thanatos;
  • Life (instinct) vs death (instinct);
  • Soma vs psikhe;
  • Nature vs civilization;
  • Secara biologis vs secara sosiologis;
  • Bawah sadar vs sadar;
  • Libido/id vs reality principle.
  • Kulture = struggle for existence;
  • tranformasi represi-self
  • Victor Frankl: “man search for meaning
  • meaning menentukan segalanya, mempengaruhi segalanya.
  • Meaning secara subjektif atau objektif?
  • Pada mulanya mungkin subjektif ketika menjadi objektif akan lebih diterima.
  • Kultur = ekspresi + eksperiensi ultimate meaning.
  • Ketika menjadi/dianggap objektif.
  • Karena ada consensus gentium.
  • Prosesnya berdasarkan lingkaran hermeneutik. Konstruksi à dekonstruksi à rekonstruksi.
  • Ralph Linton:
  • Bahwa ada universal needs.
  • Kebutuhan sama namun ekspresi berbeda
  • Kebutuhan menentukan kultur (Ralph Linton, The Study of Man, 394)
  • Bukan ditentukan  “universal patern”.
  • Tidak ada pola-pola universal
  • Yang ada “a series of universal needs”
  • Universal needs  sama yang diupayakan untuk dipenuhi dengan cara yang berbeda-beda à biologis, sosial, psikis
  • Kultur à upaya pemenuahan  basic needs
  • Ekspresi dan eksperiensi berbeda dan penamaannya berbeda, kebutuhannya sama.
  • Inkulturasi?
  • Secara teologis, kristianisme hendak mengganti need? Need yang lebih meaningful?
  • Mentransendensir needs?

 

  • BIOLOGIC: kepuasan, kebahagiaan
  • Makan, tempat tinggal, reproduksi/keturunan
  • Kebutuhan yang bersifat mendesak dan menekan
  • Sangat dekat dengan keadaan lingkungan, geografis masing-masing.
  • Maka kebutuhan makanan, jenis-jenis nama tergantung secara partikular
  • Misalnya rumah di Irian, di Jepang, di Kutub, dsb
  • PSIKIS
  • Butuh untuk membagikan kebahagiaan dan kesenangan à Mengekspresikan
  • Butuh kepuasan batin (self esteem)
  • Dihargai, diperhatikan: mis. Org Irian memakai cula babi pada hdung. Pakai sepatu Nike, rambut dicat, pakai lipstick Mirabela, dsb.
  • SOSIAL
  • Bahwa ultimate reality itu  relasi (being with) bukan substansi
  • Bermakna karena orang lain
  • Interdependence, solider
  • Similar needs
  • Meredusir friksi à ada hukum, politik, ekonomi
  • Zoon politikon; group, gang, butuh teman
  • Sartre? The other is hell!
  • De iure Ralph Linton !
  • De facto Freud  à represi basic needs

 

  • Aku  amat sentral

 

  • Erich Fromm : to have + to be
  • V Frankl: man search for meaning

 

}         Definisi Pedro Arupe, SJ (1978)

◦          Iinculturation: the incarnation of Christian life and of the Christian message in a particular cultural context, in such a way that that this experience not only finds expression through elements in quaetions but becomes a principle that animates, directs and unifies the culture, transforming it and remaking it so as to bring a bout a ‘new creation’.

}         Definisi  G. A. Arbuckle  (1990):

◦          Inculturation is the dynamic relation between the Christian message and culture or cultures; an insertion of the Christion life into a culture; an ongoing process of reciprocal and critical interaction and assimilation between them.

}         Definisi Aylward Shorter (1992)

◦          Inculturation: The on-going dialog between faith and culture or cultures more fully, it is the creative and dynamic relationship between the Christian message and a culture or cultures

}         Injil sebagai penjara kebudayaan atau pembebas kebudayaan

}         Kebudayaan à sbg “a place to feel at home”.

}         A + B = C/D

◦          A=  ?

–          Kristianitas?

–          Kristus?

–          Yesus?

–          Kehendak Allah?

–          Kultur Kristen?

–          Peradaban Kristen?

–          INJIL??

–          à ingin mengetahui “text” dan “context” Yesus Kristus sebagai Locus Theologicus sebagai prerequisite?

}         Apanya yang diinkulturasi?

}         Kristus

}         Injil

}         Iman

}         Gereja

–          à ekspresi kultus ritualnya?

–          à teologinya

–          à sekedar “way of seeing Gospel”?

}         inkulturasi: à imperative biblis

◦          Sikapnya mondial,  bukan kultur lokal atau etnik tertentu?

◦          à cfr. New Evangelization

       The escape – from – the- world answer

       Mere-desain?

       Mere-fine?

       Mengkultivasi?

       Polanya apa?

       Istilah “kultur” dalam bahasa Yunani PB à cosmos

       (cfr Yoh 3: 16 à terdapat kata “kosmos”, meskipun Yoh masih netral.

       Kultur = kosmos à sumber kejahatan

       Mencintai dunia sbg lawan kata dari cinta pada Allah.

       Kultur hanya bersifat eksternal saja; sehingga dianggap mungkin untuk escape (keluar, melarikan diri dari “kultur”.

}         Tidak dapat diterima secara antropologis à “our culture is WITHIN us as well as round us”

}         Kita tidak bisa melarikan diri. Mungkin untuk membaharui, mengganti, menambah, mengubah, dsb.

}         Inkulturasi à Earthing the Gospel

–          Membawa Xs ke dunia

–          Membawa ke suatu kultur?

}         Soteriologi kultural?

◦          Menyelamatkan (dunia akhirat)?

◦          Secara sosial politik?

◦          Teologi kultur à lewat kulktur hendak menyelamatkan dunia?

–          Keselamatan itu kultural?

–          Atau  karena misteri Paskah Kristus (ontologis?)

}         Note:

}         Apa itu keselamatan?

◦          [e.g. NU atau Muhamadiah, atau Islam Garis Keras yang berihtiar untuk “menyelamatkan” Indonesia?

◦          à bukan hukum sipil tapi Syariah.

◦          Meng-Islamkan Indonesia!

◦          NU mengambil jalur kultual.

}         Definisi Aylward Shorter (1992)

◦          Inculturation: The on-going dialog between faith and culture or cultures more fully, it is the creative and dynamic relationship between the Christian message and a culture or cultures

}         A + B = C/D

◦          A=  ?

–          Kristianitas?

–          Kristus?

–          Yesus?

–          Kehendak Allah?

–          Kultur Kristen?

–          Peradaban Kristen?

–          à ingin mengetahui “text” dan “context” Yesus Kristus sebagai Locus Theologicus sebagai prerequisite?

}         inkulturasi: à imperative biblis

◦          Sikapnya mondial,  bukan kultur lokal atau etnik tertentu?

◦          à cfr. New Evangelization

       The escape – from – the- world answer

       Mere-desain?

       Mere-fine?

       Mengkultivasi?

       Polanya apa?

}         Injil sebagai penjara kebudayaan atau pembebas kebudayaan

}         Kebudayaan à sbg “a place to feel at home”.

Membaca teks Mt 28: 18 – 20

Ada imperasi misioner

Ada titah dan wasiat penting untuk membaptis

à      kristenisasi? Apa artinya membaptis?

q      Apa pendapat dan sikapmu sbg pengikut Kristus yang radikal?

q      Apakah merasa terpanggil untuk meerealisasikan imperasi ini?

q      Strategi atau taktik macam apa yang dapat menjadi medium pengoprasionalan misi?

q      28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

q      28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

q      28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

}         Roma:

}         10:12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

}         10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.

}         10:14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

}         10:15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

}         10:16 Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?”

}         10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

}         10:18 Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: “Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.”

}         Matius: 13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.

}         13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

}         Matius: 13:37 Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;

}         38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.

}         39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.

}         40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.

}         41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.

}         Yohanes: 12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

}         1 Korintus: 3:5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

}         3:6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

}         3:7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.

}         3:8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

}         3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

}         Lukas: 8:5 “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.

6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.

}         7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.

}         8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

}         9 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.

}         10 Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.

}         11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.

}         I Korintus: 15:36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu.

}         37 Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.

}         38 Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri.

}         Inkulturasi, misi dan evangelisasi

}         Matius

}         à conditio sine qua non

}         Injil Mat itu à ayat-ayat pamungkas

}         Diberi kuasa di surga dan di bumi

}         Karena itu pergilah

}         Ajarlah mereka melakiukan segal sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu

}         Suatu imperasi, titah

}         Suatu desiderium.

}         Roma

}         Berseru, berdoa kepada Allah yang satu dan sama akan selamat

}         Bila agama lain de facto telah berseru denan berdoa kepada Allah yang sama?

}         Berseru kepadaNya (Allah) baru mungkin bila percaya kepada Dia.

}         Bagaimana prasyarat yang menentukan itu?

}         Yesus Kristus yg memungkinkan orang berseru dan selamat?

}         Maka perlu ada pewarta?

}         Istilah “kultur” dalam bahasa Yunani PB à cosmos

–          (cfr Yoh 3: 16 à terdapat kata “kosmos”, meskipun Yoh masih netral.

–          Kultur = kosmos à sumber kejahatan

–          Mencintai dunia sbg lawan kata dari cinta pada Allah.

}         Kultur hanya bersifat eksternal saja; sehingga dianggap mungkin untuk escape (keluar, melarikan diri dari “kultur”.

  }         Tidak dapat diterima secara antropologis à “our culture is WITHIN us as well as round us”

 }         Kita tidak bisa melarikan diri. Mungkin untuk membaharui, mengganti, menambah, mengubah, dsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: