Liturgi Bahan Kuliah Pst Harimanto OSC

I. MENATA RUANG LITURGIS

 

 

Perlukah membangun gedung gereja?

 

  1. Yesus memang mendirikan Gereja, namun dalam pengertian umat kristiani. Di antara umat-Nya itulah Allah akan tinggal: “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku akan hadir di tengah mereka” (Mat 18:20).
  2. Umat kristiani perlu berhimpun agar bisa beribadat sebagai jemaat, agar bisa memuliakan Allah “dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:21). Maka, diperlukanlah suatu tempat atau ruang khusus untuk menampung dan memungkinkan digelarnya perayaan iman mereka.
  3. Namun, perayaan liturgis tidak hanya bisa dilakukan dalam gedung gereja; bisa di mana pun, tak harus “di gunung atau di Yerusalem” (Yoh 4:21).

 

 

Syarat tempatnya?

 

PUMR 288:  Untuk merayakan Ekaristi, umat Allah biasanya berhimpun dalam gereja. Kalau tidak ada gereja, atau kalau gereja tidak memadai, mereka berhimpun di suatu tempat lain yang pantas untuk misteri yang seagung itu.

Maka dari itu, hendaknya ruang gereja atau tempat lain itu

[1] sungguh-sungguh sesuai untuk perayaan kudus yang dilangsungkan di dalamnya,

[2] sungguh-sungguh memungkinkan partisipasi umat beriman dalam perayaan tersebut.

[3] Rumah ibadat dan segala perlengkapannya hendaknya sungguh pantas, indah, serta merupakan tanda dan lambang alam surgawi.

 

Bisa di mana pun…

      PUMR 293:Perancangan gereja dan lingkungan sekitarnya hendaknya serasi dengan situasi setempat dan sesuai pula dengan tuntutan zaman. Maka dari itu, tidak cukup kalau hanya syarat-syarat minimal untuk perayaan ibadat dipenuhi. Hendaknya juga diusahakan agar umat beriman, yang secara teratur berhimpun di situ, merasa nyaman.

      PUMR 289:Gereja selalu mengharapkan sumbangan para seniman dan memberikan keleluasaan kepada kesenian segala bangsa serta daerah.  Memang, Gereja berusaha memelihara karya seni dari abad-abad yang lalu dan menyesuaikan seperlunya dengan tuntutan zaman, namun ia berusaha juga memajukan bentuk-bentuk baru yang serasi dengan semangat zamannya.

      Oleh karena itu, dalam mendidik para seniman dan dalam memilih karya-karya seni untuk gereja, hendaknya dituntut yang sungguh  bermutu. Sebab seni itu harus membantu memperdalam iman dan kesucian, harus selaras dengan kebenaran yang mau diungkapkan dan mencapai tujuan yang dimaksud.

Proyek perlu peran :

 

  • Penggagas: uskup / imam+ penasihat pastoral, liturgi, finansial.
  • Tim pelaksana: insinyur sipil, arsitek.
  • Tim penasihat: ahli liturgi, bangunan, dsb.

 

v         PUMR 291: Untuk mendirikan gereja baru, atau memperbarui gereja lama, atau              mengubah konstruksi gereja, hendaknya lebih dulu diminta nasihat kepada Komisi Liturgi dan Komisi Kesenian keuskupan. Uskup diosesan hendaknya memanfaatkan nasihat komisi-komisi tersebut, bila ia harus memberikan petunjuk, mengesahkan rencana untuk bangunan baru, atau mengambil keputusan lain di bidang ini.

 

Crispino Valenziano:  “Peran arsitek amat penting!”

 

Interkausalitas dalam pembangunan gereja:

  1. Untuk mewujudkan tujuan pembangunan   (liturgi Gereja: kausa final)
  2. pekerja seni   (arsitek: kausa efisien)
  3. harus paham dan mampu di bidang arsitektur liturgis(formasi liturgis: profesionalitas arsitek [ kausa efisien, formal, material, instrumental, eksemplar ]),
  4. harus juga memahami model   (alasan/konsep liturgis: kausa eksemplar),
  5. lalu memilih bahan-bahan bangunannya   (batu, besi, semen, dsb: kausa material),
  6. sekaligus juga mengatur pembangunan keseluruhan supaya sesuai dengan tujuan liturgi” (tata bangunan dan ruang liturgis: kausa formal).

 

TEMPAT IBADAT YAHUDI

 

      Bait Allah

      Rumah Keluarga

      Sinagoga zaman Yesus

 

EVOLUSI GEDUNG GEREJA

 

Beberapa istilah gereja:

 

  1. Gereja paroki: milik suatu paroki, menjadi pusat kegiatan umat paroki yang bersangkutan;
  2. Gereja stasi: bagian dari paroki, tempat umat stasi beribadat selain di gereja paroki pusat;  
    1. Gereja katedral: gereja utama di suatu keuskupan, terdapat takhta uskup setempat,;
  3. Kapel: bangunannya relatif lebih kecil atau merupakan ruang ibadat di biara, sekolah, asrama, rumah sakit, tempat ziarah, atau tempat umum lainnya (terminal, stasiun, bandar udara, pasar).

 

Misalnya ada bermacam-macam

  • Gaya Basilika Romawi
  • Gaya Gotik
  • Gaya Klasik dan Barok
  • Gaya Modern

GEREJA DAN TATA RUANGNYA

 

      PUMR 290:     Semua gereja hendaknya didedikasikan atau, sekurang-kurangnya, diberkati. Katedral dan gereja-gereja paroki harus didedikasikan dengan ritus meriah.

Altar sedang diberi minyak krisma. 

      PUMR 294: Umat Allah yang berhimpun untuk Misa mempunyai susunan organik dan hirarkis.Hal itu tampak dalam  bermacam-macam tugas dan aneka ragam tindakan yang dilakukan dalam masing-masing bagian perayaan liturgi.

      Oleh karena itu, tata ruang gereja haruslah disusun sedemikian rupa, sehingga

       [1] mencerminkan susunan umat yang berhimpun,

       [2] memungkinkan pembagian tempat sesuai dengan susunan itu, dan

       [3] mempermudah pelaksanaan tugas masing-masing anggota jemaat

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagian untuk imam, para klerus, disebut panti imam atau ruang altar (sanctuarium).

Imam, diakon, dan pelayan-pelayan lain hendaknya mengambil tempat di panti imam. Di sini pula hendaknya disiapkan tempat duduk untuk para konselebran; kalau jumlah konselebran besar, tempat duduk mereka diatur di bagian lain gereja, tetapi masih dekat dengan altar.

Ruang untuk umat (Ing. nave = bagian tengah) terbentang dari pintu masuk hingga batas panti imam. Dari situlah jemaat mengikuti perayaan liturgis, dan biasanya tersedia kursi atau bangku untuk mereka.Umat beriman dan paduan suara hendaknya mendapat tempat yang memudahkan mereka berpartisipasi secara aktif di dalam liturgi.Tata ruang gereja menunjukkan susunan hirarkis umat dan keanekaragaman tugas. Meski demikian, harus tetap mewujudkan kesatuan, supaya dengan demikian tampaklah kesatuan seluruh umat kudus. Penataan dan keindahan ruang serta semua perlengkapan gereja hendaknya menunjang suasana doa dan mengantar umat kepada misteri-misteri kudus yang dirayakan di sini.

 

 

Perabot Panti Imam

 

Untuk perayaan Sakramen Ekaristi diperlukan:

v     Altar, Ambo,    Kursi imam,      Salib,    Tempat lilin, dsb (yang ditata di panti imam)

 

 

      Tabernakel: untuk menyimpan sakramen Mahakudus bagi yang tak bisa menghadiri Misa dan viatikum, serta bagi adorasi. Ditandai dengan lilin/pelita menyala.

      Kapel Ekaristi

      Tempat Pengakuan:Untuk Sakramen Tobat biasanya disediakan pula tempat khusus,suatu tempat pengakuan pribadi untuk peniten dan imam.

      Kursi Pengantin: Untuk Liturgi Perkawinan dibutuhkan sepasang kursi untuk para pengantin.

      Tempat air suci

      Ruang Baptis:Untuk Sakramen Baptis diperlukan tempat / ruang baptis (baptisterium), atau sekedar bejana baptis. Entah dibangun di dekat pintu masuk atau di dekat panti imam.

      Patung dan gambar: Membantu umat menghayati misteri-misteri iman yang dirayakan di gereja.

      Salib dengan Tubuh Yesus menghadap  ke umat, untuk mengenangkan pengurbanan Yesus, yang secara sakramental dihadirkan kembali dalam Misa Kudus.

      Lonceng menambah identitas kekristenan:Untuk mengundang orang berdoa, khususnya para biarawan-biarawati yang mendoakan Ibadat Harian. Juga, untuk mengingatkan umat akan  hari-hari pesta, atau bahkan untuk mengundang umat agar berdoa bagi arwah-jenazah yang sedang dibaringkan dan hendak diberkati di gereja itu atau akan diadakan Liturgi Pemakaman.

PERABOT UTAMA MISA

1. Altar

2. Mimbar / Ambo

3. Kursi Imam

 

PUMR 296 Altar merupakan

  1. Tempat untuk menghadirkan  kurban salib dengan menggunakan tanda-tanda sakramental. Sekaligus altar  merupakan,
  2. Meja perjamuan Tuhan,  dalam Misa  umat Allah dihimpun di sekeliling altar untuk mengambil bagian dalam perjamuan itu. Altar merupakan juga,
  3. Pusat ucapan syukur yang   diselenggarakan dalam Misa.

 

      Pahami hal-hal penting ini…

  • Meja kurban dan perjamuan
  • Altar yang permanen
  • Di mana letak altar?
  • Relikwi masih diperlukan?
  • Apa arti menyimpan relikwi?
  • Tata cara pengudusan altar
  • Satu altar dalam satu gereja
  • Altar lama dan altar baru?
  • Pendupaan altar
  • Putih, warna kain penutup altar
  • Yang boleh diletakkan di atas altar?

 

      PUMR 309:  Keagungan sabda Allah menuntut agar dalam gereja ada tempat yang serasi untuk pewartaan sabda, yang dengan sendirinya menjadi pusat perhatian umat selama Liturgi Sabda. Sebaiknya tempat pewartaan sabda itu berupa mimbar (ambo) yang tetap, bukannya “standar” yang dapat dipindah-pindahkan.

 

      Pahami hal-hal penting ini…

  • Hanya satu ambo
  • Letaknya: kiri, kanan, atau tengah?
  • Untuk membawakan apa saja?
  • Dekorasi ambo
  • Bisa untuk lebih dari satu orang
  • Unsur penunjang lainnya

 

      PUMR 310:Kursi imam selebran harus melambangkan kedudukan imam sebagai    pemimpin jemaat dan mengungkapkan tugasnya sebagai pemimpin doa.

 

      Pahami hal-hal penting ini…

  • Letaknya komunikatif
  • Jangan bagai singgasana
  • Diberkati uskup
  • Hanya satu Kursi Pemimpin
  • Kursi Imam Konselebran?
  • Untuk Gereja Katedral?

 

  Renovasi

  • Bangunan gereja lama ditata secara baru
  • Altar
  • Mimbarr

  SUASANA LITURGIS

  1. Cahaya, Aroma, Warna, dan Suara
  2. Unsur cahaya
  3. Aroma surgawi…
  4. Penggunaan warna dan kain
  5. Cem macem…
  6. Bunga-bunga di mana-mana…
  7. Dekorasi untuk adorasi
  8. Suara-suara itu…

 

 

 

 

II. TATA GERAK SIKAP TUBUH

 

 

Untuk apa?

Sebagai perayaan manusiawi, Perayaan Ekaristi juga memerlukan ekspresi diri manusiawi. Maka, tata gerak atau sikap tubuh seluruh jemaat dan para pelayan-nya juga menjadi bagian terpenting dalam simbolisasi kebersamaan dan kesatuan Gereja yang sedang berdoa. Tata gerak dan sikap tubuh imam, diakon, para pelayan, dan jemaat tentu punya maksud. Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi Suci Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan  dan membangun  sikap batin yang  sama pula.

 

Maka, jika dilakukan dengan baik:                

[1] Seluruh perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun;

[2] Makna aneka bagian perayaan dipahami secara tepat dan penuh; dan

[3] Partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan (PUMR 42).

 

Bolehkah mengubah?

  • Tidak secara mutlak dilarang. Tapi, pesan PUMR 42 sebaiknya diperhatikan dengan baik: “…ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawi serta kesejahteraan rohani umat Allah harus lebih diutamakan daripada selera pribadi dan pilihan yang serampangan.”
  • Jadi, wewenang itu bukan diserahkan kepada “selera pribadi”, seenak pelayan atau jemaat dan tanpa pemikiran-pertimbangan yang cukup matang.
  • PUMR 43 juga: “…sesuai dengan ketentuan hukum, Konferensi Uskup boleh menyerasikan tata gerak dan sikap tubuh dalam Tata Perayaan Ekaristi dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat. Namun, hendaknya Konferensi Uskup menjamin bahwa penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian Perayaan Ekaristi yang bersangkutan.”

 

Apakah perlu diubah?

Pertanyaan ini bisa dilontarkan ketika cita rasa budaya setempat (Gereja lokal) dirasa berbenturan dengan praktek liturgi yang disarankan Takhta Apostolik (Roma) dalam Pedoman Umum Misale Romawi. Maksudnya, jika jemaat merasa tidak cocok, kurang sreg, atau ada perbedaan makna, maka kiranya tata gerak dan sikap tubuh yang ada dalam buku Pedoman bisa saja ditinjau kembali dan kemudian—jika dianggap perlu—diserasikan dengan cita rasa budaya jemaat setempat. Tentu saja perubahan itu tidak dilaksanakan secara gegabah atau serampangan. Maka, perlulah mengadakan semacam penelitian atau studi dialogis antara budaya setempat dengan pemahaman teologis dan liturgisnya.

 

Bagaimana supaya kompak?

Ada beberapa cara. Sebaiknya sudah ada dulu petunjuk tata gerak untuk umat. Mungkin dalam teks atau buku Misa (dalam rubrik) juga dicantumkan bagaimana tata geraknya. Jika umat sudah mengenal dan terbiasa, mungkin tidak perlu dikuatirkan. PUMR 43 juga menyebutkan: “Demi keseragaman tata gerak dan sikap tubuh selama perayaan, umat hendaknya mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh diakon, pelayan awam, atau imam, selaras dengan petunjuk buku-buku liturgis.”

 

 

 

 

 

 

Cara praktisnya:

  1. Ada petugas yang “mengajak” umat untuk  melakukan tata gerak tertentu           selama perayaan berlangsung;
  2. Umat dapat diberi petunjuk sebelum perayaan mulai, khususnya untuk tata gerak yang baru atau belum biasa             dilakukan umat;
  3. Jika ada buku Misa untuk umat, sebelum perayaan dimulai, umat dipersilakan menyimak setiap petunjuk yang tertulis dalam buku tersebut, khususnya yang    berkaitan dengan tata gerak dan peran umat pada umumnya.

 

Makna masing-masing:

 

1. Makna “berkumpul”

 

  1. Berkat pembaptisan kita dijadikan satu keluarga dalam Gereja yang kudus. Orang kristiani adalah pribadi yang komuniter, selalu terpaut dalam kebersamaan. Kita tidak sendirian. Dalam nama Bapa dan Putera, kita juga dipersatukan oleh Roh Kudus. Itu tampak ketika kita berkumpul, khususnya dalam “tempat kudus”.
  2. Kita berkumpul sebagai orang-orang pilihan, yang terpanggil, yang dicintai Allah. Liturgi mengundang kita untuk menemukan kembali panggilan kita, yakni tumbuh dalam kesatuan, menjadi umat Allah, berkarya dengan dan bagi saudara-saudari dalam perayaan yang dinamis.
  3. Maka, berkumpul adalah bagian dari tata gerak kolektif. Agar pertemuan itu tidak kacau, tidak anarkis, tetap utuh, maka diperlukanlah keyakinan dan sikap yang sama. Di sinilah letak pentingnya suatu pedoman atau aturan bersama. Kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, suatu perayaan bersama yang bukan tanpa aturan. Selain itu, berkumpul juga menjadi tanda kehadiran Kristus sendiri: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

 

2. Makna “berdiri”

 

  1. Sikap tubuh ini mengungkapkan kegembiraan jemaat. Gembira atas kebersamaan dan persaudaraan di dalam Kristus.
  2. Berdiri menyatakan keyakinan dan perasaan yang utuh, jiwa yang siaga di hadapan Allah, siap bertemu dan berdialog dengan yang Ilahi. Kita berdiri karena kita berada di hadapan yang me-nentukan dan menguasai hidup kita, yang memberi kekuatan dan menjaga kita.
  3. Berdiri untuk me nyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya Allah Tuhan kita. Kit berdiri untuk menghormati Allah  yang Mahatinggi itu (bdk. Kej 18:8).
  4. Jemaat yang berdiri menunjukkan rasa syukurnya dan keakrabannya dengan Allah. Jemaat yang berdiri juga mengungkapkan persau-daraan yang hidup, yang dipersatukan bagi dan oleh Allah.
  5. Maka, sangatlah tepat bila kita berdiri khususnya pada saat menyatakan iman (Syahadat) dan Doa Syukur Agung. Kita mengakui secara terbuka bahwa wafat dan kebangkitan Kristus (Misteri Paskah) adalah dasar kehidupan kita. Inilah dasar kegembi-raan kita. Kegembiraan Paskah mengantar perjalanan kita menuju Allah.
  6. Kita seolah berdiri bersama Yesus Kristus berada di Yerusalem surgawi
  7. Kita berpartisipasi, terlibat penuh dalam kemenangan Paskah yang dibawakan oleh Kristus. Maka dari itu, di beberapa gereja ada juga yang memberla-kukan “berdiri” selama Masa Paskah, tidak ada berlutut, bahkan juga duduk.

 

 

Kapan “berdiri”?

 

Untuk umat, PUMR 43 menyebut:

  1. Dari awal nyanyian pembuka, atau selama perarakan masuk menuju altar sampai dengan Doa Pembuka selesai;
  2. Pada waktu melagukan Bait Pengantar Injil (dengan atau tanpa “alleluya”);
  3. Pada waktu Injil dimaklumkan;
  4. Selama Syahadat (Credo);
  5. Selama Doa Umat;
  6. Dari ajakan “Berdoalah, Saudara…” sebelum Doa Persiapan Persembahan hingga akhir Perayaan Ekaristi, kecuali pada saat-saat tertentu yang ditentukan tersendiri.
  7. Untuk Imam Selebran, saat-saat berdirinya hampir sama dengan jemaat. Ada beberapa perbedaan, misalnya, pada saat menyampaikan Homili, ia dapat berdiri atau duduk di kursi imam; pada saat Doa Syukur Agung ia harus tetap berdiri memimpin, sementara jemaat dapat berdiri atau berlutut.

 

3. Saat dan makna “duduk”

 

PUMR 43: Jemaat hendaknya duduk:

[a] Selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama Mazmur Tanggapan;

[b] Selama Homili;

[c] Selama per-siapan persembahan;

[d] Selama saat hening sesudah komuni. Khusus untuk yang berkaitan dengan Liturgi Sabda, sikap ini ada dasar biblis-nya. Misalnya, saat Yesus mengajar, orang-orang mendengarkan Dia dengan duduk memperhatikan (Mat 5:1). Atau, saat Maria yang sedang duduk mendengarkan Yesus, sementara Marta sibuk melayani para tamunya. Yesus berkata: “Maria telah mengambil bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya” (Luk 10:39).

Maknanya sesungguhnya luas. Sikap duduk bisa menggambarkan saat orang mengharapkan sesuatu; ia sedang mendengarkan atau mencerna suatu pesan. Keadaan batin tertentu juga bisa digambarkan dengan duduk. Orang seolah mendambakan untuk menemukan makna hidupnya yang sejati Pada saat  kita duduk, kita pun berharap agar Allah berbicara atau me                                                                                        nyatakan diriNya kepada kita. Ini adalah saat epiklesis juga. Dengan duduk pun kita menyambut sabda-sabda Allah itu dengan hati terbuka. Kita berharap agar sabda Allah sungguh menyirami dan menyegarkan hati kita. Allah sendiri ingin agar kita dapat subur dan berbuah berkat sabda-Nya. Maka, duduk juga berarti kesediaan untuk saling mendengarkan, saling berbagi pengalaman, saling mempersatukan diri.

Duduk menerbitkan rasa damai, aman, percaya, karena kita memang sedang bersatu dengan Allah. Ini menggambarkan dimensi eskatologis, saat istirahat nanti, setelah perjalanan panjang dan perjuangan hidup di dunia: “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya” (Why 3:21). Setiap kali duduk, jiwa kita memasuki kedamaian yang membantu kita  untuk menerima sabda ilahi dan mencicipi komunikasi dengan Allah nanti.

Duduk di mana?

Pengertian “duduk” pada umumnya mengandaikan adanya kursi, bangku, atau tempat duduk apa pun. Maka kondisi tempat duduk sebaiknya juga mendukung maksud sikap duduk kita. Bisa duduk dengan enak, tidak gerah, tidak terusik apa pun, memang ideal, sehingga umat dapat mengikuti dan mengambil bagian dalam perayaan dengan baik

 

 

 

 

 

4. Bagaimana “berlutut” dan apa maknanya?

  1. Cara wajar untuk “berlutut” adalah dilakukan dengan menekuk lutut kanan sampai menyentuh lantai. Ini adalah tanda sembah sujud (PUMR 274), untuk menghormati.
  2. Tentu saja hal ini bukan sekedar tindakan ritual. Ada makna yang mendalam.
  3. “Berlutut” mengungkapkan pengakuan iman kita akan Misteri Paskah, sekaligus menandakan kerinduan kita untuk hadir dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus, Tuhan kita.
  4. Sikap berlutut merupakan bentuk perendahan diri karena hadir di hadapan Tuhan
  5. Seperti kata Paulus: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah Bapa!” (Fil 2:10-11). Kita pun melakukannya untuk meniru kesengsaraan Kristus ketika disalib supaya boleh mengalami anugerah kebangkitan-Nya. Sikap ini mengajar kita untuk hidup sehari-hari seperti yang dilakukan Kristus. Kita diantar untuk bersatu dalam persembahan diri dan kurban-Nya yang suci.

 

Imam “berlutut” tiga kali,  Jemaat hanya satu kali?

Dalam suatu Misa, imam mempunyai kesempatan berlutut tiga kali (PUMR 274), yakni pada waktu:

  1. Setelah mengangkat Tubuh/Darah Kristus (Doa Syukur Agung) dan sebelum menyambut Tubuh-Darah Kristus (Ritus Komuni).
  2. Sementara PUMR 43 menegaskan: “Umat berlutut pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengizinkan, entah karena banyaknya umat yang hadir, entah karena sebab-sebab lain.
  3. Mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi hendaknya membungkuk khidmat pada saat imam berlutut sesudah konsekrasi. …kalau umat sudah terbiasa berlutut sejak sesudah Kudus sampai dengan akhir Doa Syukur Agung, kebiasaan ini seyogyanya dipertahankan.” Jelas sekali bahwa hanya ada satu kesempatan untuk berlutut, yakni pada saat konsekrasi atau selama Doa Syukur.

 

Sudah jamak terjadi bahwa di banyak gereja di Indonesia, jemaat berlutut beberapa kali.

  1. Misalnya, saat Ritus Tobat, Doa Pembuka, Doa Umat, Doa Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung, dsb. Mungkin itu karena pertimbangan budaya atau sekedar salah kaprah, kebiasaan yang kurang tepat tapi seolah sudah dianggap benar.
  2. Perlu ditambahkan, jemaat di sini berlututnya dengan cara menekuk kedua lutut di atas lantai atau tempat lutut khusus. Jadi, memang ada dua macam cara “berlutut”. “Berlutut sejenak” (dengan satu lutut di lantai) atau “berlutut lama” (dengan dua lutut di lantai). Keduanya juga bisa dilakukan baik oleh imam maupun jemaat, misalnya saat menyanyikan Litani Para Kudus.

 

Ada juga makna tersendiri untuk “berlutut lama”

    1. Biasanya orang berlutut lama untuk  berdoa secara pribadi. Ada banyak motivasi atau alasan mengapa orang itu berlutut.
    2. Berlutut bisa menandakan “kegagalan, kekalahan”. Kita pasrah dan mengakui kelemahan kita di hadapan Allah.
    3. Sikap tubuh ini menunjukkan semangat kerendahan diri yang menguasai hati dan jiwa kita. Di hadapan Allah, Sang Sumber Hidup, kita ini tidak ada apa-apanya. Saat itu pula, dengan sikap tubuh itu, kita mengungkapkan isi batin kita dan menyembah Allah. Kita juga ingin menyelaras-kan diri dengan Kristus, Putera-Nya.
    4. Berlutut lama semacam ini  juga mengungkapkan keyakinan kita bah wa Allah yang  telah memulai   itu akan juga   menggenapi semua karya-Nya di dalam  diri kita. Secara lebih dramatis lagi, bentuk kepasrahan diri ini diungkapkan dalam tata gerak “tiarap” atau “merebahkan diri” untuk mereka yang akan ditahbiskan.

Kapan lagi harus “berlutut”?

  1. Saat kita masuk ke gedung gereja, setelah membuat tanda salib dengan air suci, sebelum duduk, biasanya kita berlutut.
  2. Mengapa? Sebenarnya kita hendak menghormati Sakramen Mahakudus, terutama jika di dalamnya terdapat Sakramen Mahakudus itu.
  3. Jika tidak ada tabernakelnya (tempat Sakramen Mahakudus yang menjadi simbol kehadiran Kristus yang abadi), dapat diartikan kita menghormati gereja sebagai tempat yang kudus.
  4. Sikap ini memang belum termasuk tata gerak dalam Perayaan Ekaristi
  5. Namun, pada prinsipnya setiap kita mendekati atau melewati Sakramen Mahakudus, kita diharapkan memberi penghormatan dengan cara berlutut; kecuali pada saat dalam perarakan.

 

“Berlutut” diganti “menundukkan kepala”

  1. Untuk kesempatan tertentu, “berlutut” (juga “membungkuk”) bisa diganti dengan “menundukkan kepala”.
  2. Misalnya, ketika para pelayan Misa (putera altar, lektor, diakon) sedang membawa salib, lilin, dupa, atau Kitab Injil harus menghormati Sakramen Mahakudus atau altar.
  3. Menurut PUMR 275a, “menundukkan kepala” dilakukan juga ketika mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama para orang kudus yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan.

Mengapa perlu diganti?

  1. Pembawa benda-benda itu biasanya akan kerepotan jika harus berlutut sementara masih membawa sesuatu.
  2. Lagipula, bisa tampak tidak indah dan kurang menarik jika salib yang mestinya tetap tegak ternyata jadi miring lantaran pemegangnya sedang berlutut atau membungkuk. Atau, lelehan lilinnya jatuh ke lantai atau ke tangan putera altar yang memegangnya karena dia harus berlutut.
  3. Khusus untuk benda-benda simbolis yang berkaitan dengan diri Kristus, seperti Kitab Injil dan salib, kita diminta tetap menun-jukkan nilai kehormatannya. Maka, benda-benda simbol Kristus itu harus tetap tampak anggun, tidak tampil naik turun, miring ke kiri-ke kanan, karena si pemegang harus berlutut dan berdiri segala.

 

5. Tanda penghormatan lain: “membungkuk”

Masih ada satu lagi sikap tubuh yang melambangkan sikap penghormatan. PUMR 275b menjelaskan: “Membungkukkan badan atau membungkuk khidmat dilakukan waktu:

  1. Menghormati altar;
  2. Sebelum memaklumkan Injil, waktu mengucapkan doa Sucikanlah hati dan budiku, ya Allah yang Mahakuasa…;
  3. Dalam Syahadat, waktu mengucapkan kata-kata …dan Ia menjadi manusia (namun pada Hari Raya Natal dan Kabar Gembira kepada Maria, pada bagian ini umat dapat berlutut);
  4. Dalam persiapan persembahan,waktumengucapkan doa Dengan rendah hati  dan tulus;
  5. Dalam  DSA 1 pada kata-kata Allah yang Mahakuasa, utuslah malaikat-Mu…. Membungkuk juga dilakukan oleh diakon waktu minta berkat kepada imam sebelum mewartakan Injil. Kecuali itu, imam juga membungkuk sedikit waktu mengucapkan ‘Tuhan’ pada saat konsekrasi: “Terimalah….”

 

6. Mencium

Altar dan Kitab Injil dihormati  oleh imam dan diakon dengan “mencium” atau “me-                                          ngecup”-nya. Akan tetapi, kalau mencium tidak sesuai tradisi atau kekhasan daerah setempat, Konferensi Uskup berwenang menggantinya dengan cara penghormatan yang lain, dengan persetujuan Takhta Apostolik (PUMR 273). Misalnya, dengan cara menempelkan kepala atau kening pada benda tersebut atau meletakkan telapak tangan pada benda yang dihormati itu.

7. Adakah “menyembah”?

Buku TPE 2005 untuk Umat (dalam “Petunjuk Praktis” hlm. 7) menyebut sikap “menyembah” pada waktu Imam memperlihatkan Tubuh dan Darah Kristus, setelah mengucapkan kata-kata konsekrasi. Mungkin cara menyembah dengan dua tangan terkatup yang diangkat (di depan hidung, di  depan dahi, di atas kepala, ada lagi…?) bermakna suatu penghormatan. Cara ini rupanya lebih dipengaruhi oleh budaya tertentu di tanah air kita (Jawa dan Bali, mungkin juga di budaya lain?).

Maka, cara “menyembah”ternyata hanya dilakuk  oleh umat yang  belakang budaya tertentu itu. Cara “menyembah memang tidak berlaku untuk seluruh gereja di Indonesia. Ada berapa cara “menyembah” sesungguhnya? Karena yang tampak ternyata beraneka ragam. Itu perlu diselidiki dalam budaya yang memilikinya. Dicari tahu bagaimana yang sebenarnya dan apa pula maknanya, agar tata cara “menyembah” itu selaras dengan maksud ritualnya dalam Liturgi Ekaristi. Meskipun sering dianggap sebagai sikap pribadi, namun baik juga jika dipertimbangkan sebagai sikap bersama.

8. Beberapa tata gerak Imam lainnya

 

  1. Merentangkan tangan, dilakukan ketika imam membawakan doa-doa presidensial. Tata gerak ini meniru Kristus yang terentang tangan-Nya di kayu salib atau Musa yang sedang berdoa agar Allah melindungi bangsa Israel dari kejaran tentara Mesir;
  2. Menumpangkan tangan di atas objek (bahan persembahan) atau subjek (orang, umat) sebagai lambang turunnya Roh Kudus (epiklesis), yang menghasilkan rahmat pengudusan (“…utuslah Roh Kudus-Mu…”);
  3. Mngangkat bahan persembahan (roti/sibori dan anggur/piala) untuk dihunjukkan kepada Allah atau ditunjukkan kepada jemaat (dalam Doa Syukur Agung dan Ritus Komuni: “Inilah Tubuh-Ku/Darah-Ku”, “Inilah Anak Domba Allah”);
  4. Membuka tangan dan mengatupkannya lagi sebagai tanda ajakan (“Marilah kita berdoa”) kepada jemaat. Tata gerak ini juga dilakukan oleh diakon sebelum membawakan Injil (“Tuhan sertamu…”).

 

9. Perarakan juga bagian dari tata gerak

Seringkali terlupakan bahwa “perarakan” juga merupakan tata gerak. Dari istilah ini kita tentu langsung bisa membayangkan bahwa pelakunya lebih dari satu orang. Juga, ada beberapa perlengkapan pendukung “perarakan” itu.

Maka, istilah tata gerak mencakup juga                                     

segala jenis perarakan, seperti:                                                                                     

  1. Tindakan dan perarakan imam bersama diakon dan para pelayan menuju altar;
  2. Perarakan dia-kon yang membawa Kitab Injil menuju mimbar sebelum pemakluman Injil;
  3. Perarakan umat beriman yang meng-antar bahan persembahan dan maju untuk menyambut komuni.
  4. Perarakan itu menandakan suasana kemeriahan. Maka, hendaknya tata gerak ini dilaksanakan dengan anggun, sesuai dengan kaidah masing-masing, dan diiringi dengan nyanyian yang serasi (PUMR 44). Bahkan kalau dirasa perlu, bisa juga dengan tarian atau ekspresi budaya lainnya.

 

 

III. BUSANA  DAN PERANTI LITURGIS

 

A. BUSANA LITURGIS

Mengapa memakai busana khusus?

Kel 28:2-3: “Haruslah engkau membuat pakaian kudus untuk Harun, saudaramu, sebagai per-hiasan kemuliaan. Haruslah engkau mengatakan kepada semua orang yang ahli, yang telah Kupenuhi dengan roh keahlian, membuat pakaian Harun, untuk menguduskan dia, supaya dipegangnya jabatan imam bagi-Ku.”

 

Pedoman Umum Misale Romawi:

Gereja adalah Tubuh Kristu Dalam Tubuhtidak semua anggota menjalankan tugas                       yang sama. Dalam perayaan Ekaristi,   tugas yang berbed-beda itu dinyatakan lewat busana liturgisyang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis” (PUMR 335).

 

Amik, tanda perlindungan

  1. Amik adalah kain putih segi empat dengan dua tali di dua ujungnya atau ada juga model modern lain yang tidak segi empat dan tanpa tali.
  2. Amik yang melingkari leher dan menutupi bahu dan pundak itu melambangkan pelindung pembawa selamat (keutamaan harapan), yang membantu pemakainya untuk mengatasi serangan setan.
  3. Kain itu secara praktis juga berfungsi untuk menutupi kerah baju supaya tampak rapi, untuk menahan dingin, atau sekaligus untuk menyerap keringat agar busana liturgis pada zaman dulu yang biasanya amat indah dan mahal tidak mengalami kerusakan.
  4. Amik dikenakan oleh imam, diakon, atau petugas lain yang hendak mengenakan alba.
  5. Pemakaian amik sering tergantung juga pada alba yang akan dipakai. Kalau alba kiranya tidak menutup sama sekali kerah pakaian sehari-hari, maka barulah amik itu dikenakan sebelum alba (PUMR 336).

 

Alba, citra kekudusan

Pakaian putih (Latin: alba = putih) panjang; simbol kesucian dan kemurnian yang seharus-nya menaungi jiwa diakon/ imam yang me-rayakan liturgi, khususnya Pe-rayaan Ekaristi Alba dengan warna putihnya itu sendiri secara simbolis mengingatkan kita akan komitmen baptis dan  kebangkitan. Sebenarnya alba juga boleh dipakai untuk pelayan altar lainnya, bahkan—meski tidak lazim—untuk lektor dan pemazmur.

 

Jubah lektor?

Sudah amat lazim bahwa lektor—juga beberapa petugas liturgis lainnya, seperti pemazmur dan pembagi komuni, bahkan kelompok paduan suara—mengenakan jubah atau busana semacamnya. Tidak ada aturan khusus untuk itu, juga tidak ada larangan untuk meneruskan kebiasaan itu. Namun perlu ditegaskan bahwa hal itu bukanlah keharusan, sehingga tidak ada kewajiban untuk mengadakannya.

Justru, ketika awam atau petugas liturgis yang tidak ditahbiskan berperan dalam perayaan liturgis, sebaiknya ia tampil dengan busananya sendiri. Tentu saja busana yang layak dan sopan untuk ukuran publik. Lagipula, seringkali memakai jubah bagi mereka malah bisa mengundang pemikiran lain (baik secara asosiatif maupun estetis). Dengan kata lain, tidak semua orang cocok memakai jubah. Jelasnya, jubah yang sebenarnya diperuntukkan bagi lelaki tentunya jadi kelihatan aneh jika dikenakan perempuan.

Superpli, pengganti alba

Superpli merupakan pengganti alba, potongannya tidak sepanjang alba. Ber-warna putih. Superpli tidak sampai mata kaki, cukup sebatas lutut dengan perge-langan tangan yang cukup lebar.

Tidak boleh sembarangan memakai superpli. Alba dapat diganti superpli, kecuali kalau dipakai kasula atau dalmatik, atau kalau stola menggan-tikan kasula atau dalmatik (PUMR 336). Dengan kata lain, jika memakai kasula dan dalmatik, imam dan diakon harus memakai alba, bukan superpli. Jika hanya memakai stola, maka imam dan diakon boleh memakai superpli di atas jubahnya.

Singel, tali kesucian

Tali pengikat alba pada pinggang ini merupakan simbol nilai kemurnian hati (chastity) dan pengekangan diri. Biasanya berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya. Biasanya singel dipakai jika model alba membutuhkan-nya atau jika dipakai stola dalam (PUMR 336).

Busana khusus untuk yang ditahbiskan?

Ada beberapa busana liturgis khusus untuk petugas yang ditahbiskan (klerus), yang tidak boleh dikenakan atau bahkan ditiru untuk petugas liturgis awam. Unsur busana khusus itu adalah stola, kasula, dalmatik, dan velum. Selain mengenakan beberapa unsur di atas sebelumnya (amik, alba, singel), beberapa unsur berikut ini kemudian melengkapi penampilan seorang petugas yang ditahbiskan sesuai dengan kebutuhan perayaannya.

Stola, lambang penugasan resmi

  1. Stola adalah semacam selendang panjang; simbol bahwa yang mengenakannya sedang melaksana-kan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat).
  2. Stola melambang-kan otoritas atau kewenangan dalam pelayanan sakra-mental dan berkhot-bah. Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakan-nya, stola dimaknai sebagai simbol kekekalan.
  3. Warnanya sesuai dengan warna masa liturgi pada saat perayaan dilangsungkan.
  4. Stola hanya digunakan oleh diakon dan imam.
  5. Diakon memakainya menyilang, dari pundak kiri ke pinggang kanan.
  6. Imam memakainya dengan cara mengalungkannya di leher, dua ujung stola itu ke depan, dibiar-kan menggantung (PUMR 340).

Dulu (sebelum pembaruan liturgis 1970), cara ini hanya untuk uskup atau abas, pejabat yang biasanya mengenakan kalung salib (pektoral)—kalung salib semacam itu pun sebenarnya tidak perlu diperlihatkan di atas kasula, dalmatik, atau pluviale, tapi boleh di atas mozzetta (lihat CE/Caeremoniale Episcoporum 61). Sedangkan para imamnya dulu mengalungkan stola dan kemudian menyilangkannya di depan. Sekali lagi, baik imam maupun uskup sekarang boleh mengenakan stola dengan cara yang sama (CE 66).

Kasula, lambang cinta dan pengorbanan

  1. Kasula adalah busana khas untuk imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang dipakai untuk memimpin Perayaan Ekaristi.
  2. Kasula melambangkan keutamaan cinta kasih dan ketulusan untuk melak-sanakan tugas yang penuh pengorbanan diri bagi Tuhan.
  3. Warnanya sesuai dengan warna liturgi untuk perayaannya.
  4. Model kasula mengalami beberapa perubahan dan variasi. Dari yang panjang dan mewah banyak hiasannya, lalu yang tampak minimalis dengan lengannya seperti terpotong, sampai yang sederhana polos.
  5. Hingga saat ini setidaknya ada dua macam model atau cara pemakaian stolanya. Kasula dengan stola dalam berarti memakai stolanya di dalam, tertutup kasula. Kasula dengan stola luar berarti stolanya di atas kasula.

 

Dalmatik, untuk pelayanan Misa

  1. Dalmatik dikenakan setelah stola diakon.
  2. Ini adalah busana resmi diakon tatkala bertugas melayani dalam Misa/Perayaan Ekaristi, khususnya yang bersifat agung/meriah.
  3. Busana ini melambang-kan sukacita dan kebaha-giaan yang merupakan buah-buah dari pengab-diannya kepada Allah.
  4. Warna atau motif dalmatik disesuaikan dengan kasula imam yang dilayaninya pada waktu Misa. Bentuk dalmatik seolah mirip kasula, namun sebenarnya mempunyai pola berbeda. Biasanya ada beberapa garis menghiasinya.

 

V e l u m

  1. Velum adalah semacam kain putih/kuning/emas lebar yang dipakai pada punggung ketika membawa Sakramen Mahakudus dalam prosesi (ingat saat pemindahan Sakramen Mahakudus pada bagian akhir Misa Pengenangan Perjamuan Tuhan, Kamis Putih malam!) dan memberi berkat dengan Sakramen Mahakudus.
  2. Memang unsur busana ini tidak dipakai dalam Perayaan Ekaristi, namun sangat berkaitan dengan Sakramen Ekaristi, yakni dalam adorasi atau penghor-matan kepada Sakramen Mahakudus.
  3. Kain semacam itu biasanya dihiasi. Ada juga yang tanpa hiasan, namun dipakai untuk membawa tongkat gembala dan mitra uskup, ketika seorang uskup memimpin Perayaan Ekaristi meriah. Velum untuk tongkat dan mitra uskup itu biasanya berwarna putih saja.

 

P l u v I a l e

Ini semacam mantel panjang (Latin: pluvia = hujan) yang digunakan di luar Perayaan Ekaristi dan dalam perarakan liturgis, atau perayaan liturgis lain yang rubriknya menuntut digunakan busana itu (misalnya untuk liturgi pemberkatan). Kita bisa melihatnya—meski sudah jarang—jika imam mengenakannya dalam perarakan sebelum Misa Minggu Palma. Jenis busana ini memang tidak langsung berkaitan dengan Misa, tapi sering digunakan sebelum Misa itu sendiri.

Norma umum berbusana liturgi

  1. Baik Imam Selebran maupun Imam Konselebran mengenakan busana yang sama, kecuali jika sang Imam Selebran adalah seorang Uskup.
  2. Biasanya uskup mengenakan tanda-tanda lain yang tidak dimiliki imam biasa. Namun, pada beberapa tahap berbusana, sebenarnya ada norma tertentu yang berlaku untuk setiap petugas liturgis, khususnya pemimpin liturgis.
  3. Singkatnya, busana dasarnya adalah alba (yang putih!), sebelumnya bisa memakai amik (tertutup alba), dan sesudahnya bisa memakai singel.
  4.  Jika diakon, sesudah itu ia mengenakan stola, kemudian dalmatik.
  5. Jika imam, setelahnya memakai stola, lalu kasula; atau dapat juga langsung kasula, lalu stola luar. Seorang uskup agung (metropolis) juga mengenakan palium, semacam kalung dari kain keras, ada warna putih dan hitam, berikut beberapa simbol salib.
  6. Uskup biasa (sufragan) tidak mempunyai palium.
  7. Salib dada (pektoral) seorang uskup sebenarnya tidak dikeluarkan (CE 61), alias tidak tampak pada kasula, alias sebaiknya dicopot atau disembunyikan saja di balik kasula. Salib pektoral seorang uskup merupakan bagian dari pakaian (jubah) kesehariannya (termasuk di antaranya topi kecil [cappa magna] dan cincin).
  8. Salib semacam itu bukan bagian dari perlambangan busana liturgis, berbeda halnya dengan mitra dan tongkat gembala.

 

 

 

Busana untuk awam jangan sama dengan klerus

Mungkin kita pernah melihat bahwa seorang bapak pembagi komuni berbusana mirip seorang imam, dengan memakai “semacam stola”; atau mirip seorang uskup, lengkap dengan jubah putih dan singel ungu (karena masa Prapaskah atau Adven), beserta salib pektoralnya. Wow! Instruksi Redemptionis Sacramentum mengingatkan bahwa “umat awam tidak pernah boleh bertindak atau berbusana liturgis seperti seorang imam atau diakon, atau memakai busana yang mirip dengan busana dimaksud” (RS 152). Maksud larangan itu adalah untuk menghindari kerancuan simbolis, atau terutama untuk tidak mengaburkan apa yang menjadi tugas khas masing-masing (RS 151).

Maksud aneka warna busana liturgis

Peraturan tentang warna liturgis secara khusus berlaku untuk busana liturgis. Ada beraneka warna yang digunakan. Maksud keanekaragaman warna busana liturgis itu adalah [1] untuk secara lahiriah dan berhasil guna mengungkapkan ciri khas misteri iman yang dirayakan; [2] dan dalam kerangka tahun liturgi, untuk mengungkapkan makna tahap-tahap perkembangan dalam kehidupan kristen (PUMR 345).

 

Kapan menggunakan warna tertentu?

Warna-warna yang masih berlaku:

[1] Putih: untuk Masa Paskah, Natal, perayaan-perayaan Tuhan Yesus (kecuali peringatan sengsara-Nya), pesta Maria, para malaikat, orang kudus yang bukan martir, Hari Raya Se-mua Orang Kudus (1 November), kelahiran St. Yohanes Pembaptis (24 Juni), Pesta Yohanes Pengarang Injil (27 Desember), Pesta St. Petrus Rasul (22 Februari), dan Pesta Bertobatnya St. Paulus Rasul (25 Januari). Warna putih juga bisa dipakai untuk Misa Ritual (PUMR 347);

[2] Merah: untuk Minggu Palma, Jumat Agung, Minggu Pentakosta, perayaan Sengsara Tuhan, pesta para rasul dan pengarang Injil (kecuali Yohanes), perayaan para martir;

[3] Hijau: untuk Masa Biasa sepanjang tahun;

[4] Ungu: untuk Masa Adven dan Prapaskah, dan Liturgi Arwah;

[5] Hitam: untuk Misa Arwah, meskipun kini sudah jarang digunakan;

[6] Jingga: untuk hari Minggu Gaudete (Minggu Adven III) dan Laetare (Minggu Prapaskah IV), jika memang sudah biasa (PUMR 346).

Bisakah warna itu diganti?

Perubahan warna tertentu untuk perayaan khusus diizinkan juga. Ini biasa terjadi dalam konteks kultural tertentu yang mungkin memiliki konsep makna berbeda tentang warna. Namun, kewenangan untuk mengubah demi penyerasian kultural itu ada pada pihak Konferensi Uskup, yang kemudian perlu memberitahukannya kepada Takhta Apostolik (PUMR 346) sebelum memberlakukannya.

Bahan dan hiasannya?

  1. Biasanya busana liturgis itu terbuat dari kain, entah bahannya dari apa.
  2. Bahan apa saja memang boleh digu-nakan asal selaras dengan martabat perayaan liturgis dan cocok untuk keadaan pelayan liturgi yang mengenakan-nya (PUMR 343).
  3. Untuk daerah tropis seperti di Indonesia kiranya ada bahan-bahan yang lebih cocok.
  4. Tidak semua busana liturgis buatan luar negeri (Eropa atau Amerika, misalnya) nyaman dipakai untuk daerah-daerah di Indonesia. Bahkan, busana liturgis buatan dalam negeri pun juga tidak semuanya nyaman bagi orang kita.
  5. Maka, perlulah setiap daerah memertimbangkan sendiri jenis kain atau bahan yang cocok untuk daerahnya, agar busana liturgis tidak menjadi gangguan bagi yang memakainya. Itu dari sisi pemakainya (petugas liturgi).
  6. Sekarang perlu juga kita pertimbangkan dari sisi yang melihatnya, yaitu jemaat pada umumnya.
  7. Unsur keindahan dan keanggunannya sangat penting dan perlu diperhatikan. Keindahan dan keanggunan busana liturgis bukan ditentukan oleh banyak dan mewahnya hiasan, melainkan karena bahan dan bentuk potongannya.
  8. Juga bukan karena murah atau mahal harganya. Namun, juga jangan terlalu pelit untuk mengadakan busana yang membantu mencitrakan kekudusan ini.
  9. Hiasan yang berupa gambar atau lambang hendaknya juga sesuai dengan liturgi, khususnya Ekaristi (PUMR 344).
  10. Proporsi ornamen itu sebaiknya juga disesuaikan dengan interior atau bentuk bangunan gerejanya. Misalnya, untuk interior atau tata ruang gereja yang sudah meriah, mungkin tidak perlu lagi busana liturgi yang meriah atau ramai.
  11. Atau juga, busana liturgis bermotif batik-Jawa (atau motif tradisional lain) mungkin kurang sesuai jika dikenakan di dalam gereja yang bergaya gotik-Eropa, tapi lebih cocok dalam gereja yang bergaya joglo ala rumah Jawa (atau bergaya tradisional lainnya).

 

B. PERANTI LITURGIS

Peranti liturgis atau bejana kudus?

Peranti liturgis adalah perlengkapan yang dipakai dalam perayaan liturgi. Kali ini akan kita bahas beberapa peranti yang dipakai secara khusus dalam Perayaan Ekaristi. Secara khusus digunakan juga istilah “bejana kudus” (Latin: de sacris vasis, dalam PUMR Bab VI, III) untuk menyebut tempat hosti/Tubuh Kristus (patena, sibori, monstrans) dan tempat anggur/Darah Kristus (piala). Kita mengelompokkan “bejana kudus” sebagai bagian dari peranti liturgis untuk Misa, yang termasuk di antaranya purifikatori, palla, korporale, sendok, serta ampul dan lavabo.

 

Sibori dan Patena: tempat untuk hosti

  1. Kedua benda ini sebenarnya mempunyai fungsi yang sama, yakni untuk mewadahi hosti.
  2. Bedanya, sibori biasanya untuk mewadahi hosti-hosti kecil dalam jumlah banyak, sedangkan patena biasanya hanya untuk mewadahi hosti besar atau beberapa hosti saja
  3. Ada beragam model sibori. (a). Sibori sendiri sebenarnya berarti piala dari logam (Latin: cyborium). Maka, kini masih bisa kita jumpai bentuk sibori yang seperti piala untuk minum. Untuk membedakan dengan piala, biasanya sibori memiliki penutup di atasnya. Dulu masih ditambahi kain penutup yang berhiasan. Itu contoh sibori gaya lama.

(b). Sibori gaya baru lebih beragam. (1). Kebanyakan tak lagi berbentuk piala dan tak harus terbuat dari logam. (2).Ada yang terbuat dari keramik, gelas, atau bahkan kayu. Tentu tidak semba-rang bahan bisa dipakai. Konferensi Waligereja setempat dapat memutus-kan bahan apa saja yang dapat dipakai (PUMR 329). Yang harus diperhatikan adalah bagaimana benda itu dapat ditampilkan secara patut-layak-pantas, sebaik-nya juga dengan keindahan-nya yang tidak perlu lagi berlebihan. Maklumlah, yang akan diletakkan di dalamnya kan Tubuh Kristus sendiri (3). Tempat lainnya dikenal juga sebagai pyxis. Berbentuk kecil, untuk beberapa hosti saja, yang digunakan untuk mengantar Sakramen  Mahakudus kepada orang sakit (viatikum

 

Patena di atas piala: masih perlukah?

  1. Patena yang berarti piring (bahasa Latin) itu biasanya berbentuk tipis datar. Maka seringkali menjadi bagian dari piala dan diletakkan di atas piala.
  2. Bahannya sama dengan piala sehingga tampak serasi. Kini, patena yang model tipis begitu sebaiknya tidak lagi digunakan.
  3. Mengapa? Karena kita lebih membu-tuhkan tempat hosti yang dapat dilihat jemaat. Maka, sebaiknya hosti besar itu dijadikan satu dengan hosti-hosti kecil lainnya dalam sibori.

 

Piala atau cawan: tempat untuk anggur

  1. Umumnya kita lebih sering menyebut tempat anggur itu sebagai piala daripada cawan. Kalau mau mengikuti bahasa Latin bisa juga, yakni calix.
  2. Piala semacam itu mempunyai nilai simbolis lebih kuat daripada sibori, tempat hosti/roti.
  3. Piala yang dipakai dalam Liturgi Ekaristi itu adalah simbol piala kesengsaraan Kristus, tempat kurban ilahi, seperti diucapkan Yesus dalam Perjamuan Malam Terakhir-Nya. Jadi, piala itu disetarakan dengan penderitaan Kristus (“…ya Bapa, ambillah cawan ini daripada-Ku”, Mrk 14:36). Darah Kristus yang dilambangkan dengan anggur dituangkan di dalamnya.
  4. Maka, sudah selayaknya bila bentuk fisik piala pun dibuat sedemikian rupa sehingga tetap menjaga nilai tinggi dari yang dimuatnya.
  5. Bentuk dan bahan untuk membuat piala bisa beraneka. Yang penting, jangan sampai anggur yang diwadahi tercemari oleh bahan baku untuk piala itu.
  6. Makanya, biasanya lapisan emas yang cukup diperlukan untuk piala yang terbuat dari logam supaya anggurnya tidak bercampur dengan bahan logam itu. Kalau tercampur, wah rasanya amat tidak enak karena rasa logamnya seperti menempel di mulut….

 

Kualitas khusus untuk bejana kudus

  1. Instruksi Redemptionis Sacramentum (RS 116) secara tegas tidak menyetujui “penggunaan bejana-bejana biasa atau bejana yang tidak bermutu atau tidak mempunyai nilai estetis apa pun atau yang berupa hanya penampung, dan juga bejana-bejana yang dibuat dari kaca, tanah liat, atau bahan lain yang mudah pecah”.
  2. Anjuran ini mau menjaga kesucian benda-benda itu, sekaligus menjaga “perasaan religius” umat beriman.
  3. Bayangkanlah jika tiba-tiba ada kecelakaan kecil sehingga bejana kudus yang terbuat dari bahan yang bisa pecah itu sungguh pecah ketika sedang digunakan dalam Misa.

 

Purifikatori, palla, korporale, dan sendok

    1. Purifikatori adalah semacam lap putih pembersih untuk piala, sibori, patena.
    2. Palla adalah kain keras putih persegi empat untuk menutupi piala dari kemungkinan masuknya kotoran.
    3. Sedangkan korporale merupakan semacam kain taplak putih untuk alas piala dan sibori/patena. Pada ketiga benda itu biasanya diterakan sebuah salib kecil.
    4. Sebelum digunakan ketiga benda ini biasanya diletakkan pada piala.
    5. Urutan meletakkannya adalah (1). purifikatori, (2). patena (jika dipakai!), (3).palla, (4).korporale.
    6. Dulu, setelah purifikatori, sering juga dimasukkan sendok kecil yang dipakai untuk menciduk air dan mencampurkannya dengan anggur ke dalam piala.
    7. Mungkin penggunaan sendok kecil masih dapat kita jumpai pada zaman sekarang. Namun, sudah banyak imam yang tidak lagi menggunakan sendok kecil semacam itu dan langsung menuangkan sedikit air ke dalam piala yang sudah berisi anggur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cara menatanya:

  1. Ampul, tempat anggur dan air
  2. Anggur dan air yang diperlukan untuk Liturgi Ekaristi dibawa dalam ampul.
  3. Ampul adalah dua bejana atau semacam cangkir, yang satu berisi anggur dan yang satunya berisi air matang. Biasanya, masing-masing ampul itu diberi tanda, entah tulisan atau gambar anggur dan air. Ampul yang berisi anggur (bisa juga dengan yang berisi air) inilah yang semestinya dibawa mendampingi sibori yang berisi hosti dalam perarakan persembahan.
  4.  Tempat untuk cuci tangan Imam Selebran ini bisa beraneka pula bentuknya.
  5. Biasanya berupa bejana atau kini sudah lazim dalam rupa mangkuk. Bahannya macam-macam, ada yang dari logam, keramik, atau gelas.
  6. Yang penting bisa menampung air bersih, tidak perlu air matang. Sebuah serbet atau handuk kecil biasanya menemani lavabo untuk mengelap/ mengeringkan tangan. Lavabo (Latin lavare = mencuci, membasuh, membersihkan) digunakan jika memang diperlukan, khususnya dalam persiapan persembahan

 

Monstrans

  1. Meskipun tidak langsung dipakai dalam Perayaan Ekaristi, monstrans (Latin: monstrare = menunjuk-kan, memperlihatkan) berkaitan erat dengan Sakramen Ekaristi.
  2. Benda agung dan indah yang berkaca itu dipakai untuk menunjukkan Tubuh Kristus dalam rupa hosti besar yang digunakan untuk adorasi atau penghormatan kepada Sakramen Mahakudus.

 

Pedupaan

  1. Pedupaan digunakan untuk menambah suasana kemeriahan dalam Pera-yaan Ekaristi. Kepulan asap dan aromanya mem-bawa umat ke alam surga-wi.
  2. Bahkan bunyi rantai dan gemercing lonceng-lonceng kecil yang meng-hiasi pedupaan itu juga menambah suasana mistis, sakral.

 

thomas_renwarin_osc@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: