Liturgi Dan seni Pst harimanto (Bahan Kuliah)

LITURGI SUCI DAN SENI

Seni-seni liturgis adalah  unsur-unsur komplementer liturgi dan sumber- sumber komple-menter untuk  teologi liturgi.

Maka:

– Semua unsur seni mendukung dan meningkatkan bagaimana Sabda, simbol, dan eukologi (= unsur-unsur konstitutif liturgi) diungkapkan dan dialami dalam liturgi.

–         Penggunaan seni dalam liturgi jangan dimengerti sebatas utilitarian dan fungsional belaka.

–         Daya ekspresif dan emosional seni mendukung teralaminya suatu tindakan kesatuan ilahi.

Kegiatan liturgi sebenarnya bukan cuma menggunakan seni tapi ADALAH suatu seni juga (~ dialog dengan Allah dalam bentuk sim-bolis!). Hal yang baik    (bonum), benar (verum),                                dan indah (pulchrum)   merupakan unsur-unsur   esensial yang menjadi                                  kriteria untuk menilai  segala tentang liturgi.

Seni liturgi merupakan konteks yang memfasilitasi bagaimana Sabda, simbol, dan eukologi dapat dialami. Melalui seni itu kita dapat diundang kepada pengalaman istimewa akan transendensi dan imanensi Allah. Pengalaman artistik akan menyentuh jemaat. Ibadat yang efektif hanya mungkin melalui hal yang afektif.

SENI DAN PENGALAMAN ESTETIS

 

Kebenaran yang ditampil-kan karya seni tidak bisa ditangkap hanya dengan  penalaran, melainkan terutama dengan kepekaan perasaan dan imajinasi.

Sebab akhirnya kebenaran yang tampil dari karya seni banyak berkaitan dengan                                         misteri, misteri  kehidupan dan diri,misteri yang selalu  saja ada di balik  pengalaman manusia, misteri yang umum-nya sulit dipahami                                    penalaran, namun  dialami dan dirasakan.

Pengalaman estetis adalah  pengalaman yang terjadi saat menikmati  karya seni. Sifatnya mirip dengan pengalaman saat kita sedang “bermain”, baik bermain pasir (yang bebas tanpa aturan) maupun bermain bola (yang ketat beraturan).

 

Bermain berarti:

–         Ekspresi dan interaksi total:    Diri kita terlibat di dalamnya sepenuh hati dengan imajinasi, nalar, dan perasaan. 

–         Kita bersungguh-sungguh, serentak (sesudahnya) sadar juga bahwa itu “hanya” permainan. 

Kita menangkap dan memahami sesuatu bukan dengan meng-ambil jarak dan menganalisis-nya (rasional, teknis!), melain-kan dengan  masuk ke dalam-nya, menyatu dan menikmatinya (emosional, imajinatif).

–         Ada tegangan antara krea-tivitas pribadi dan ketaatan pada aturan (seperti dalam bermain bola).

SENI DALAM LITURGI

Karena liturgi adalah pengalaman  pergaulan dengan simbol, maka pola pengalaman ini sama dengan pola pengalaman estetis. Sisi-sisi penting dan misterius dari kebenaran ilahi dan hidup kita bisa tampil hanya bila kita terlibat total dan menenggelam-kan diri di dalamnya dengan perasaan, imajinasi, dan pikiran.

Simbol-simbol dalam liturgi pun hanya efektif dalam menampilkan makna  bila  mutu seninya tinggi, yaitu bila daya rangsangnya bagi imajinasi, perasaan, dan pikiran  kuat. Maka pada titik ini terlihat bahwa seni  dalam liturgi  bukan hanya dekorasi, melainkan  energi vital  yang menentukan  efektif atau tidaknya perayaan liturgi itu.

 

Konsekuensinya  segala hal    dalam liturgi perlu digarap                                                         dari sudut seni. Dari  benda-benda yang digunakan, kata                                                                                               yang diucapkan,sampai berbagai  gerakan yang diperagakan tidak bisa sembarangan, perlu disiasati dan ”dimainkan” dengan kepeka-an estetis tinggi.

Artinya: semua itu perlu tampil indah, tapi juga efektif, imaji-natif, dan komunikatif, dalam menghadirkan kenyataan ilahi serentak dalam merogoh keda-laman pengalaman manusiawi dan menyampaikannya pada perasaan, pikiran, dan imajinasi

PRINSIP SENI LITURGI

  1. Glorificatio (pemuliaan Allah)  dan Sanctificatio (pengudusan manusia)
  2. Participatio actuosa (aktif, sadar, berbuah)
  3. Nobilia simpliciter (keseder-hanaan yang anggun)

 

UNSUR SENI LITURGI

  1. TATA RUANG (arsitektur, dekorasi)
  2. TATA GERAK (pelayan tertahbis-tak tertahbis, jemaat)
  3. TATA KATA (bacaan, doa, rubrik)
  4. TATA SUARA (syair, melodi, alat musik keheningan: epiklesis, refleksi, saat peralihan)
  5. BUSANA DAN PERANTI (simbol-simbol material)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: